Karakter Generasi Aceh Harus Diubah

Mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA menyatakan, kondisi Aceh

Karakter Generasi Aceh Harus Diubah
SERAMBINEWS.COM
Farid Wajdi Ibrahim 

* Jika Ingin Daerah Maju

BANDA ACEH - Mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA menyatakan, kondisi Aceh selama ini terus bergelimang dalam ketertinggalan, baik secara ekonomi maupun pendidikan. Untuk memutus mata rantai itu, perlu dilakukan perubahan terhadap karakter generasi Aceh ke depan.

“Saya melihat 80 persen generasi muda Aceh menghabiskan waktunya dengan minum kopi,” kata Farid saat menjadi pembicara pada acara seminar `Beudoh Gampong’ yang diprakarsai Yayasan Beudoh Gampong di aula Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Banda Aceh, Sabtu (11/8).

Dia menyampaikan, kondisi Aceh saat ini semakin riskan. Jika diukur dengan angka, maka posisi Aceh selalu berada di lima besar terakhir dari 34 provinsi di Indonesia. Baru-baru ini, tingkat kompetensi guru di Aceh berada pada tingkat 32, di atas Papua dan Papua Barat. Begitu juga soal kemiskinan, Aceh berada di atas rata-rata nasional.

Untuk itu, kata Farid, dibutuhkan terobosan nyata agar Aceh tidak larut dalam ketertinggalan dan kemiskinan. Masyarakat Aceh, lanjutnya, harus malu dengan kejayaan Aceh pada masa lalu, padahal kondisi masa lalu lebih sulit dari sekarang.

“Aceh dulu luar biasa hebat, kita sudah tahu itu, tidak usah lagi diputar pilem itu tapi hanya gambaran saja. Masa lalu itu modal masa depan, tapi bagaimana kondisi Aceh sekarang?” ujar Farid.

Untuk bisa maju, menurut Farid, generasi muda Aceh saat ini harus memiliki karakter seperti karakter ‘bushido’ di Jepang, yaitu disiplin, jujur, berani, bekerja keras, dan setia. Satu karakter saja kurang, maka orang itu tidak bisa pakai. “Karakter seperti ini yang diharapkan zaman sekarang. Di dunia manapun digunakan tetap laku, di Aceh juga laku,” ungkapnya.

Selama ini dalam khutbah-khutbahnya, Farid mengungkapkan sering menyentil potret kehidupan masyarakat Aceh secara umum yang tidak mau berfikir bagi kemajuan daerah. Masing-masing individu hanya memikirkan kepentingan pribadi. Para pemimpin daerah juga tidak bisa diharapkan lagi.

“Uro nyoe tanyo hana pat taharap le. Ta harap bak aneuk, aneuk yang poh mate. Ta harap bak rusok, rusok yang syok hate. Ta harap bak ubat, ubat yang peutimoh kude. Ta harap bak page keube lam pade. Ta harap bak pemimpin, pemimpin yang gadoh meupake. Ta harap bak rakyat, rakyat habeh cre bre. Ta harap bak pemuda, pemuda gadoh di café-café,” kata Farid.

Selain Farid, pada kegiatan yang dilaksana menyambut Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII tahun 2018 itu juga menghadirkan dua pembicara lain yaitu, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Badruzzaman Ismail SH MHum dan Dr Eng Ir Teuku Abdullah Sanny MSc, penggagas Yayasan Beudoh Gampong yang juga akademisi dari Institut Teknologi Bandung. Kegiatan itu diikuti unsur akademisi, mahasiswa, masyarakat, dan unsur mukim.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved