Breaking News:

Opini

Tuah ‘Pemain Pengganti’

DALAM sepakbola, kemenangan sebuah kesebelasan seringkali bukan andil pemain yang berstatus starting XI

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Mendagri Tjahjo Kumolo, menyerahkan surat tugas kepada Nova Iriansyah sebagai Plt Gubernur Aceh, dan Tgk Syarkawi sebagai Plt Bupati Bener Meriah, di Kemendagri Jakarta, Senin (9/7/2018). 

Dengan kasus yang menimpa Irwandi dan Ahmadi ini saja bisa dibayangkan berapa banyak kebijakan publik yang seharusnya diambil oleh mereka secara langsung atau yang memerlukan kontribusinya secara langsung akan terkendala dan tertunda, padahal satu tanda tangannya mempertaruhkan jutaan perut rakyatnya. Inilah sebabnya mekanisme harus berjalan sesuai dengan ketentuan yang ada.

Artinya, sistem yang telah ditata sedemikian rupa adalah bentuk independensi sistem yang menihilkan ketergantungan pada individu sebagaimana dalam sistem monarkhi. Karenanya, siapa pun yang dipercayakan menduduki suatu jabatan, haruslah sepenuh hati. Sebab, kapan pun dia berhalangan yang membuatnya tidak mungkin memainkan perannya, maka detik itu pula sudah ada orang lain yang siap menggantikannya. Ibarat pepatah “mati satu tumbuh seribu”.

Semakin tinggi dan penting sebuah peran, maka untuk mengisinya saja memerlukan proses yang tidak sembarangan. Begitu pentingnya peran itu, pemerannya diseleksi melalui proses yang ketat dan kompetisi yang disebut dengan pemilihan umum (pemilu). Proses pemilu baik untuk memilih peran eksekutif dan peran legislatif menghabiskan banyak hal; membutuhkan energi, dana, waktu, tenaga dan pikiran yang sangat besar. Belum lagi social cost yang habis manakala terjadi konflik yang tidak jarang memakan korban jiwa; semuanya semata-mata untuk mengisi sebuah peran. Alangkah ruginya jika kemudian sebuah peran tidak dimainkan dengan sepenuh hati.

Presiden, gubernur, dan bupati adalah peran-peran penting dan puncak dalam level organisasi negara. Mereka yang terpilih untuk menjalankan peran itu haruslah dianggap sebagai orang yang paling siap dari sisi apa pun. Begitu seseorang dilantik untuk sebuah peran atau jabatan maka seseorang harus total mengerahkan tenaga, pikiran dan waktu untuk jabatannya itu.

Tumpuan ekspektasi
Sama halnya dengan kapten dalam tim sepakbola maka haruslah dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sebuah tim yang akan menjadi tumpuan permainan; dan pada saat yang sama ia adalah tumpuan ekspektasi dan harapan dari supporter, penonton atau masyarakat. Karena itulah, siapa pun yang memerankan peran-peran penting, maka ia hanya memiliki persentase waktu yang sangat sedikit untuk dirinya dan golongannya, dan sebaliknya persentase waktu yang banyak dan besar untuk perannya.

Gol adalah hal yang paling ditunggu dengan harap-harap cemas oleh supporter. Bahkan seorang Maradona rela ambruk demi menunggu kemenangan tim kesayangannya. Sebuah gol tentu saja lahir dari satu skema serangan yang dirancang secara apik yang melibatkan kerja sama lintas posisi dan lintas sektor. Skema serangan seringkali gagal membuahkan gol, jika pengisi posisi tertentu tidak becus menjalankan tugas; indikasinya setiap bola yang dikuasainya selalu berhasil direbut lawan.

Seorang pelatih yang cermat yang terus memelototi pemainnya dari pinggir lapangan tau betul siapa pemain yang bertingkah yang membuat permainan menjadi rusak. Dia hanya perlu waktu yang tepat untuk menarik si pemain dari tengah lapangan. Adalah lazim semua pemain yang berstatus lining-up akan berat hati, bahkan marah-marah ketika ditarik dari permainan. Gol dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan adalah keterlaksanaan berbagai program untuk merealisasikan visi dan misi sesuai janji politik.

Tentu tidaklah nyaman berstatus sebagai “ban serep”, karena itu yang ditunggu oleh setiap pemain pengganti adalah kesempatan. Sesingkat apa pun kesempatan yang diberikan amatlah berharga. Jangan salah, ada banyak kelebihan pemain pengganti yang berpotensi membuatnya lebih berhasil dari pemain utama: Pertama, pemain pengganti hakikatnya adalah pengamat yang jitu. Lihatlah para substitusi di sepakbola, dari bench pemain matanya terus memelototi jalannya pertandingan. Analisisnya jalan dan dia sampai pada simpulan-simpulan tertentu yang akan ia lakukan manakala dapat kesempatan.

Kedua, pemain pengganti energinya masih tersimpan, ia hanya perlu pemanasan untuk bisa beradaptasi manakala diberi kesempatan. Dengan tenaga yang masih segar ia bisa langsung tancap gas. Dan, ketiga, setiap pemain pengganti tidaklah berada dalam zona nyaman, dia butuh pembuktian dan ini membangkitkan adrenalin untuk bersaing; hal yang sangat lumrah bagi siapa pun dan dan dalam dunia apa pun. Artinya, pemain pengganti hakikatnya siap secara fisik dan mental.

Dalam politik, posisi wakil yang oleh sistem dipersiapkan untuk menjadi pemain pengganti, juga merupakan orang yang terus mengamati jalannya proses sepanjang waktu. Dalam semua kegiatan pemerintahan kapasitasnya hanya membantu kepala daerah; namun dalam kapasitas itu tentu merupakan proses pengamatan yang intensif, sekaligus mengalami langsung atmosfer pemerintahan mulai dari persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved