PKA 7

Kota dengan Seribu Warung Kopi

Kota Banda Aceh menjelma sebagai kota tujuan wisata terpenting di Aceh

Kota dengan Seribu Warung Kopi

Kota Banda Aceh menjelma sebagai kota tujuan wisata terpenting di Aceh. Pembenahan terus dilakukan. Kota ini berambisi menghadirkan 500 ribu wisatawan tahun ini. Walikota Banda Aceh, H. Aminullah Usman, SE, Ak, MM menyemangati warga kota agar menjadi tuan rumah yang ramah dan pintar memuliakan tamu. Menciptakan kota yang bersih, indah, nyaman, dan aman.

Beragam even akan terus hadir di kota ini, domestik dan internasional. Walikota menuturkan rencana pembenahan di bidang kepariwisataan dan budaya dalam percakapan dengan Edi Fitriady dan Fikar W.Eda dari Serambi Indonesia di Meuligo Kota. Walikota didampingi Asisten III Setdako Iskandar, S.Sos, Kepala Dinas Pariwisata Rizha Idris, MM, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Saminan Ismail, M.Pd, dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kepala Bagian Humas T.Taufik Mauliansyah, Berikut petikannya.

Apa yang menjadi spesifik PKA kali ini bagi Banda Aceh?
Bagi Banda Aceh selaku tuan rumah, PKA 7 tentu sebuah kesempatan emas. Karena melalui PKA kali ini, kami bisa menjual Banda Aceh ke dunia luar (domestik dan internasional), terutama seni dan budayanya. Kita memiliki kelebihan cagar budaya, kuliner, dan seni budaya yang tidak dimiliki daerah lain. Setiap daerah termasuk Banda Aceh harus punya spesifikasi yang bisa ditampilkan di ajang PKA, yang akhirnya terjadi promosi berantai.

Contohnya Pemkab Banyuwangi yang meningkatkan kunjungan wisatawan kedaerahnya dari 500 ribu (2012) menjadi 5 juta (2018). Yang mempromosikan itu saat ini bukan lagi Pemkab, tapi wisatawan yang pernah berkunjung ke daerah tersebut. Mereka berhasil mendapatkan simpati wisatawan. Hal ini lah yang sedang Banda Aceh upayakan. Bagi kami tamu adalah raja.

Kesiapan masyarakat menghadapi arus wisatawan yang datang ke Banda Aceh, terutama asing?
Kita memiliki 70-an penginapan dengan berbagai level, 50an cagar budaya, kuliner dan kopi yang ingin kita promosikan “3E” yaitu “enak, enak sekali, dan enaak sekali.” Kami rasa ini momen tepat untuk menjual Aceh ke dunia luar

Di Banda Aceh warung kopi menjamur, apakah ini menjadi spesifikasi kota Banda Aceh atau muncul secara alamiah?
Kita sudah menjuluki Banda Aceh sebagai kota seribu warungkopi. Boleh saja kopi di tempat bapak (Aceh Tengah, Bener Meriah dan lain-lain, red), tapi minumnya tetap di Banda Aceh. Kopi ini sudah menjadi satu ciri khas Banda Aceh.

Padahal kita tidak menyuruh masyarakat, tapi mereka menganggap kopi ini peluang. Banda Aceh beda dengan daerah lain yang memiliki kebun kopi, tapi kita miliki industri pengolahan dan pusat perdagangan. Konsumsi kopi yang banyak di Banda Aceh menimbulkan multiplier efek bagi petani dan pedagang kopi di daerah.

Desain Banda Aceh ke depan sebagai daerah wisata seperti apa?
Ke depan kita akan memperkuat infrastruktur Banda Aceh sehingga mengundang lebih banyak wisatawan kemari. Pertama, kami akan bangun Islamic Center, pusat zikir bertaraf internasional ( bisa menampung 30 ribu jamaah) di Ulee Lheue. Kedua, memperkuat Ulee Lheue sebagai pusat kuliner. Ketiga, membangun waterfront city di Peunayong dan Krueng Daroy. Keempat, kami sedang siapkan panggung kesenian berukuran besar di Taman Sari (Bustanus Salatin), di sini akan ditampilkan seni budaya Aceh setiap minggu. Di samping juga melayani wisatawan dengan baik.

Bagaimana Pemko mempersiapkan sumber daya seni budaya di Banda Aceh untuk meningkatkan pariwisata?
Kami melalui dinas pendidikan dan kebudayaan aktif menggelar perlombaan seni budaya antar sekolah. Ini sebagai bentuk memperkuat warisan budaya agar tidak terlupakan.

Untuk pengelolaan PKA ke depan, apa yang bisa dilakukan?
Pemerintah Aceh dan kabupaten/ kota harus memahami bahwa ini momen yang tepat untuk memperkenalkan Aceh ke dunia luar. Output-nya harus jelas, yaitu meningkatnya kunjungan wisatawan ke Aceh. Bahkan menurut saya, acara semacam PKA ini bisa dibikin 3 tahun sekali, atau disebut pra- PKA di berbagai daerah. Tujuannya agar daerah lain di Aceh juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan daerahnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved