Gajah Rusak Tanaman

Aksi kawanan gajah liar menggasak dan merusak tanaman petani di Kota Subulussalam hingga kini belum teratasi

Gajah Rusak Tanaman
Salah satu gubuk warga di kebun karet milik warga di robohkan oleh kawanan gajah liar di Desa Sumambek, Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya, Selasa (15/5). 

* Petani Rugi Besar

SUBULUSSALAM - Aksi kawanan gajah liar menggasak dan merusak tanaman petani di Kota Subulussalam hingga kini belum teratasi. Terkini, tiga ekor gajah liar dilaporkan kembali merusak berbagai tanaman warga di Namo Kongkir, Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri. “Gajah kembali masuk dan merusak tanaman petani,” kata Sukardi, salah seorang petani di Namo Kongkir, Desa Tangga Besi, kepada Serambi, Rabu (1/8).

Menurut Sukardi, gajah liar yang selalu meresahkan petani di sana masuk pada malam hari. Dikatakan, ada tiga ekor hewan berbelalai panjang itu kerap masuk ke areal pertanian dan perkebunan di kawasan itu. Tak hanya di Namo Kongkir, Tangga Besi, hewan bertelinga lebar ini juga merayap hingga ke Desa Belegen Mulia bahkan ke Cepu Indah, Subulussalam Timur.

Gangguan gajah terakhir, kata Sukardi, merusak setidaknya dua hektare tanaman padi masyarakat plus pondok. Sukardi sendiri mengaku punya dua hektare tanaman kelapa sawit yang luluh lantak dirusak gajah. “Saya punya dua hektare kebun berisi kelapa sawit hancur dirusak gajah,” ujar Sukardi.

Lebih jauh Sukardi mengatakan, masyarakat resah akibat gangguan gajah liar yang selalu masuk ke areal perkebunan dan merusak tanaman di daerah itu. Dia bersama puluhan kepala keluarga (KK) petani yang berkebun di areal Namo Kongkir, Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, hingga kini menderita kerugian besar. Sebenarnya, kata Sukardi, hewan berbelalai panjang ini sudah lama mengganggu tanaman masyarakat di sana yakni sejak 2015 lalu. Namun, sempat beberapa bulan berhenti, tapi kini kembali datang dan menggasak tanaman masyarakat di sana.

Lebih jauh dikatakan, gangguan gajah belakangan ini sudah berlangsung selama empat malam. Akibatnya, sudah cukup banyak tanaman masyarakat menjadi santapan hewan dilindungi itu. Tanaman masyarakat yang meliputi kelapa sawit, padi, pisang, kelapa, pisang hingga gubuk mereka menjadi objek amukan gajah liar.

Sukardi menambahkan, akibat gangguan gajah liar kini petani semakin merugi, karena gagal panen. Apalagi tanaman yang menjadi sasaran hewan dilindungi tersebut berupa batang kelapa sawit berusia 2-3 tahun. Biasanya, tanaman kelapa sawit seusia itu merupakan masa berbuah pasir dan dalam kurun waktu satu tahun sejatinya telah bisa dipanen. Gajah juga sudah kerap memporak-porandakan tanaman kelapa sawit petani, jengkol, kakao, bahkan pondok kebun. “Gajah ini makin ganas, setiap hari merusak tanaman kami,” beber Sukardi

Berdasarkan catatan Serambi, konflik antara gajah dengan manusia di Kota Subulussalam, khususnya di Kecamatan Sultan Daulat dan Simpang Kiri sudah berlangsung sejak belasan tahun lalu dan telah merenggut sejumlah korban, beberapa di antaranya meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Gajah liar ini bahkan sempat menguasai perkebunan warga di Kecamatan Penanggalan tepatnya Desa Jontor perbatasan dengan Sumatera Utara pada tahun 2007 lalu.

Sukardi juga mengatakan, di lokasi memang ada petugas BKSDA, namun tidak ada aksi penangkapan. Di sana petugas hanya menghalau dengan memasang mercon/petasan. Menurut Sukardi, aksi memainkan petasan justru membuat gajah semakin marah, sehingga kebun atau tanaman masyarakatlah yang menjadi sasaran hewan ini.

Kasus konflik gajah berujung hilangnya nyawa manusia terjadi tiga bulan lalu. Seorang warga di Desa Bawan, Kecamatan Sultan Daulat, tewas akibat diamuk gajah liar yang masuk ke areal kebun kelapa sawit di sana. Pada kasus ini, BKSDA telah berulang kali menerjunkan gajah penjinak dan beberapa ekor berhasil digiring dan ditangkap untuk menekan konflik tersebut, namun tetap saja tidak mampu meredamnya.

Kepala Seksi Wilayah II BKSDA di Subulussalam Hadi Sofyan yang dikonfirmasi Serambi via telepon selulernya terkait keluhan masyarakat akan gangguan gajah liar mengatakan, pihaknya sedang berupaya untuk mengevakuasi gajah liar ke habitatnya di kawasan hutan lindung TNGL Bengkung, Sultan Daulat, Kota Subulussalam. “Selama ini kita sudah respons, kemarin juga kita baru rapat membahas masalah gajah. Memang kita mau relokasi ke habitatnya,” kata hadi

Menurut Hadi, ada kendala mereka dalam merelokasi gajah liar ini ke habitatnya, yakni belum ada jalur. Sebab, kata Hadi, jika dari habitatnya langsung diusir, tidak memungkinkan lantaran terhalang kebun kelapa sawit. Jadi, lanjut Hadi, nantinya ditangkap dan direlokasi dengan menggunakan kendaraan. Pemindahan hewan berbadan besar ini tidak memungkinkan hanya dengan menggiring, namun perlu diangkut dengan armada. Tapi, kata dia, masalah utama menyangkut jalur evakuasi, belum tersedianya beberapa jembatan.

Lebih jauh dikatakan, jalur evakuasi mencapai 20 kilometer dan ini merupakan hitungan kasar dengan menggunakan GPS. Kemungkinan besar rentang jalur evakuasi gajah ini lebih jauh lagi. Selain itu, terdapat pula jalur yang tidak ada jembatan sebanyak tiga titik. BKSDA, menurut Hadi, akan mensurvei lagi jalur evakuasi gajah liar yang telah bertahun-tahun mengganggu tanaman masyarakat Subulussalam.

Hadi mengatakan gajah yang berada di seputaran Tangga Besi, Cepu Indah, Belegen Mulya dan Namo Buaya ini berjumlah dua ekor yakni induk dan anaknya. Dikatakan pula, kedua gajah ini sebenarnya terisolir sehingga tidak bisa kembali ke habitatnya. Dulunya, di sana terdapat sejumlah hutan, namun kini sudah tersiolir akibat pembukaan lahan perkebunan.

“Kendala utama akses jalur evakuasi. Dulu memang kita terkendala dana untuk biaya evakuasi, tapi sekarang sudah ada support dana, tinggal masalah jalur ini. Tapi, kita upayakan tahun ini sudah selesai direlokasi ke Bengkung. Ini perlu dipikirkan jangan sampai saat digiring gajahnya mati,” tandas Hadi.(lid)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved