CRU Peusangan Minim Dana

Conservation Response Unit (CRU) Peusangan yang berada di Kampung Antara Km 40, Kecamatan Pintu Rime Gayo

CRU Peusangan Minim Dana
Arjuna (38) seekor gajah dengan mahout (pawang gajah) yang beberapa tahun ini menjadi bagian penggiringan dan pengusiran gajah liar di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah. Poto direkam, Minggu (12/8) SERAMBI/MUSLIM ARSANI 

* Miliki Tiga Ekor Gajah Jinak

REDELONG - Conservation Response Unit (CRU) Peusangan yang berada di Kampung Antara Km 40, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah minim dana, bahkan dana operasional tidak ada. Badan konservasi ini yang memiliki tiga ekor gajah jinak, dua jantan dan satu betina tidak bisa digerakkan untuk menghalau gajah liar yang sering masuk pemukiman.

Dilaporkan, CRU Peusangan dalam kondisi mengkhawatirkan, karena sudan delapan bulan tidak beroperasi menghalau gajah liar, akibat tidak ada ada operasional. Padahal, keberadaannya sangat penting dalam hal mitigasi konflik gajah dengan manusia, namun sejak APBA 2018 Dipergubkan, CRU Peusangan mengalami kesulitan.

Alasannya pihak dinas terkait di provinsi tidak mengucurkan anggaran operasional bagi CRU pada 2018 ini. “Kami tidak bisa patroli dan monitoring, karena tidak punya dana operasional,” kata Syahrul Azmi, leader CRU DAS Peusangan.

Dia menjelaskan, dengan wilayah kerja yang luas, CRU DAS Peusangan hanya memiliki tiga ekor gajah jinak, yang diberinama Arjuna, Rahmad dan seekor gajah betina. Disebutkan, pihaknya memiliki dua mahout atau pawang gajah bersama tiga asisten, kemudian satu juru masak, satu penjaga barak, dan dirinya sebagai leader atau pemimpin.

“Walau ada kendala, khususnya dana operasional yang tidak kunjung dikucurkan, kami tetap terlibat dalam pengusiran gajah,” katanya. Dia mencontohkan, seperti memberitahu kepada masyarakat cara menghalau gajah dengan menggunakan HP atau telepon genggam.

Syahrul menyatakan konflik gajah dengan manusia, bukan hanya masalah Kecamatan Pintu Rime Gayo atau Bener Meriah saja. Tetapi, penanganannya harus melibatkan dua kabupaten lainnya yang menjadi cakupan wilayah CRU DAS Peusangan, termasuk pihak provinsi.

“Memang memerlukan semua pihak untuk penanganan konflik gajah dengan manusia disini. Ya, saat ini yang bisa kami lakukan hanya memberikan pengarahan kepada masyarakat tentang cara penggiringan gajah yang masuk ke pemukiman dan perkebunan, karena jika salah penanganan, maka dampaknya akan lebih buruk,” ujarnya.

Peringatan World Elephant Day (WED) di Aceh, digelar di Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Berbagai aktivis lingkungan dan komunitas peduli kelestarian gajah ikut terlibat dalam beberapa rangkaian kegiatan di Kampung Antara Km 40, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Minggu (12/8).

“Kita ingin mengajak masyarakat lebih mengenal gajah, terutama tentang tanaman yang tidak disukai gajah, seperti buah lemon dan serai,” kata Muhammad Agung, koordinator penyelenggara WED. Disebutkan, cara tersebut sebagai langkah pembelajaran bagi masyarakat Kecamatan Pintu Rime Gayo, daerah terawan konflik manusia dengan gajah.

Disebutkan, melalui edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, maka akan mampu menjaga lingkungan. “Rusaknya lingkungan merupakan penyebab gajah memasuki pemukiman, karena telah kehilangan sumber makanan mereka, alhasil area gajah juga menyempit dan kehilangan sumber makanan akibat penebangan hutan untuk dijadikan kebun sawit dan lainnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sekitar 50 ekor gajah liar masih menempati wilayah seputaran DAS Peusangan, yang mencakup beberapa kabupaten, Bener Meriah, Aceh Tengah dan Bireuen. “Rusaknya lingkungan akan mengancam kehidupan gajah, dan seharusnya menjadi perhatian semua pihak, agar terlibat untuk menyelamatkan gajah,” ungkapnya.(c51)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved