Bahasa Indonesia di Ruang Public : Penguatan Jati Diri Kebangsaan

Tatkala tiba di beberapa kota besar Indonesia kita kerap membaca tulisan berbahasa Inggris pada kawasan

Bahasa Indonesia di Ruang Public : Penguatan Jati Diri Kebangsaan

Oleh: Muhammad Muis, Bahasawan dan Kepala Balai Bahasa Aceh, Badan Bahasa, Kemdikbud

Tatkala tiba di beberapa kota besar Indonesia kita kerap membaca tulisan berbahasa Inggris pada kawasan permukiman, badan usaha, dan bangunan misalnya. Andaikan orang asing yang melihat itu, boleh jadi ia akan berpikir: Oh, ternyata bahasa Indonesia tidak menjadi tuan di tanah airnya sendiri! Mengapa hal itu terjadi?

Fenomena Kebahasaan
Ruang publik sejatinya adalah sebuah ruang besar” untuk orang bersosialisasi, berinteraksi, dan bahkan belajar. Bahasa yang dimanifestasikan di sana seyogyanyalah bahasa yang elok, bernas, mendidik, dan menimbulkan kegairahan dan kecintaan akan kebangsaan. Bahasa di ruang publik itu sepatutnyalah bahasa Indonesia yang memicu dan menumbuhkan kecintaan anak bangsa akan bangsanya, yang merepresentasikan jati diri keindonesiaan.

Fenomena penggunaan bahasa Inggris di ruang publik bukanlah cerita baru, masih marak,dan masih tetap relevan untuk diperincangkan. Itu terjadi tidak hanya di Jakarta. Di Jakarta tidak terhitung jumlahnya penamaan berbau asing: Pulo Gadung Trade Centre (PGC), Cililitan Trade Centre (CTC), Sudirman Square, Jakarta Garden City, dan International Trade Centre (ITC)—misalnya ITC Mangga Dua dan ITC Cempaka Mas. Seturun dari pesawat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, Anda disambut dengan tulisan Sultan Iskandar Muda International Airport. Demikian pula setiba di bandara Kualanamu, Medan, tulisan Kualanamu International Airport siap menyapa Anda.

Di Bandarlampung pun terdapat nama-nama pusat pertokoan berbau Inggris: Simpur Centre, Central Plaza, dan Bandarlampung City. Betapa lok jika penamaan itu ditulis dalam bahasa Indonesia! Tentu saja, masih tetap dapat dipakai namanama asing badan usaha cabang badan usaha luar negeri dan nama asing merek dagang yangterdaftar dan mempunyai hak paten. Demikian juga, organisasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan perwakilan diplomatik negara asing dapat tetapmenggunakan tulisan/huruf dan/atau bahasa asing yang ditulis di bawah nama dalam bahasa Indonesianya.

Apakah hal itu berkaitan dengan kurangnya kecintaan terhadap bahasa Indonesia? Tidakjelas. Namun, kecintaan berlebihan terhadap bahasa Inggris dapat saja memudarkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Bukankah bahasa Indonesia—dari aspek gengsi—cenderung dianggap hanya menempati posisi nomor dua?Posisi pertama tentu bahasa Inggris, bukan? Sejatinya, sikap bahasa kita terhadap bahasaIndonesia harus menjadi renungan.

Apakahsebagian kita tidak bangga, tidak menghargai, tidak paham, atau tidak mencintai bahasa kita? Benarkah ada kelompok yang acuh tak acuh, tidak mau tahu, atau cenderung tidak peduli akan bahasa bangsanya?

Jalan Keluar
Jalan keluar yang harus diupayakan, misalnya setiap orang Indonesia—pengusaha,birokrat, politisi, pakar, peneliti, dosen, guru, pelajar, ataupun orang awam—harus lebih memupuk kecintaannya terhadap bahasa Indonesia (juga bahasa daerahnya masingmasing). Harus ada perasaan bangga kan bahasa Indonesia.

Hal itu harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga masing-masing. Instansi pemerintah seyogyanya memberikan perhatian lebih baik terhadap bahasa Indonesia (dan daerah)—terutama bertalian dengan penamaan dan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Instansi pemberi izin usaha hendaklah mengimbau dan mengajak dunia usaha untuk memprioritaskan penamaan bidang usaha dengan mengedepankan penamaan berbahasa Indonesia.

Dunia persekolahan (madrasah) dan perguruan tinggi harus lebih memantapkan penggunaan bahasa Indonesia dalam tradisi belajar mengajar. Pengetahuan para guru, ustaz, dan dosen tentang bahasa Indonesia harus dimutakhirkan secara berkala dalam pelbagai diklat. Peserta didik harus dibiasakan bertutur dan menulis dengan bahasa Indonesia yang intelek, bernas, benar, santun, dan elok. Media massa cetak dan elektronik serta media daring (on-line) menjadi wahana penyebaran informasi dan pendidikanmasyarakat. Penggunaan bahasa Indonesia media massa menjadi percontohan dalam berbahasa Indonesia. Diklat kebahasaan bagi wartawan harus menjadi salah satu prioritas darimanajemen media itu dan lembaga kebahasaan.

Tanggung Jawab Kebahasaan
Tanggung jawab kebahasaan bukan hanya melulu terpikul di pundak lembaga kebahasanresmi Pemerintah, seperti Badan Bahasa, Kemdikbud, bersama UPT-nya (balai dan kantor bahasa di tiga puluh provinsi), tetapi juga instansi lain. Bahkan, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, ilmuwan, pakar, birokrat, politisi, legislator, hakim, jaksa, agamawan, pejabat (sipil dan militer), penulis, wartawan, dan seluruh rakyat Indonesia—pengguna dan pemilik bahasa ini—juga ikut mengemban tanggung jawab itu.

Tanggung jawab kebahasaanadalah tanggung jawab kolektif semua anak bangsa. Orang agaknya perlu disadarkan kembali bahwa bahasa Indonesia adalah berkah dari Tuhan dan salah satu harta bangsa paling berharga, menjadi satu-satunya alat perekat yang tidak pernah menimbulkan persoalan bagi seluruh masyarakat Indonesia dari etnik, agama, dan ras apa pun dan di wilayah mana pun.

Bahasa Indonesialah sebagai bahasa kebangsaan yang mampu mempersatukan dan mengikat kita sebagai saudara dan bangsa. Masyarakat Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Cina bukanlah berbahasa Inggris dan tidak mengalami proses penginggrisan yang memprihatinkan. Mereka mencintai dan bangga akan bahasanya.

Dibandingkan dengan kelima bangsa itu, fenomena kebahasaan di tanah air berbanding terbalik. Orang Indonesia spertinya harus terus didorong agar semakin mencintai dan bangga akan bahasanya. Di dalam dada setiap anak Indonesia sejak dini harus bersemi kalimat “Aku cinta bahasa Indonesia”. Sebagai bangsa besar—kendatipun masih kalah dalam beberapa hal dengan bangsa lain—setidak-tidaknya dalam kecintaan terhadap bahasa nasional, kita tidak boleh kalah dengan kelima bangsa itu, bukan?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved