Hakikat Bahasa, Aceh vs Jamee dan Kluet

SUATU hari di Aceh Selatan, ada tiga sahabat sedang berjalan melintasi sebuah jembatan kecil yang di bawahya

Hakikat Bahasa, Aceh vs Jamee dan Kluet
DOK.SERAMBINEWS.COM
Kain sarung dengan label berbahasa Aceh. 

Oleh: Herman RN

SUATU hari di Aceh Selatan, ada tiga sahabat sedang berjalan melintasi sebuah jembatan kecil yang di bawahya ada genangan air bekas orang seumeukruep. Seumeukruep adalah upaya mencari ikan dengan menjamah. Tiga sahabat itu terdiri atas satu orang suku Aceh, satu orang suku Aneuk Jamee, dan satu orang suku Kluet. Seperti diketahui, di Aceh Selatan hidup tiga bahasa daerah yang menjadi bahasa asli masyarakat sana, yaitu bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, dan bahasa Kluet. Ketiga sahabat tadi ternyata masing-masing berasal dari tiga suku tersebut.

Tatkala melintasi jembatan kecil itu, tiba-tiba orang yang suku Kluet melihat seekor ikan lele di antara bekas orangseumeukruep. Karena kaget, dia langsung berteriak, “Itu!!!” Di belakangnya ada suku Aneu Jamee. Mendengar teriakan tersebut, orang suku Aneuk Jamee berteriak tak kalah kencangnya, “Mano?!” Sang sahabat yang suku Aceh, tatkala mendengar kata “Mano” langsung melompat ke kolam bekas orang seumeukruep tersebut tanpa peduli kolam itu sebenarnya masih berlumpur. Anak Kluet dan Aneuk Jamee tertegun melihat aksi temanya yang suku Aceh. Keduanya bertanya, “Mengapa kamu mandi di kolam bekas orang mencari ikan? Itu kan jorok.” “Karena kamu tadi mengajak mandi,” sahut si suku Aceh dengan mudah.

Cerita ini merupakan anekdot dari Aceh Selatan. Kisahnya sudah beredar luas dari mulut ke mulut. Saya pun sudah sempat menuliskan anekdot ini pada sebuah blog. Oleh karena itu, jika kedapatan kisah yang sama dengan kisah dalam pengantar tulisanini, bukan berarti saya plagiat. Saya hanya ingin mengatakan bahwa inilah uniknya bahasa. Salah interpretasi, ia akan berakibat negatif bahkan bisa fatal. Dalam bahasa Kluet, ikan lele adalah “itu”.

Makanya si suku Kluet berteriak “itu” tatkala melihat seekor ikan lele. Maksudnya, “Ada ikan lele.” Adapun si suku Aneuk Jamee bermaksud bertanya ‘mana’. Dalam bahasa Aneuk Jamee ‘mana’ diucapkan “mano”. Sementara itu, si suku Aceh mengira bahwa yang dikatakan temannya adalah “manoe” dalam bahasa Aceh yang artinya ‘mandi’. Oleh karena itu, yang suku Aceh langsung melompat ke dalam kolam bekas orang mencari ikan tersebut.

Sifat “Unik” Bahasa
Selain arbitrer dan universal, sifat bahasa itu unik. Maksudnya, kosa kata tertentu dalam bahasa A bisa juga terdapat dalam bahasa B, C, D, atau bahasa Z. Hanya saja, makna kosa kata yang sama dalam bahasa lain itu belum tentu sama dengan maksud dalam bahasa A. Perbedaan maknanya bisa melenceng jauh bahkan mengarah pada yang negatif. Karenanya, bisa saja tatkala mendengar kosa katatertentu, orang dalam bahasa lain bisa tertawa atau marah.

Kasus yang dialami oleh suku Aceh dalam cerita di atas hanya bagian kecil dari uniknya bahasa. Di daerah Gayo juga ada kisah yangmirip. Seorang enek tiba-tiba menumpang sebuah bis lintas Bireuen-Takengon. Karena susana dalam bis berdesak-desakan, si nenek mengucapkan “Kusonan” kepada seorang penumpang di sampingnya.

Ternyata orang tersebut suku Aceh. Ia mengira sedang ditanya “Soe nan” sehingga menjawab “Nan lon Ma’e”. Padahal, maksud si nenek yang orang Gayo adalah ‘geser sedikit’. Hal ini menandakan bahwa bahasa itu unik, memiliki ciri khas tersendiri. Untuk kasus di Gayo, ada kosa kata yang dianggap sumang atau pantang diucapkan, meskipun kata-kata tersebut sebenarnya hanya sebuah nama atau sapaan bagi seseorang. onkretnya begini, seseorang yang bernama Putra atau Putri agak riskan jika disapa pada awal suku katanya. Begitu menurut bahasa Gayo.

Padahal, dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain di Aceh, biasa orang memanggil “Put” untuk temannya yang bernama Putra atau Putri. “Put, kamu cantik sekali hari ini,” kata seorang teman. Hal ini tentu biasa bagi orang non-Gayo. Namun, sangat pantang bagi suku Gayo menyapa “put” pada temannya. Lebih baik langsung memanggil dengan lengkap, “Putri, kamu cantik sekali hari ni.”

Singkatnya, jangan pernah memanggil suku awal “put” untuk orang bernama Putri atau Putra di depan orang Gayo. Bayangkan jika Anda memanggil “Put” di depan orang tuanya siPutri. Bisa jadi, Anda akan dikejar dengan sandal. Begitulah kira-kira uniknya bahasa. Sama halnya tatkala orang suku Aneuk Jamee berkata kepada neneknya bahwa “Lampu ini Nek tidak berminyak.” Kalimat ini sering diucapkan suku Aneuk Jamee di musim mati listrik sehingga mencari lampu minyak atau panyot. Bagi suku Aneuk Jamee, kalimat di atas akan diucapkan, “Lampu ko Nek nakdo baminyak.” Bisa dibayangkan jika kalimat tersebut didengar oleh orang suku Aceh? Tentu maknanya sangat negatif bukan? Begitulah kira-kira makna nama Putra atau Putri jika dipenggal pada suku awal dalam pemahaman orang Gayo.

Hal ini memberikan pemahaman kepada setiap orang bahwa bahasa itu unik sehingga terikat dengan konteks. Tidak bisa seseorang menginterpretasikan sebuah kalimat yang janggal atau ganjil di telinganya dengan perspektif pribadinya. Bisa saja, maksud orang yang mengutarakan kalimat tersebut bukan seperti interpretasi si pendengar. Di sinilah perlunya kesadaran berbahasa dalam setiap konteks.

Kesadaran berbahasa ini tidak hanya harus dimiliki oleh setiap pendengar, tetapi juga setiap penutur. Sesuatu yang ingin dituturkan sebaiknya dipikir terlebih dahulu, kira-kira maknanya positif atau negatif? Sesuatu yang dianggap positif menurut kita belum tentu positif menurut orang lain. Kesadaran akan konteks dan lawan tutur menjadi sebuah keniscayaan dalam berbahasa.

Hal ini juga memberikan pemahaman kepada setiap orang bahwa hakikat bahasa itu unik dan universal. Setiap bahasa mememiliki ciri khas tersendiri. Tak ada bahasa yang sempurna. Semoga bermanfaat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved