Breaking News:

Hendak Ziarahi Makam P Ramlee, Dua Warga Lhokseumawe Ditahan

Dua pemuda Lhokseumawe ditangkap petugas imigrasi Bandara Kuala Lumpur, Malaysia dan sempat ditahan

ist
Dua pria asal Lhokseumawe, satu diantaranya kemenakan P Ramlee ditangkap petugas imigrasi di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia pada Senin (11/7) sekitar pukul 21.00 WIB. 

LHOKSEUMAWE - Dua pemuda Lhokseumawe ditangkap petugas imigrasi Bandara Kuala Lumpur, Malaysia dan sempat ditahan selama dua malam sebelum akhirnya dideportasi ke negara asal, Indonesia. Penangkapan dan penahanan kedua warga asal Lhokseumawe tersebut ketika mereka hendak berziarah ke makam P Ramlee, penyanyi legendaris asal Aceh yang namanya melambung di negeri jiran tersebut.

Kedua pemuda asal Lhokseumawe yang berurusan dengan imigrasi Malaysia tersebut berasal dari Desa Alue, Kecamatan Muara Dua yaitu Affandi bin Abdullah (29/keponakan P Ramlee) dan Saiful Bahri (39) sebagai pendamping perjalanan.

Affandi dan Saiful mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Senin (11/7) sekitar pukul 21.00 WIB. “Kami berangkat ke Malaysia melalui Bandara Kualanamu, Sumatera Utara pada 11 Juli 2018,” kata Affandi.

Setiba di KLIA, keduanya diperiksa petugas imigrasi. Petugas menanyakan tujuan ke Malaysia. Mereka menyebutkan hendak ziarah ke Makam P Ramlee dan minta waktu (izin tinggal) 28 hari. “Sebab selain berziarah ke makam, kami hendak mencari museum dan keluarga P Ramlee,” ujar Affandi mengutip penjelasannya kepada petugas imigrasi.

Menurut Affandi, dirinya memang sangat berniat berziarah ke makam P Ramlee. Bahkan dia membawa mushaf untuk membaca surah Yaasin di makam penyanyi terkenal itu.

Sebelum berangkat, Affandi sudah mempersiapkan berbagai dokumen seperti silsilah P Ramlee, rekomendasi dari keuchik dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lhokseumawe yang menyatakan dirinya adalah famili dari P Ramlee. Namun, petugas imigrasi hanya memberi waktu satu hari. Lalu, Saiful Bahri memohon waktu lima hari. Sebab kalau hanya satu hari tidak akan cukup untuk berziarah dan mencari keluarga. “Akhirnya petugas imigrasi meminta kami membeli tiket pulang dengan jadwal 15 Juli,” katanya.

Setelah membeli tiket pulang, Affandi bersama rekannya, Saiful Bahri menunggu di ruang imigrasi untuk proses berziarah. “Tiba-tiba salah satu petugas memanggil kami untuk masuk lokap (tempat penahanan). Kemudian mereka menyita HP dan tas kami. Lalu kami dimasukkan ke dalam tahanan, tanpa penjelasan,” ujar Affandi.

Keduanya baru dikeluarkan, Jumat 13 Juli 2018 sekitar pukul 04.00 WIB kemudian langsung dideportasi (dipulangkan) dari KLIA ke Kualanamu. “Tiket yang kami beli untuk pulang 7 Agustus dan 15 Juli tak bisa kami gunakan (hangus),” katanya.

Temui anggota DPD
Setiba di Lhokseumawe, Sabtu 14 Juli 2018 pukul 02.00 WIB, Affandi dan Saiful menemui anggota DPD RI, Sudirman alias Haji Uma di kediamannya di Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe. “Kami berharap Haji Uma bisa membantu mencarikan solusi sehingga niat kami untuk berziarah ke Makam P Ramlee bisa terlaksana,” katanya.

Sudirman alias Haji Uma yang ditanyai Serambi membenarkan sudah menerima laporan permasalahan yang disampaikan Affandi dan Saiful Bahri. Lalu, Haji Uma menghubungi Kepala BP3 TKI Aceh melaporkan apa yang dialami kedua warga asal Lhokseumawe.

“Seharusnya keduanya menjadi tamu Kerajaan Malaysia karena P Ramlee adalah warga Aceh yang sudah menjadi tokoh terkenal di Malaysia. Namun keduanya ditangkap tanpa ada penjelasan. Saya minta BP3 TKI Aceh untuk mengkomunikasikan persoalan tersebut,” demikian Haji Uma.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved