Wanita Norwegia Jatuh Cinta Pada Tentara Jerman: Dianggap Penghianat Lalu Dikirim ke Kamp Interniran

Beberapa wanita merasa tidak perlu perlindungan terhadap kebencian publik dan mereka mampu mengatasinya meski tanpa dikirim ke interniran.

Wanita Norwegia Jatuh Cinta Pada Tentara Jerman: Dianggap Penghianat Lalu Dikirim ke Kamp Interniran
Nasib wanita Norwegia yang pernah menjalin hubungan dengan Jerman 

SERAMBINEWS.COM - Sementara sebagian besar orang Norwegia merayakan Kebebasan Norwegia pada tahun 1945, ada sekitar lima ribu wanita Norwegia dikirim ke kamp interniran di sekitar Norwegia hingga 120 hari.

Mereka disebut 'gadis Jerman' atau 'Pelacur Jerman' karena telah terlibat dengan tentara Jerman atau bekerja untuk Jerman selama perang, bahkan jika hanya menjadi tukang bersih-bersih atau penjahit.

Beberapa wanita ini telah membawa kekasih Jerman saat Nazi menduduki Norwegia, tetapi sebenarnya banyak lagi yang tidak melakukan hal semacam itu.

Pemerintah membenarkan pengiriman para wanita ke kamp interniran sebagai cara untuk melindungi mereka.

Baca: Miliki IQ 145, Bocah 8 Tahun Asal Belgia Ini Sudah Lulus SMA dan Siap Masuk Kuliah

Baca: Viral, Bocah 14 Tahun Penggemar Berat Cristiano Ronaldo Dengan Kamar Penuh Poster Idola

Hal itu dikarenakan masyarakat sering menyeret wanita-wanita tersebut ke jalanan untuk mencukur rambut mereka.

Para wanita tidak hanya dihukum oleh masyarakat umum yang memotong rambut mereka, mengambil pekerjaan mereka dan mengasingkan mereka dari masyarakat Norwegia, mereka juga dihukum oleh otoritas Norwegia.

Interniran atau sejenis penjara dianggap resmi dan legal yang digunakan untuk melindungi para wanita ini terhadap kebencian rakyat dan upaya mencegah penyakit seksual menular.

Orang-orang marah karena para wanita itu terlalu dekat dengan Jerman, ada kebencian publik yang kuat terhadap mereka dan pihak berwenang merasa harus melakukan sesuatu.

Baca: Kabar Baik Pengguna Xiaomi, Juli 2018 Ini Ada 25 Ponsel Xiaomi yang Menerima Update MIUI 10

Selain itu, pihak berwenang juga khawatir tentang penularan penyakit seksual di kalangan pelacur yang telah melakukan kontak dengan banyak tentara Jerman selama pendudukan.

Menurut peneliti Denmark, Anette Warring, seksualitas perempuan menjadi properti nasional dan maskulin selama masa perang dan seksualitas diberikan nilai simbolis tertentu.

Halaman
12
Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved