Breaking News:

Perang Dagang AS-China Dimulai Besok, Bagaimana Nasib Rupiah

Terhitung hampir dua bulan, BI telah menaikkan bunga sebesar 100 basis points (bps) menjadi 5,25%.

Editor: Muhammad Hadi
Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, berbicara dalam forum ekonomi. Keduanya menyepakati perdagangan senilai 250 miliar dolar AS atau Rp 3.379 triliun (9/11/2017).(Fred Dufour/AFP) 

SERAMBINEWS.COM - Nilai tukar rupiah terus merosot belakangan ini. 

Namun, bagaimana nasib rupiah selanjutnya di tengah sentimen eksternal.

Perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat (AS) dan China akan dimulai Jumat (6/7/2018) besok.

AS yang menerapkan kebijakan tarif impor barang-barang dari China hingga senilai US$ 34 miliar akan menjadi sentimen utama pergerakan nilai tukar rupiah.

Baca: Mobil Ferrari Seharga Miliaran Rupiah Hancur Sesaat Setelah Keluar Dari Diler, Dikemudi Wanita

Sebab hal ini akan menjadi ketidakpastian baru, selain normalisasi kebijakan moneter AS (The Fed).

"Makanya, kami melihat BI pun masih ada ruang menaikkan lagi suku bunga acuan," kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Kontan.co.id, Kamis (5/7/2018).

Terhitung hampir dua bulan, BI telah menaikkan bunga sebesar 100 basis points (bps) menjadi 5,25%.

Ia menilai, pergerakan nilai tukar rupiah yang saat ini masih di atas Rp 14.000 per dollar AS sulit menguat ke bawah Rp 13.900 per dollar AS karena tekanan trade war tersebut.

Jika nilai tukar rupiah bergerak melemah mendekati Rp 14.500 per dollar AS setelah trade war besok, maka BI perlu memprioritaskan stabilitas kurs rupiah.

"Kalau memang rupiah masih terus melemah mendekati Rp 14.500 per dollar AS, ada potensi BI naikkan kembali 25 bps di bulan ini," tambahnya.

Baca: Rupiah Kembali Anjlok ke Level Rp 14.090 per Dollar AS

Sebaliknya, jika setelah trade war besok pergerakan nilai tukar rupiah dalam batas yang normal.

Josua melihat peluang BI menaikkan bunga acuannya di Agustus mendatang.

Tentu saja sambil melihat respon pasar terhadap rilis data defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2018.

Perkiraannya, CAD kuartal kedua akan melebar ke atas 2,5% dari produk domestik bruto (PDB).

"Timingnya (kenaikan bunga acuan BI) yang pas di Agustus," tandasnya.(*)

Baca: Uang Rp 30 Miliar Pun Ikut Melayang, Bagaimana Pembayaran Gaji ASN?

Berita ini sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Jika rupiah melemah setelah perang dagang, BI bisa naikkan bunga lagi

Sumber: Kontan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved