Peran Bahasa Daerah Sebagai Pemerkaya Istilah

Peradaban manusia hakikatnya adalah kumpulan konsep-konsep: konsep tentang pengetahuan, konsep tentang gaya

Peran Bahasa Daerah Sebagai Pemerkaya Istilah
DOK.SERAMBINEWS.COM
Kain sarung dengan label berbahasa Aceh. 

Oleh Mohammad Rizqi

Peradaban manusia hakikatnya adalah kumpulan konsep-konsep: konsep tentang pengetahuan, konsep tentang gaya hidup, konsep tentang religi dsb. Konsep-konsep itu diwujudkan dalam bentuk kata-kata (bahasa). Sebagai dua sisi mata uang, konsep (peradaban) dan kata (bahasa) haruslah dibangun dengan alur pikir yang seimbang dan sepadan.

Dengan demikian, peradaban yang maju harus disampaikan dalam wujud bahasa yang modern pula. Hal itu yangbelum tampak pada dwisanding peradaban dan bahasa dalam pengembangan bahasa Indonesia. Secara konsep (peradaban), bangsa Indonesia telah banyak mengalami kemajuan, utamanya di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Namun, hal itu tidak diimbangi oleh kemajuan di bidang peristilahan bidang ilmu.

Akibatnya, bahasa Indonesia kebanjiran istilah asing karena jumlah konsep (yang datang dari luar) dan jumlah istilah (dalam bahasa Indonesia) tidak sebanding. Jumlah bahasa daerah di Indonesia yang mencapai 700-an mestinya dapat menjadi sumber istilah baru. Bahasa Arab menjadi sumber serapan ungkapan, terutama dalam bidang agama Islam.

Kata rela (senang hati) dan korban (yang menderita akibat suatu kejadian), misalnya, yang sudah disesuaikan lafalnya ke dalam bahasa Melayu pada zamannya dan yang kemudian juga mengalami pergeseran makna, masing-masing adalah kata yang seasal dengan rida (berkenan) dan kurban (persembahan kepada Tuhan). Bahkan, akhir-akhir ini kata seperti kalbu/qolbu diperbincangkan banyak kalangan karena memang dalam bahasa Arab dikenal dua bentuk kalbun ‘anjing’ dan qolbun ‘hati’, meskipun bentuk yang pertama itu tidak pernah dipakai secara luas oleh masyarakat dari sisi konsepnya.

Sebelum Ch. A. van Ophuijsen menerbitkansistem ejaan untuk bahasa Melayu pada tahun 1910, cara menulis tidak menjadi pertimbangan penyesuaian kata serapan. Umumnya kata serapan disesuaikan pada lafalnya saja. Hal inilah salah salah satu penyebab mengapa ada kesemrawutan di dalam penyerapan kosakata/istilah dalam bahasa Indonesia saat ini. Kata serapan dari bahasa Inggris ke dalamkosakata Indonesia umumnya terjadi pada zaman kemerdekaan Indonesia, tetapi ada juga katakata Inggris yang sudah dikenal, diserap, dan disesuaikan pelafalannya ke dalam bahasa Melayu sejak zaman Belanda yang pada saat Inggris berkoloni di Indonesia pada masa penjajajahan Belanda.

Kata-kata itu seperti badminton, kiper, gol, bridge adalah beberapa contohnya. Sesudah Indonesia merdeka, pengaruh bahasa Belanda mula surut sehingga kata-kata serapan yang sebetulnya berasal dari bahasa Belanda sumbernya tidak disadari betul. Bahkan, sampai dengan sekarang yang lebih dikenal adalah bahasa Inggris. Karena alasan itu pula, banyak orang yang “memaksakan” untuk mengubah kata telepon menjadi telefon dengan beranalogi pada kata-kata phase, phrase menjadi fase, frase/frasa.

Padahal, kata telepon sebenarnya diserap dari bahasa Belanda telefoon, yang pada saat itu memang lazim /f/ berubah jadi /p/, seperti pada , pailit dari failliet (Bld), pabrik dari fabriek (Bld), pelopor dari voorloper (Bld), preman dari vrijman (Bld) pelek dari velg (Bld), federal dari federaal (Bld), paham dari fahm(Arb), pakat (sepakat) dari muwaafaqa (Arb), uskup dari usquf (Arb), pasal dari fasl (Arb), peduli dari fuduulii (Arb) (Jones, 2008).

Pada Pedoman Umum PengindonesianIstilah yang lama (1991), istilah asing yang masuk dalam bahasa Indonesia harus melalui tiga tahapan. Pertama, jika istilah asing itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia, istilah itu akan dipadankan dengan bahasa Indonesia, misalnya istilah sophisticated dipadankan dengan canggih, istilah incumbent dipadankan denganpetahana, istilah laptop dipadankan dengan komputer jinjing.

Kedua, jika istilah asing itu tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, istilah itu akan dipadankan dengan bahasa daerah atau bahasa serumpun, misalnya istilah upload dipadankan dengan unggah (Jawa), istilah pain dipadankan dengan nyeri (Sunda), istilah ex dipadankan dengan mantan (Basemah), istilah monitoring dipadankan dengan pemantauan (Minang), supporter sepak bola dipadankan dengan bobotoh (Sunda), istilah peat dipadankan dengan gambut (Banjar).

Ketiga, jika istilah asing itu tidak ada padanannya dalam bahasa daerah, istilah itu kita ambil/serap dengan penyesuaian ejaan dan lafalnya, misalnya istilah computer diserap menjadi komputer, istilah mall diserap menjadi mal, istilah radar diserap menjadi radar. Yang tampak di masyarakat berkaitan dengan problem peristilahan ini adalah ada kesenjangan, apa yang terjadi/dipakai oleh masyarakat berbeda dengan apa yang seharusnya menurut kaidah. Untuk menjawab persoalan itu, perlu disampaikan fakta kebahasaan bahwa ternyata kaidah bahasa tunduk pada kaidah pragmatis-praktis (kaidah/nilai-nilai sosial dan politik).

Sebagai contoh, saya sampaikan sejarah mengapa dipilih kata universitas, bukanuniversiti (dari university, bahasa Inggris) atau universitet (dari universiteit, bahasa Belanda). Pemilihan kata universitas itu ternyata merupakan bentuk campur tangan pemerintah (kaidah politik), dalam hal ini keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia waktu itu, Mohammad Yamin (1952—1955).

Jika kita lihat Pedoman Umum PembentukanIstilah (PUPI), ada sebuah pasal yang menyebutkan bahwa istilah asing yang diambil menjadi istilah Indonesia hanya diubah seperlunyaagar bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya. Artinya, kata seperti komoditas semestinya diserap menjadi komoditi karena lebih dekat denganbentuk aslinya commodity. Namun, demi konsistensi dan mengikuti pola yang sudah ada (pola university—universitas), semua kata tadidiberi akhiran –itas atau –tas.

Di tengah membanjirnya istilah asing dalam bahasa Indonesia entulah kita dapat memanfaatkan ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia sebagai sumber istilah. Pemanfaatan bahasa daerah (dan tidak mengutamakan bahasa asing) tentulah karena secara linguitis bahasabahasa daerah itu lebih dekat dengan bahasa Indonesia.

Pemanfaatan bahasa daerah juga akan membantu melestarikan bahasa daerah dan sebaliknya memberikan kesempatan kepada bahasa daerah untuk berkembang dan memberi kontribusi bagi pengembangan bahasa nasional.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved