Breaking News:

Kisah Keluarga Miskin tak Punya Rumah, Kakak Adik Tinggal di Kandang Kerbau di Tengah Hutan

Yang membuat warga sekitar prihatin, kakak beradik tersebut tinggal bersama kerbau di tengah hutan

Editor: Muhammad Hadi
Wiwit Setianingsih (16) dan adiknya Vivi Ratnasari (10), dalam gubuk di tengah hutan Bukit Mangger, Desa Sengare, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (1/9/2018). (Tribun Jateng/Budi Susanto) 

"Dulu saya pernah sekolah tapi sampai kelas satu," katanya dengan suara lirih.

Sementara itu Dasirin menerangkan, terpaksa mengajak anak dan istrinya tinggal jauh dari pemukiman karena tak punya tempat tinggal.

"Mau bagaimana lagi kami tidak punya apa-apa, untuk menyambung hidup saja kami harus banting tulang naik turun bukit menjadi buruh tani, dan merawat ternak berupa kerbau milik orang," imbuhnya.

Dasirin sendiri sudah satu tahun tinggal di puncak Bukit Mengger, dan keluarganya ia ajak kurang lebih empat bulan lalu.

Baca: Petugas Bandara SIM Gagalkan Penyelundupan Narkoba 600 Gram, Ini Janji Imbalan Uang Untuk Kurir

Baca: Mengerikan! Ketika Ular Sanca Bertarung dengan King Kobra, Keduanya Berakhir Tragis

"Kedua anak saya tak pernah mengeluh, mereka tau kondisi keluarga. Walaupun demikian kadang saya sangat sedih melihat kondisi kedua anak saya," tambahnya.

Mata lelaki paruh baya itu berkaca-kaca kala menceritakan kehidupan keluarganya yang tinggal menyendiri di atas bukit.

"Ketika malam dan istri saya sering menangis melihat kondisi anak-anak, karena kedua anak kami punya keterbatasan ditambah ekonomi kami seperti ini. Kadang Wiwit dan Vivi mengatakan kepada saya ingin jadi orang pintar dan ingin belajar terus menerus. Tapi apa daya kami keadaan ini memaksa kami hidup di kondisi seperti ini," kata Dasirin.

Baca: Ada Bom Waktu di Bawah Samudra Arktik yang Dikhawatirkan Para Ilmuwan

Baca: Gudang Milik ISIS Penuh Senjata Buatan Israel, Ditemukan Oleh Tentara Suriah 

Guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, tak jarang Dasirin memanfaatkan buah-buahan dan umbi yang ada di sekitar hutan.

"Adanya umbi ya kami makan, beruntung kalau ada buah. Hanya itu yang bisa kami berikan ke anak-anak. Beberapa waktu lalu saya juga salah memakan umbi hingga keracunan, kadang binatang hutan juga masuk ke gubuk kami saat anak-anak tinggal sendiri di gubuk. Kami tak bisa berharap apa-apa dan hanya bisa bertahan," timpalnya.(Tribun Jateng/TribunBudi Susanto)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved