Breaking News:

Tim Gabungan Patroli Laut Aceh

Tim petugas gabungan Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Aceh, UPT Ditjen Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan

Editor: bakri
TIM Pengawas Laut, terdiri atas Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Satpol Air dan TNI AL, saat ingin melakukan patroli laut bersama, Minggu (39/7) ke Laut Sabang. 

* Cegah Pencurian Ikan Saat Cuaca Buruk

BANDA ACEH - Tim petugas gabungan Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Aceh, UPT Ditjen Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Lampulo, Polisi Perairan, dan TNI AL, melakukan patroli laut Aceh bersama di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang, Sabtu dan Minggu, 28 dan 29 Juli 2018. Patroli ini dilakukan untuk mencegah pencurian ikan oleh kapal asing, apalagi sekarang ini banyak kapal nelayan Aceh tak bisa melaut karena cuaca buruk.

Kepala DKP Aceh, Cut Yusminar Api MSi menyampaikan hal ini kepada Serambi kemarin seusai patroli bersama ini. Menurutnya, saat musim badai dan gelombang tinggi seperti ini, banyak nelayan Aceh tak melaut karena kapal kecil yang biasa digunakan tak mampu menahan gelombang besar dan badai. Kondisi ini kemungkinan dimanfaatkan nelayan asing yang menggunakan kapal lebih besar untuk mencuri ikan (illegal fishing) di perairan Aceh-Indonesia.

Oleh karena itu, menurutnya tim gabungan bersama itu pada Sabtu (28/7) melakukan patroli di perairan laut Aceh kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar, terutama di wilayah Pulo Nasi dan Pulo Aceh. Keesokannya atau kemarin, dilanjutkan ke kawasan perairan Sabang. Meski tak ditemukan kapal asing yang mencuri ikan, kata Yusminar, jika saat operasi ini ditemukan, maka petugas bisa langsung menangkap dan menghubungi posko mereka di daerah pantai untuk bergerak menuju lokasi penangkapan.

“Kapal-kapal asing nekat memasuki dan melakukan illegal fishing di perairan Indonesia karena di wilayah laut dalam Aceh-Indonesia banyak sekali ikan bernilai ekonomis tinggi, seperti tuna, cakalang, dan lainnya. Tuna harganya mencapai Rp 150 ribu per kilogram,” sebut Cut Yusminar.

Cut Yusminar menambahkan ada kapal nelayan asing tidak pernah jera menagkap ikan di wilayah perairan Indonesia. Mereka menggunakan kapal tangkap ikan berkecepatan tinggi, bahkan ada yang melampui kecepatan kapal patroli laut petugas Indonesia. “Karena itu, begitu mereka mengetahui ada kapal patroli laut dari Indonesia, kapal- kapal nelayan asing itu langsung bergerak menuju wilayah perairan Internasional karena baru bisa kita tangkap kalau sedang menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia,” jelas Cut Yusminar.

Seperti diketahui sejak ditetapkannya Pelabuhan Perikanan Lampulo menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) dua tahun lalu, PPS Lampulo sudah memiliki Kantor UPT Ditjen Pangkalan PSDKP. Salah satu fungsinya juga mengawasi ancaman pencurian ikan di wilayah laut Aceh-Indonesia.

Sementara itu, pengusaha boat, Irwan kepada Serambi mengatakan untuk cuaca saat ini gelombang tinggi berada di wilayah 50 mil dari pantai dan tak mampu ditahan oleh kapal berkapasitas 30 GT ke bawah, kecuali kapal di atas 60-100 GT. Sedangkan kapal-kapal tangkap ikan berbedera asing yang mencuri ikan di wilayah perairan Indonesia umumnya di zona 100 - 200 mil. Mereka menggunakan kapal tangkap ikan kapasitas 100 GT lebih. “Kapal-kapal tangkap ikan asing itu hanya bisa dikejar kapal patroli milik TNI AL atau Polisi Perairan berkapasitas di atas 100 GT, di bawah itu tidak sanggup,” ujar Irwan. Ia mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas patroli petugas gabungan itu, sekaligus berharap agar rutin dilaksanakan. (her)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved