Pemberondong Rumah Warga Terkena Dua Kasus

Pria yang memberondong rumah milik Ahmad Budiman (71), warga Desa Geumata, Kecamatan Lhoksukon

Pemberondong Rumah Warga Terkena Dua Kasus
Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin memegang senjata api jenis AK-56 yang disita di kawasan Aceh Timur karena diduga terlibat dalam kasus pemberondongan rumah warga Lhoksukon, Aceh Utara. Foto direkam, Senin (23/4).SERAMBI/JAFARUDDIN 

* Kepemilikan Senjata Api dan Narkoba

LHOKSUKON - Pria yang memberondong rumah milik Ahmad Budiman (71), warga Desa Geumata, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara dengan senjata api (senpi) jenis AK-56 diproses dalam dua kasus di Mapolres Aceh Utara. Pelaku berinisial MK (28), warga Desa Keude Geudong, Kecamatan Samudera yang ditangkap di sebuah rumah kawasan Kecamatan Samudera pada 19 Juli 2018 saat sedang nyabu bersama mantan pasien RSJ itu dijerat kasus kepemilikan senpi dan narkoba.

Sedangkan teman MK berinisial RZ (22), warga Desa Mancang, Kecamatan Samudera yang ikut terlibat dalam kasus pemberondongan itu, ditangkap dua jam kemudian atau pada 19 Juli 2018 sekitar pukul 23.00 WIB. Pada kasus ini, RZ membantu memboncengi MK dengan sepeda motor jenis Honda Vario Techno ketika memberondong rumah Ahmad Budiman. Polisi masih memburu KD, warga Aceh Utara selaku pemilik sabu dan JH asal Aceh Timur sebagai pemilik senpi AK-56, karena diduga berkaitan erat dengan kasus tersebut. KD dan JH juga sudah dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Diberitakan sebelumnya, rumah milik Ahmad Budiman diberondong dua pria dengan memakai senpi jenis laras panjang yang menggunakan sepeda motor jenis matic pada 13 April 2018 sekira pukul 06.00 WIB. Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan empat selongsong peluru dan tiga proyektif rusak di rumah tersebut. Dalam proses penyidikan, diketahui motif kasus itu adalah persoalan utang piutang sabu-sabu Ulul Azmi (30), menantu Ahmad Budiman kepada KD sebesar Rp 50 juta yang tidak dibayar sampai kejadian penembakan rumah dan mobil korban.

“MK kita proses dalam dua kasus. Pertama kasus narkoba karena saat ditangkap, ia sedang nyabu. Karena itu, MK kita serahkan dulu ke Satuan Narkoba untuk diproses dalam kasus sabu-sabu,” kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin, melalui Kasat Reskrim Iptu Rezky Kholiddiansyah kepada Serambi, Minggu (29/7).

Sedangkan kasus kedua yang menjerat MK, ucapnya, adalah kepemilikan senpi dan pemberondongan. Pada kasus ini, MK dijerat dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan dan penggunaan senjata api. Sebab itu, ia terancam hukuman penjara selama 20 tahun.

“Begitu juga dengan tersangka RZ yang kita jerat dengan pasal serupa dan Pasal 55 KUHPidana. Karena RZ bukan hanya berperan mengantarkan MK saat penembakan, tapi ia juga berperan ketika mengambil senjata ke kawasan Aceh Timur pada JH dengan menggunakan sepmor. Karena JH adalah teman RZ,” tandas Kasat Reskrim.

Sementara itu, penyidik Satuan Narkoba (Satnarkoba) Polres Aceh Utara saat ini sedang mendalami keterlibatan MK dalam kasus narkotika. Penyidik menyelidiki apakah MK juga terlibat atau membantu pengedar sabu-sabu lain selama ini. Karena, ia memberondong rumah warga Lhoksukon terkait utang piutang sabu-sabu temannya.

“Dia ditahan mapolres dalam kasus sabu dulu. Penyidik sudah memintai keterangan MK sebagai tersangka untuk kita proses dan juga untuk kita dalami keterlibatan dia dalam kasus itu,” tukas Kasat Narkoba, AKP Ildani Ilyas kepada Serambi, kemarin.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved