Rumah Korban Gempa Bireuen Mulai Dibangun  

Setelah hampir dua tahun sejak gempa bumi terjadi pada 7 Desember 2016 lalu, korban gempa di Bireuen

Rumah Korban Gempa Bireuen Mulai Dibangun   
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS
Peletakan batu pertama rumah korban gempa oleh Sekdakab Bireuen, Ir Zulkifli SP di Gampong Geulumpang Bungkok, Kecamatan Samalanga, Bireuen, Selasa (14/8/2018). 

BIREUEN - Setelah hampir dua tahun sejak gempa bumi terjadi pada 7 Desember 2016 lalu, korban gempa di Bireuen kini bisa bernapas lega. Peletakan batu pertama tanda dimulainya pembanguna rumah dilakukan di Gampong Geulumpang Bungkok, Samalanga Bireuen, Selasa (14/8).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek dalam sambutannya mengakui, pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban rusak akibat gempa dua tahun lalu memang terlambat. Keterlambatan bukan disebabkan pemerintah daerah, tapi kucuran dana rehab pemerintah pusat ke daerah yang harus melalui berbagai proses pendataan, verifikasi, dan lainnya. Pembangunan pun sedikit terlambat dibandingkan Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

Meskipun sedikit terlambat, namun diharapkan menjadi motivasi yang kuat untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan rumah yang dilaksanakan secara swakelola sesuai dengan rencana anggaran, gambar, dan pedoman lainnya. Bila ada persoalan, warga diharap segera bermusyawarah sehingga tidak menimbulkan masalah hukum nantinya.

Dikatakan, dalam pelaksanaan kegiatan, diharapkan ada tim yang mendampingi kelompok masyarakat, sehingga tidak melanggar aturan. “Memang sudah telat, tapi jangan telat lagi. Laksanakan segera agar para korban gempa dapat menempati tempat tinggal yang layak dan memadai,” ujarnya.

Sekdakab Bireuen Ir Zulkifli SP dalam sambutannya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dukungan semua pihak, terutama masyarakat Gampong Geulumpang Bungkok, Samalanga. “Pembangunan rumah hunian tetap ini yang menjadi harapan kita selama ini akhirnya menjadi kenyataan, karena pekerjaan ini merupakan komitmen pemerintah pusat yang dianggarkan dalam APBN tahun 2018,” ujarnya

Berdasarkan fakta dan hasil verifikasi oleh tim fasilitator rehab rekons, jumlah rumah rusak di Bireuen akibat gempa bumi sebanyak 180 unit, yang terdiri atas rusak berat atau yang harus dibangun kembali sebanyak 38 unit. Rumah rusak atau rumah yang perlu direhab sebanyak 142 unit.

Pemerintah memberikan dana stimulan sebesar Rp 85 juta untuk rumah rusak berat dan Rp 20 juta untuk rumah rusak. Total anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 6 miliar lebih. Dana tersebut ditransfer ke rekening kelompok secara bertahap. Sistem pelaksanaan pembangunan tersebut dilakukan dengan cara pemberdayaan, yaitu melalui Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang telah dibentuk dan didampingi oleh tim fasilitator. Bantuan rumah hunian tetap mulai kemarin dikerjakan dan ditargetkan selesai dalam waktu 45 hari ke depan.

Ketua Kelompok Kamboja, Desa Geulumpang Bungko, Samalanga, Bireuen, Muhammad (40), berharap kucuran dana tidak tersendat-sendat, sehingga bisa selesai sesuai target. “Kami mengharapkan kucuran anggaran tahap kedua dan ketiga lancar, sehingga pekerjaan cepat selesai,” ujarnya kepada Serambi disela-sela peletakan batu pertama di Geulumpang Bungkok, Samalanga, kemarin.

Rumah yang dilakukan peletakan batu pertama milik Juwaini (50), seorang janda cerai hidup bersama dua anaknya yang tergabung dalam kelompok Kamboja. Keuchik Geulumpang Bungkok, Fadli kepada Serambi mengatakan, jumlah korban rumah rusak di Geulumpang Bungkok 12 unit, rusak sedang 32 unit, dan dibentuk tiga kelompok masyarakat.

Kalak BPBD Bireuen, M Nasir SP MSM dalam laporannya mengatakan, rumah rusak akibat gempa sebanyak 142 unit tersebar di 21 desa di Kecamatan Samalanga dan Simpang Mamplam.

Ada 11 kelompok yang dibentuk dengan jumlah anggota 180 orang, yakni korban yang rumahnya rusak. Anggaran dikucurkan tiga tahap, tahap pertama 40 persen, tahap kedua dan ketiga masing-masing 30 persen. Kucuran anggaran tahap berikutnya tergantung pada hasil verifikasi pekerjaan di lapangan. “Cepat selesai, cepat dikucurkan anggaran tahap berikutnya. Pekerjaan harus sesuai rencana kerja dan diawasi tim serta unsur Muspika,” ujarnya. (yus)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved