Kamis, 11 Juni 2026

Prancis Raih Gelar Kedua

Stadion Luzhniki Arena, Moskow, tadi malam, menjadi saksi perjuangan timnas Prancis

Tayang:
Editor: bakri
KIPER Prancis, Hugo Lloris bersama rekannya memegang trofi Piala Dunia setelah negaranya menjadi juara berkat kemenangan 4-2 atas Kroasia dalam babak final di Stadion Luzhniki Arena, Moskow, Rusia, Minggu (15/7) malam. 

* Jadi Juara Piala Dunia 2018
* Kalahkan Kroasia 4-2 di Final

MOSKOW - Stadion Luzhniki Arena, Moskow, tadi malam, menjadi saksi perjuangan timnas Prancis. Les Bleus memastikan gelar juara Piala Dunia 2018 setelah menang meyakinkan atas skuadra Kroasia 4-2. Hasil mengesankan di partai puncak itu, membuat Prancis sukses merengkuh gelar kedua di even sepak bola empat tahun terakbar sejagad. Tim besutan Didier Deschamps tersebut 0mengulang hasil manis 20 tahun lalu.

Ya, pada Piala Dunia 1998 di negeri sendiri, punggawa Ayam Jantan--julukan Timnas Prancis--merebut gelar pertama. Dalam duel di Stade de France kala itu, tuan rumah berhasil mengatasi perlawanan juara bertahan Brasil, 3-0. Sepasang gol Prancis dilesatkan anak imigran asal Aljazair, Zinedine ‘Zizou’ Zidane, plus Emmanuel Petit.

Dan kapten Les Bleus 1998 saat itu, Didier Deschamps. Praktis, legenda Juventus tersebut menjadi pemain dan pelatih yang sukses dalam sejarah World Cup. Deschamps menjadi orang ketiga setelah Mario Zagallo (Brasil), dan Franz Beckenbauer (Jerman).

Zagallo menjuarai Piala Dunia sebagai pemain pada 1958 dan 1962. Setelah itu dia membawa Selecao memenangkan turnamen tahun 1970. Beckenbauer menyamai torehan Zagallo pada 1990 ketika Jerman Barat mengalahkan juara bertahan Argentina 1-0 di final. Sebagai pemain, sosok legendaris itu sebelumnya memimpin Jerman Barat memenangkan Piala Dunia 1974.

Keberhasilan Paul Pogba di Rusia terhitung luar biasa. Betapa tidak, mereka sukses menuntaskan pertandingan mulai babak 16 besar hingga partai puncak dalam waktu normal. Adalah menekuk Argentina (4-3) di 16 besar, Uruguay (2-0) di perempatfinal, dan Belgia (1-0) di babak semifinal.

Nasib berbeda dialami timnas Kroasia. Mereka melangkah ke final setelah menang menjalani duel di babak perpanjangan waktu. Luka Modric dkk menang atas Denmark lewat penalti 3-2. Kemudian mengatasi tuan rumah Rusia juga melalui drama adu penalti, 4-3, dan terakhir di semifinal unggul atas Inggris 2-1 di perpanjang waktu.

Bagi Kroasia, raihan runner-up menjadi prestasi tertinggi negara yang merdeka pada tahun 1991 itu. Ivan Rakitic dkk sukses melewati generasi emas Kroasia yang dihuni Davor Suker dan Boban. Kala itu, mereka juara ketiga di Piala Dunia 1998 usai menghajar timnas Belanda.

Kekalahan tersebut membuat timnas Kroasia gagal membalaskan dendam senior-senior mereka di semifinal Piala Dunia 1998. Selain itu, kegagalan ini membuat timnas Kroasia gagal meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya.

Kegagalan timnas Kroasia ini juga sekaligus merusak tradisi yang telah berusia 60 tahun. Tradisi yang dimaksud adalah siklus juara baru di Piala Dunia yang hadir dalam 20 tahun sekali. Siklus ini sudah dimulai sejak Piala Dunia 1958 di mana timnas Brasil sukses meraih gelar juara dunia pertama mereka setelah mengalahkan Swedia dengan skor 5-2.

Setelah itu, siklus tersebut dilanjutkan oleh Argentina pada Piala Dunia 1978, dan Prancis pada edisi 1998. Namun, siklus ini juga sempat dirusak oleh timnas Spanyol saat mereka menjadi juara baru pada Piala Dunia yang pertama kali digelar di Benua Afrika pada edisi 2010.

Pada pertandingan tersebut, timnas Prancis berhasil memenangi laga berkat bunuh diri dari Mario Mandzukic menit ke-18, dan gol-gol dari Antoine Griezmann menit 38, Paul Pogba menit 59, dan Kylian Mbappe menit 65. Sementara Kroasia hanya mampu membalas dua kali melalui Ivan Perisic menit 28, dan Mandzukic menit 69.

Penguasaan bola terburuk
Ada tren menarik yang dipertontonkan Les Bleus pada kesuksesan mereka menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya ini. Tim asuhan Didier Deschamps tak mengutamakan penguasaan bola yang dominan untuk menjadi juara. Tren itu terutama terlihat selama timnas Prancis beraksi di fase knock-out.

Di babak 16 besar, kemenangan 4-3 atas Argentina diraih dengan Paul Pogba dkk hanya memegang penguasaan bola 41 persen. Pada perempatfinal, Prancis mengalahkan Uruguay 2-0 dengan unggul ball possession di angka 58 persen.

Tapi, di dua babak terakhir, Si Biru lagi-lagi membiarkan lawan lebih mendominasi permainan sebelum mereka akhirnya menang. Belgia di semifinal dipukul 1-0 dengan Prancis hanya memegang 40 persen penguasaan bola.

Yang lebih spektakuler lagi dilakukan di pertandingan pamungkas menghadapi Kroasia. Timnas Prancis mengukir angka penguasaan bola terburuknya sepanjang turnamen dengan hanya mencatatkan angka 39 persen. Tapi, dengan lebih efektif memanfaatkan peluang yang didapat, Les Bleus malah keluar sebagai pemenang.

Terseru kedua dalam sejarah
Partai final Prancis versus Kroasia menjadi laga paling seru dalam 60 tahun terakhir gelaran Piala Dunia. Pasalnya, enam gol (empat gol Prancis dan dua gol Kroasia) berhasil tercipta di laga tersebut. Terakhir kali ada lebih dari 6 gol bersarang terjadi pada final Piala Dunia tahun 1958 antara Brasil versus Swedia, di mana saat itu tercipta tujuh gol. Brasil tampil sebagai juara setelah menang 5-2.

Penyusup masuk lapangan
Final Piala Dunia 2018 antara Perancis dan Kroasia diwarnai kehadiran penyusup di tengah lapangan. Seusai turun minum, tepatnya pada menit ke-52, sebuah insiden mengganggu usaha Kroasia buat mencari gol penyama kedudukan.

Tiba-tiba saja beberapa suporter berlari masuk ke lapangan ketika skuad asuhan Zlatko Dalic tengah menyerang. Pertandingan pun terpaksa berhenti beberapa saat sebelum si penyusup berhasil ditangkap oleh petugas keamanan stadion.(ran/*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved