Opini

Mengaktualisasikan Makna Pengorbanan Nabi Ibrahim

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim

Mengaktualisasikan Makna Pengorbanan Nabi Ibrahim
ist

(Refleksi Idul Adha 1439 H))

Oleh Munawar A. Djalil

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar”. (QS. ash-Shaffat: 102)

PENGERTIAN kurban pada hakikatnya bukan hanya menyembelih hewan saja dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi secara filosofis kurban bisa berdimensi luas. Pengorbanan adalah sebagai sebuah konsekuensi logis dari keyakinan yang diperjuangkan untuk mencapai kesalehan, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial. Hal ini tampak dari kesanggupan Nabi Ibrahim as menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail, sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran yang kita kutip di atas.

Pengorbanan Ibrahim as bukan semata-mata didorong oleh perasaan taat dan setia yang membabi buta, tetapi meyakini bahwa perintah Allah Swt itu harus dipatuhi. Bahkan, Allah Taala memberi perintah seperti itu sebagai peringatan kepada umat yang akan datang bahwa adakah mereka sanggup mengorbankan diri, keluarga dan harta benda yang disayangi demi menegakkan perintah Allah Swt.

Mendekatkan diri
Kata kurban dalam bahasa Arab bermakna mendekatkan diri. Dalam literature fiqh Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah, sebagian ulama menamakannya dengan istilah an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam Alquran dengan firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS. al-Kautsar: 2).

Dalam konteks sejarah para Nabi, misalnya Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, telah menunjukkan pengorbanan yang sangat besar dalam berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini. Perjuangan Rasulullah dan para sahabat ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang diderita oleh umat Islam di Mekkah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.

Rasulullah saw pernah dilempari batu oleh penduduk Thaif, dianiaya oleh Ibnu Muith. Leher beliau pula pernah dicekik dengan usus onta sedangkan Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal bin Rabbah ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari di siang-bolong. Yasir dan keluarganya dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah ditusuk kemaluan beliau dengan sebatang tombak.

Sejarah Nabi Yusuf as yang disiksa dan dibuang ke sebuah sumur tua oleh saudara-saudaranya sendiri adalah bagian dari pengorbanan beliau menegakkan kebenaran. Sejarah Nabi Musa as yang mengalami tekanan, tidak hanya dari Fir’aun, tetapi juga kaumnya sendiri, adalah juga wujud dari pengorbanan beliau. Berbagai pengorbanan lainnya telah dilakoni oleh para Nabi tempo dulu.

Pengorbanan Aceh
Dalam kontek sejarah Aceh pula, rakyat di bumi Iskandar Muda ini telah banyak berkorban untuk sebuah bangsa besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagian dari pengorbanan rakyat Aceh ketika sekutu kembali memasuki wilayah RI dalam Agresi Militer Benlanda I (21 Juli-4 Agustus 1947) dan Agresi Militer Belanda II (19-20 Desember 1948). Saat itu seluruh wilayah RI telah dikuasai oleh Belanda, Aceh dengan bangga menyumbangkan pesawat dan mengumandangkan suara melalui Radio Rimba Raya bahwa RI masih eksis sebagai sebuah negara berdaulat dalam peta dunia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved