H Firmandez Perjuangkan Legitimasi Rimba Raya Sebagai Monumen Perjuangan Nasional

KOORDINATOR Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh di DPR-RI, H Firmandez, meminta pemerintah pusat

KOORDINATOR Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh di DPR-RI, H Firmandez, meminta pemerintah pusat untuk melegitimasi keberadaan tugu Radio Rimba Raya sebagai salah satu monumen perjuangan nasional.

Pasalnya, saat-saat Republik Indonesia berada dalam titik nadir, siaran Radio Rimba Raya mampu mematahkan klaim Belanda terhadap penguasaan kembali Indonesia. Upaya Belanda untuk melanjutan kolonialis di nusantara pun gagal.

Memang saat itu semua wilayah Indonesia sudahdiduduki kembali oleh Belanda, kecuali Aceh. “Radio Rimba Raya mengudara mengabarkan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada, sehingga klaim Belandabisa dipatahkan”, ungkap H Firmandez.

Karena itu, lanjut anggotaDPR RI dari Daerah Pemilihan (dapil) Aceh 2 ini, keberadaan tugu Radio Rimba Raya harus diperjuangkan untuk menjadi salah satu monumen perjuangan nasional.“Radio Rimba Raya mematahkan klaim Belanda pada 19 Desember 1948.

Ini salah satu faktor yang membuat Presiden Soekarno menyatakan Aceh sebagai Daerah Modal”, lanjut Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Golkar tersebut. H Firmandez menegaskan, ia akan memperjuangkan hal itu bersama-sama dengan seluruh komponen masyarakat, terutama masyarakat Bener Meriah.

“Ini salah salah satu fragmen sejarah besar bangsa Indonesia, jadi harus ada legitimasinya dari Pemerintah Pusat, harus dicatat dalam lembaran negara, termasuk dengan orangorang yang terlibat dalam pengadaan dan operasi radio Rimba Raya tersebut”, tegas H Firmandez.

Seminar Radio Rimba Raya yang digelar Pemkab Bener Meriahdiharapkan bisa melahirkan rekomendasi yang akan disampaikan kepada pemerintah, baik pemerintah Aceh maupun pemerintahPusat terkait dengan upaya untuk memperoleh legitimasi tugu Radio Rimba Raya sebagai salah satu monumen perjuangannasional. Sejalan dengan upaya merevitalisasi nilai-nilai sejarah perjuangan Radio Rimba Raya, H Firmandez juga meminta pemerintah untuk membangun museum kopi dan sejarah Rimba Raya, Bener Meriah.

Untuk membangun museum sejarah Radio Rimba Raya, terlebih dahulu harus dilakukanpengkajian tentang orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mulai dari John Lie alias Yahya Daniel yang menyelundup perangkat radio itu dari Singapura ke KualaYu, Aceh Tamiang, pasukan Nukum Sanani yang memobilisasinya ke Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, hinggakemudian berakhir di Rimba Raya.

Informasi tentang merekamerekaitu harus diabadikan, kemudian perangkat radio RimbaRaya juga harus ditelusuri keberadaannya sekarang di mana. “Nanti dipajangkan di museum lengkap dengan alat-alat senjata pada masa perjuangan dulu, sehingga museum ini menjadi tempat edukasi sejarah” , jelas H Firmandez.

Masih menurut H Firmandez,keberadaan museum kopi dan sejarah radio Rimba Raya diyakini nantinya memiliki menjadi daya tarik sendiri, sehingga akan menjadi destinasi wisata baru di Bener Meriah. “Ini akan kita perjuangkan ke pemerintah pusat”, pungkas H Firmandez.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved