Warga di 6 Negara Ini Tolak Punya Anak, Akibatnya Tingkat Populasi tidak Stabil

Banyaknya populasi yang semakin menua menyebabkan anggaran untuk perawatan kesehatan dan pensiun sangat tinggi.

Warga di 6 Negara Ini Tolak Punya Anak, Akibatnya Tingkat Populasi tidak Stabil
LanceB/Getty Images/iStockphoto
Ilustrasi lautan manusia 

Menurut Child Care Aware of America, rata-rata yang harus dikeluarkan orangtua adalah 10 ribu dollar AS (sekitar Rp144 juta) per tahunnya.

Tingkat kelahiran AS selalu rendah sejak 1970an. Tidak cukup banyak anak yang lahir untuk menjaga populasi tetap stabil.

Tahun lalu, Biro Sensus AS melaporkan bahwa wanita yang memiliki anak di usia 25-35 tahun, kesulitan mendapat gaji yang sesuai, dibanding mereka yang melahirkan di atas usia tersebut. Oleh sebab itu, wanita-wanita Amerika saat ini, baru memiliki anak di umur yang lebih tua.

Spanyol

Spanyol memiliki jumlah kematian yang lebih banyak dibanding kelahiran. Beberapa kota bahkan sudah tidak memiliki anak muda.

Wanita Spanyol cenderung melahirkan di umur tua. Rata-rata, angka kelahirannya 1,5 anak.

Pada 2017, populasi di Spanyol memang meningkat. Namun, ini karena kedatangan imigran dari negara-negara konflik, bukan karena kelahiran bayi baru.

Baca: Arab Saudi Rasa Spanyol

Tahun lalu, pemerintah Spanyol telah memperkerjakan komisaris khusus untuk membalik keadaaan dan meningkatkan angka kelahiran.

Korea Selatan

Tidak stabilnya kondisi finansial menjadi alasan utama warga Korea Selatan menolak punya anak.

Halaman
1234
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved