Ipda Zulmahrita:, Sudah Rezeki Saya di Kepolisian

PEREMPUAN asal Kabupaten Bireuen ini, Ipda Zulmahrita SE, sepertinya bukan perempuan biasa

Ipda Zulmahrita:, Sudah Rezeki Saya di Kepolisian

PEREMPUAN asal Kabupaten Bireuen ini, Ipda Zulmahrita SE, sepertinya bukan perempuan biasa. Minimal bisa membuktikan bahwa wanita bisa menjadi terhebat di tengah-tengah kaum pria. Buktinya, akhwat yang sering disapa Dek Ta ini beroleh Juara Umum (Ranking I) Pendidikan Sekolah Inspektur Polisi Khusus (Dik SIP Sus) Intelkam Angkatan III tahun 2018 di Bandung.

Predikat anyar itu diraih sosok Pama Ditintelkam Polda Aceh ini dalam waktu 3,5 bulan, dan berjaya dari 249 peserta pendidikan (perempuan hanya empat orang saja).

Secara nasional, tentu kita bangga dengan prestasi putri Usman Ali dan (Alm) Cut Syahkubandi, warga Matangglumpang Dua, Kecamatan Peusangan, Bireuen ini bukan? Apalagi secara daerah. Sungguh, suatu proses pendidikan “keras” yang ditaklukkan oleh perempuan.

Waktu tes IPO (individual police officer) misi PBB beberapa waktu lalu, Dek Ta memang gagal berangkat. Sejujurnya, Dek Ta gagal pada tes terakhir, untuk berangkat. Tapi kali ini, dia boleh berlapang hatilah. Ada oleh-oleh yang bisa dibawa pulangnya ke hadapan keluarga besar Mabes Polda Aceh.

Serambi yang menghubunginya via WA (karena Dek Ta masih di Bandung), sempat menanyakan bagaimana kisah perjuangannya dalam pendidikan. Kesannya sih keras. Ya sudah barang tentulah. Mana ada sekolah aparat yang dijalani bagai melangkah di catwalk. Ya kan?

“Di Pendidikan Inspektur Sus Intel yang saya ikuti ini, dalam kita berkompetensi tidak ada perbedaan antara wanita dan pria. Di pendidikan ini juga seluruhnya terdiri dari 246 pria dan empat wanita. Tapi bagi pengasuh tidak ada wanita yang dapat perlakuan istimewa atau spesial. Semua diperlakukan sama. Satu sakit, semua juga merasakan sakit. Satu yang berbuat salah, semua kena tindakan. Di situlah kita diajarkan kekompakan dan kebersamaan dengan rekan-rekan seperjuangan kita,” ungkap Dek Ta.

Dia juga membeberkan bahwa di dalam ruang makan saja, semua harus berdisiplin dalam tatacara makan. Lalu, sebelum makan harus melaksanakan apel dan lari siang dengan memakai ransel yang beratnya sekitar 15 kilogram.

“Masih juga diikuti dengan aturan lain. Begitu juga sebelum belajar ke ruang kelas, tetap terikat dengan aturan-aturan. Kita ikatan pleton, disiplin di pendidikan ini diterapkan dengan apel pagi, apel siang, apel malam,” jelas Dek Ta tanpa bermaksud protes.

Mungkin hanya ingin berbagi cerita kepada khalayak umum atau sebagai gambaran pendidikan khusus itu. Paling tidak bagi peminat pendidikan ini bisa memersiapkan jiwa dan raganya.

Sama seperti orang lain yang sedang jauh dengan keluarga. Zulmahrita tetap merasakan hal-hal bersifat manusiawi di relung hatinya pada saat-saat tertentu. “Suka dukanya ya ada sedih juga ya. Tapi banyak senangnya. Ya sedihnya, pas ingat keluarga, terutama ingat almarhumah ibu. Kalau senangnya ya banyak sahabat. Dari Sabang sampai Merauke, yang walaupun berbeda-beda tapi tetap bersatu jua.”

Dek Ta masih ingat betul apa pesan orang tuanya. Dia harus menjadi seorang perwira yang bisa diandalkan, melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat, serta menjadi panutan bagi keluarga. Kalimat itulah yang juga menjadi semangat perjuangan Dek Ta, perempuan yang pernah menjabat ADC istri Gubernur Aceh pada 2012.

Dia pun tahu persis, untuk apa dia memilih kariernya di kepolisian. “Saya memilih sekolah ini, bukan memilih sih sebenarnya. Tapi sudah rejekinya saya disini dan sekolah ini, juga membidangi bidang intelijen. Di mana dalam bidang ini, tugas yang saya emban selama ini lebih kurang 15 tahun saya sudah berdinas. Itu memang sudah jiwa saya mungkin. Jodoh kerja saya,” ungkap perempuan kelahiran Meunasah Dayah, 25 September 1982 ini, prihal takdirnya di kepolisian.

Begitulah, kalau tadinya Dek Ta pernah juara lomba menembak versi Perbakin padaa 2010, kali ini tembakannya tak bisa dipandang sebelah mata. Membawa pulang dua medali. Juara Umum (Ranking I), dan juara Cendikia. Penghargaan yang diterimanya, Adhi Makayasa (penghargaan tahunan kepada lulusan terbaik dari setiap matra TNI dan Kepolisian, yaitu Matra Darat, Matra Laut, Matra Udara, dan Matra Kepolisian), tentu pantas dicatat dalam deretan sejarah perempuan Aceh, katagori Kepolisian.

Nah, setelah ini apa? Ah, Ipda Zulmahrita SE, jangan-jangan bisa dipromosikan menjadi Kapolsek atau Kasat Intel, barangkali ya? Entahlah. Tapi yang penting Dek Ta tak lupa dengan pesan orang tuanya. Menjadi perempuan yang berkualitas yang sesuai dengan visi-misi kepolisian. Hanya ada satu kata. Barakallah. (nani hs)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved