Mengapa Astronot Eropa Harus Bisa Bahasa Mandarin? Ini Alasannya

ini didasarkan pada teknologi pesawat ruang angkasa Soyuz buatan Rusia dan terlihat sangat mirip.

Mengapa Astronot Eropa Harus Bisa Bahasa Mandarin? Ini Alasannya
ici.radio-canada.ca
Astronot 

"ESA merupakan kerja sama 23 negara anggota, jadi kami tahu apa yang diperlukan untuk menyatukan para mitra," kata Maurer.

"Kami berbicara banyak bahasa, kami memiliki kesadaran antar-budaya dan kami adalah perekat yang sempurna untuk membawa China ke dalam ruang keluarga internasional yang besar ini," tegasnya.

Baru-baru ini China menandatangani perjanjian dengan Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Ruang Angkasa untuk membuka stasiun ruang angkasa baru bagi penelitian internasional.

Ini juga bisa diperluas pada peluncuran astronot, dengan cara yang mirip dengan program Soviet Intercosmos tahun 1970-an dan 80-an, yang melihat astronot dari negara-negara sekutu - termasuk Mongolia, Kuba, Afghanistan dan Suriah - terbang ke stasiun ruang angkasa Rusia.

"Kesan saya adalah bahwa setiap negara di dunia yang ingin meluncurkan astronotnya, dapat menghubungi China melalui PBB dan berpotensi pergi ke ruang angkasa," kata Maurer.

"Bukan hanya orang Eropa, tetapi negara-negara berkembang yang mungkin tidak memiliki program astronot saat ini," ujarnya.

Baca: Rumah Baru Buat Muhammad Zohri Kini Siap Dihuni, Beda Jauh dengan yang Sebelumnya

Baca: 328 Calon Jamaah Haji Indonesia Tersesat di Masjid Nabawi, Hati-hati Rawan Penipuan

Misi Co-Pilot

Eropa berada di garda terdepan dalam permainan ini dan, dalam beberapa bulan mendatang, astronot ESA akan memulai pelatihan di kapsul China.

Mereka berharap salah satu di antara anggota ESA bisa mendapat posisi co-pilot pada misi masa depan.

"Di Soyuz, kursi kiri adalah co-pilot, jadi kami pergi ke China dan mengatakan kami perlu bernegosiasi keras untuk memastikan kami mendapatkan kursi sebelah kiri itu," jelas Maurer.

"Dan mereka berkata 'oh, oke, tidak masalah' ... dan kami pikir itu terlalu mudah ... sampai kami menyadari [di Shenzhou] kursi sebelah kanan adalah co-pilot," tambahnya.

Maurer berharap akan membuat penerbangan ruang angkasa pertamanya ke ISS pada 2020.

Setelah itu ia akan diposisikan dengan baik untuk menjadi salah satu astronot asing pertama yang terbang bersama Taikonauts ke stasiun China pada sekitar 2023.

Sebagian karena kebijakan diplomatik pemerintahan AS saat ini, NASA tidak mungkin mulai bekerja sama secara terbuka dengan program luar angkasa China dalam waktu dekat.

Dalam jangka panjang, bagaimanapun, dengan Amerika dan China sama-sama punya misi menjelajah pertanyaannya ruang angkasa, maka kesempatan keduanya bekerja sama mungkin terjadi.

"Begitu kita melihat melampaui orbit Bumi ke Bulan atau Mars, kita membutuhkan semua mitra yang dapat kita temukan di planet ini karena semakin sulit, lebih mahal dan kita membutuhkan teknologi terbaik," kata Maurer.

"Kami bertujuan untuk membawa China ke dalam keluarga dan stasiun penelitian bulan depan - semakin banyak yang kita miliki dalam keluarga, kita akan jadi semakin baik," sambungnya.(BBC Indonesia)

Editor: faisal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved