Salam

Kalau Keracunan Jangan Salahkan Ikan

Lebih seratus santri As-Salam Islamic Solidarity School Kota Jantho, Aceh Besar mengalami keracunan setelah sarapan

Kalau Keracunan Jangan Salahkan Ikan
ANTRI As-Salam Islamic Solidarity School (ISS) dirawat di RSUD Aceh Besar, Rabu (1/8). Lebih 100 santri di lembaga pendidikan tersebut diduga keracunan seusai sarapan pagi dengan menu ikan tongkol lado. 

Lebih seratus santri As-Salam Islamic Solidarity School Kota Jantho, Aceh Besar mengalami keracunan setelah sarapan pagi, Rabu (1/8) di lembaga pendidikan Islam yang dikelola Pemkab Aceh Besar dan Baitulmaal Muamalat (BMM) tersebut. Para santri mengalami muntah, pusing, dan sesak napas.

Pihak medis mengatakan, umumnya, santri itu mengalami gajala khas keracunan, yakni muntah, pusing-pusing, diare serta sesak napas. Untuk para korban yang sesak harus dibantu oksigen dan dirawat di ruang ICU.

Jika benar mereka keracunan, maka “tertuduh” pertama adalah ikan tongkol dan kedua adalah nasi putih. Yang kedua ini jarang sekali terdengar adanya orang yang mengalami keracunan nasi putih. Sedangkan keracunan akibat ikan tongkol sudah sering terjadi.

Yang ingin kita katakan adalah, ikan tongkol bagi masyarakat Aceh bukan sekadar teman nasi, tapi juga “kebanggaan”. Berbagai kenduri di Aceh, seolah kurang lengkap tanpa lauk ikan tongkol, minimal keumamah (ikan tongkol rebus yang dikeringkan).

Oleh sebab itulah, sebagai masyarakat yang sangat sering mengonsumsi ikan tongkol dan ikan-ikan lainnya, harus sangat hati-hati menangani ikan sebelum dimasak agar terhindar dari dampak buruk seperti yang diduga dialami para santri di Jantho tadi.

Peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unsyiah, Elly Sufriadi berharap warga tidak berlama-lama menyimpan ikan sebelum dimasak untuk dikonsumsi. Pasalnya, semakin lama ikan disimpan, semakin besar pula potensi menghasilkan senyawa kimia yang membahayakan kesehatan. “Sebaiknya ikan tidak lama disimpan, meskipun dalam kondisi beku,” katanya.

Dosen Jurusan Kimia FMIPA Unsyiah ini menjelaskan, salah satu sebab ikan beracun lantaran kandungan formaldehyde (formalin). “Formalin yang terdapat pada ikan tidak hanya karena ditambahkan secara sengaja dari luar, tetapi juga bisa diproduksi sebagai hasil metabolisme yang berlangsung dalam perut ikan oleh bakteri bacillus. Bakteri ini sampai kini namanya belum dikenal di dunia,” kata akademisi itu.

Bakteri tersebut mampu mengubah protein ikan menjadi dimetil amin (DMA) dan trimetil amin (TMA) yang selanjutnya menjadi komponen kimia yang menghasilkan senyawa formalin. Elly mengaku pernah meneliti kandungan formaldehyde pada ikan selama empat tahun. Hasilnya, ternyata semakin lama ikan disimpan termasuk dalam keadaan beku, semakin tinggi kandungan formaldehyde di dalamnya. “Hasil penelitian selama empat tahun lebih terhadap ikan kerapu macan berhasil mengungkap fakta ini. Padahal, yang saya teliti ikan hidup yang diambil dari keramba,” katanya.

Setelah diteliti, kata Elly, ternyata di dalam perut ikan kerapu terdapat bakteri yang mampu menghasilkan formalin. Hingga kini bakteri temuan Elly belum ada nama ilmiahnya.

Namun, dalam kasus keracunan santri di Jantho, menurutnya masih perlu dilakukan pengujian terhadap bahan makanan yang dikonsumsi, termasuk ikan, apakah ada indikasi mengandung bahan yang beracun di dalamnya. Dia berharap Balai Besar POM untuk meneliti kasus tersebut, sehingga jelas penyebab yang sesungguhnya.

Ya, kita sengaja mencari penjelasan ilmiah itu agar masyarakat punya pengetahuan dalam mengolah dan mengonsumsi ikan secara benar. Ingat, bukan ikannya yang salah, tapi perlakuan kita terhadap ikan sebelum dikonsumsilah yang tidak benar.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved