Warga di 6 Negara Ini Tolak Punya Anak, Akibatnya Tingkat Populasi tidak Stabil

Banyaknya populasi yang semakin menua menyebabkan anggaran untuk perawatan kesehatan dan pensiun sangat tinggi.

Warga di 6 Negara Ini Tolak Punya Anak, Akibatnya Tingkat Populasi tidak Stabil
LanceB/Getty Images/iStockphoto
Ilustrasi lautan manusia 

Laporan dari United Overseas Bank cabang Singapura menyatakan bahwa negara ini mengikuti langkah yang sama seperti Jepang. Pada 2017, persentase penduduk berusia di atas 65 tahun setara dengan jumlah anak-anak di bawah 15 tahun.

Baca: Jadi Tuan Rumah KTT Kim Jung Un-Donald Trump, Pemerintah Singapura Pamerkan Kuliner Khas

Meskipun tenaga kerja di Singapura bertambah tua dan proporsi kaum mudanya menurun, namun para ahli mengatakan, efek bom waktu demografis masih bisa dibalik. Yakni, dengan merekrut lebih banyak pekerja imigran - sesuatu yang belum menjadi fokus Jepang.

Tiongkok

Dua tahun lalu, Tiongkok mulai mengizinkan setiap keluarga untuk memiliki dua anak (sebelumnya hanya satu). Namun, kebijakan ini belum mampu menyeimbangkan angka kelahiran.

Oleh sebab itu, pemerintah mulai mengambil langkah-langkah lain untuk mendorong kelahiran. Beberapa provinsi memberikan bonus uang tunai kepada orangtua yang memiliki dua anak.

Baca: AS dan Tiongkok Perang Dagang , Apa yang Terjadi Sebenarnya?

Pemerintah provinsi Shanxi utara, mengumumkan bahwa mereka akan memberikan subsidi pernikahan dan membantu membiayai pesta, foto pra-wedding, dan perjalanan bulan madu.

Sementara itu, provinsi lainnya bahkan menghapus batas jumlah anak.

National Health Commision, juga diketahui telah meminta para peneliti untuk mempelajari apakah keringanan pajak dapat membantu memicu `ledakan bayi' di negara tersebut. (*)

Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved