Kebun Sawit di Abdya Mulai tak Terurus, Ini Dampak Serius Anjlok Harga TBS

Harga TBS sawit yang ditampung di tingkat petani beberapa hari terakhir berkisar antara Rp 650 sampai Rp 700 per kg

Kebun Sawit di Abdya Mulai tak Terurus, Ini Dampak Serius Anjlok Harga TBS
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Agen pengumpul sedang memuat Tandan Buah Segar (TBS) sawit ke dalam truk di Jalan 30, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Abdya, belum lama ini. Harga TBS sawit di Kecamatan Babahrot dan Kuala Batee, Kabupaten Abdya anjlok hanya berkisar Rp 900 sampai Rp 930 per kg sampai posisi Selasa (29/5/2018). 

Laporan Zainun Yusuf | Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Peristiwa terpuruk harga TBS (tandan buah segar) kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), kurun waktu sekitar tiga bulan terakhir atau sejak awal Mei lalu hingga sekarang belum membaik.

Peristiwa ini mulai menimbulkan dampak buruk. Areal kebun sawit rakyat di sejumlah lokasi daerah itu dilaporkan tidak teurus atau tidak terawat.

“Pendapatan petani dari produksi TBS sawit tak mampu menutup biaya perawatan sehingga sebagian kebun menjadi tak terurus lagi,” kata Mustafa, petani Desa Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot ketika dihubungi Serambinews.com, Selasa (17/7/2018).

Baca: Petani Menjerit, Hasil Panen Sawit Trek Harga TBS Pun Malah Anjlok

Harga TBS sawit yang ditampung di tingkat petani beberapa hari terakhir berkisar antara Rp 650 sampai Rp 700 per kg.

Bila tanaman sawit dengan luas satu hektare (ha) menghasilkan sekitar 1,5 ton (1.500 kg) dijual dengan harga antara Rp 650 sampai Rp 700 per kg, maka hasil kotor yang diperoleh petani hanya antara Rp 975.000 sampai Rp 1.050.000.

Hasil diperoleh, dikeluarkan untuk ongkos panen berkisar antara Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu per ha (tergantung tingkat kesulitan medan kebun).

Baca: Mahasiswa Desak Pemerintah Aceh Segera Bentuk Dewan Sawit

Pengeluaran untuk perawatan relatif besar terutama untuk pembersihan rumput tidak cukup Rp 400 ribu per ha, yaitu untuk membeli pestisida (racun rumput) dan ongkos penyemprotan.

Sedangkan pembersihan rumbut dengan cara menebas butuh ongkos berkisar antara Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu per ha. Belum lagi anggaran untuk pemupukan.

“Akibatnya, sejumlah petani memutuskan tak lagi memanen TBS sawit,” kata Usman, petani Desa Alue Dawah, Kecamatan Babahrot.

Baca: Harga Sawit Menyentuh Titik Terendah di Singkil, Petani: Ongkos Panen Pun tak Cukup

Mustafa mengatakan, petani sekarang ini menjadi serba salah karena pendapatan dari produksi TBS tidak mampu menutupi ongkos panen dan perawatan kebun.

“Bila tidak dipanen, maka tanaman sawit rawan mati dan areal kebun tidak terawat lagi,” katanya.

Areal kebun yang mulai tidak terurus terutama di Kecamatan Babahrot dan Kuala Batee sebagai sentra tanaman kelapa sawit di Kabupaten Abdya.(*)

Penulis: Zainun Yusuf
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved