Salam

Kita Harusnya Bangun Masjid Aceh di Lombok

Pemerintah Aceh menyerukan seluruh elemen masyarakat daerah ini menggalang bantuan kemanusiaan untuk korban gempa

Kita Harusnya Bangun Masjid Aceh di Lombok
Warga mengangkat sepeda motornya dari reruntuhan rumah pascagempa di Desa Wadon, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Senin (6/8/2018). Gempa bumi bermagnitudo 7 mengguncang Lombok, Minggu (5/8/2018) malam.(ANTARA FOTO/ AHMAD SUBAIDI) 

Pemerintah Aceh menyerukan seluruh elemen masyarakat daerah ini menggalang bantuan kemanusiaan untuk korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai bentuk solidaritas atas musibah gempa 7 SR yang terjadi Minggu (5/8) malam. “Saya pikir secara universal kita hidup di bumi yang sama. Ketika kita musibah, kita dibantu orang, maka kita juga harus melakukan hal yang sama, gerakan solidaritas, membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah,” kata Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Menurut Nova, sampai dua hari lalu, galangan dana bantuan kemanusiaan di bawah koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) sudah terkumpul Rp 300 juta. Dana itu berasal dari berbagai sumber, termasuk dari instansi pemerintahan dan dunia usaha. “Penggalangan masih terus berjalan dan diharapkan nilainya terus bertambah. Pada saatnya nanti sudah maksimal akan segera kita serahkan ke pihak berwenang di Lombok,” ujar Nova Iriansyah.

Ya memang, sebagai provinsi yang pernah dilanda mahabencana pada 2004 disusul gempa Pijay beberapa tahun kemudian, sudah sepatutnya Pemerintah Aceh dan masyarakatnya juga menggalang dana untuk daerah lain yang dilanda bencana alam, sebagaimana aksi solidaritas yang pernah digalang untuk membantu Aceh kala itu.

Korban akibat gempa memang merata di semua wilayah Pulau Lombok. Mereka tersebar di kampung-kampung, mengungsi di tanah kosong dengan tenda seadanya. Pantaua tiga hari setelah gempa, warga di berbagai penjuru pulau yang sedang berduka itu mulai kekurangan stok makanan. Air bersih juga makin sulit didapat. Yang sangat menyedihkan, banyak di antara mereka belum mendapat bantuan medis dan obat-obatan.

Selain itu, banyak juga korban yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan seperti masjid dan gedung-gedung lainnya hingga kemarin belum bisa dievakuasi. Sedangkan tenda dan penerangan untuk para pengungsi, dikabarkan sudah mulai tercukupi.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyampaikan, untuk sementara yang menjadi prioritas utama jajarannya ialah membangun sanitasi dan akses air bersih. Persoalan tersebut akan menjadi masalah dalam satu dua hari ke depan. “Ini orang satu dua hari masih diam, tiga hari gak ada sanitasi, air bersih, pasti ribut.”

Kita apresiasi juga kesigapan pemerintah dan lapisan masyarakat lainnya dalam membantu korban bencana di NTB itu. Sebab, sebagai masyarakat dan pemerintah yang berada di belahan bumi rawan bencana ini, dari hari ke hari kita memang harus terus belajar untuk selalau siap terhadap kondisi apapun saat bencana.

Kemudian, terkait dengan penggalangan yang dilakukan Pemerintah Aceh, kita berharap bisa menjadi sesuatu yang monumental bagi masyarakat Pulau Lombok. Sebagai pulau yang didiami mayoritas muslim itu, ada baiknya jika sumbangan dari pemerintah dan masyarakat tanah rencong ini dimonumenkan. Misalnya membangun “Masjid Aceh Pulau Lombok” atau “Pesantren Aceh Pulau Lombok”, dan lain-lain. Jadi, tidak menyumbang berupa mi instan atau beras. Sebab, sumbangan dalam bentuk “eceran” seperti itu bisa datang dari mana saja. Sedangkan yang bersifat monumental memang harus penggalangan dana secara khusus.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved