Bus Sekolah tak Layak Pakai

Anggota DPRK Aceh Barat Daya (Abdya) meminta Dinas Perhubungan setempat memperbaiki lima unit bus sekolah

Bus Sekolah  tak Layak Pakai
SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA
Salah satu bus sekolah milik Dinas Perhubungan Abdya dindingnya mulai keropos, Jumat (3/8). SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA 

BLANGPIDIE - Anggota DPRK Aceh Barat Daya (Abdya) meminta Dinas Perhubungan setempat memperbaiki lima unit bus sekolah yang dinilai tidak layak pakai.

“Kami menilai, mobil seperti ini tidak layak pakai, dan wajib diperbaiki oleh dinas,” ujar Anggota DPRK Abdya, Julinardi kepada Serambi, Jumat (3/8).

Jika dibiarkan, katanya, maka dua tahun ke depan, lima unit bus sekolah tersebut terancam menjadi besi tua. Selain itu, kondisi mobil yang mulai keropos, akan membahayakan para penumpang.

“Minimal direhab dulu, jika dibiarkan, siap-siap mobil ini hancur dan menjadi besi tua,” tegasnya. Namun, Julinardi menyesalkan sikap dinas terkait yang terkesan tidak peduli, padahal setiap hari mereka mendapat uang yang dikutip dari siswa.

“Kami meminta ini segera ditindaklanjuti dalam tahun ini, sehingga tidak bertambah parah,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Abdya Rahwadi AR ST membenarkan lima bus tersebut dalam kondisi keropos di bagian bodi, kursi termasuk cat terkelupas. Namun, Rahwadi mengaku selama ini pihaknya hanya mengelola anggaran untuk pemeliharaan rutin, seperti ganti oli, rawat mesin, minyak dan kerusakan kecil lainnya.

“Kalau untuk rehab berat seperti kondisi terkini, kita tidak memiliki anggaran. Namun, setiap tahun tetap kita lakukan pengusulan.

Hal itu tergantung ketersediaan anggaran di daerah,” terangnya. Rahwadi menyebutkan, armada bus sekolah di Abdya berjumlah 13 unit ditambah tiga unit pikap untuk menjemput siswa yang sulit dijangkau oleh bus.

“Kita butuh enam unit lagi untuk memaksimalkan sarana transportasi sekolah di Abdya,” sebutnya.

Biaya Perawatan Rp 40 Juta
Kepala Dinas Perhubungan Abdya Rahwadi juga menyebutkan anggaran untuk perbaikan bus tersebut mencapai Rp 40 juta hingga Rp 60 juta per unit. Karena, ada tiga unit yang harus direhab berat dan dua unit rehab sedang.

“Meski usianya sudah belasan tahun (sejak 2003), namun kondisi mesin masih bisa beroperasi,” katanya.

Untuk itu, Rahwadi berharap kepada pihak dewan untuk mengawasi dan mendukung agar anggaran merehab bus sekolah dapat terealisasi ke depan. “Dalam APBK Perubahan 2018 juga telah kita usulkan,semoga saja terealisasi,” ujarnya.(c50)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved