Opini

Pusat Pendidikan 4.0?

ACEH punya banyak keistimewaan, di antaranya ada Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) yang diperingati

Pusat Pendidikan 4.0?
SERAMBINEWS.COM/RA KARAMULLAH
Gubernur Aceh menyerahkan plakat Anugerah Pendidikan kepada Kabupaten/Kota Berprestasi Dalam Bidang Pendidikan yang berlangsung di Amel Convention Center, Sabtu (30/09/2017). 

(Refleksi 59 Tahun Kopelma Darussalam)

Oleh Dian Rubianty

ACEH punya banyak keistimewaan, di antaranya ada Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) yang diperingati setiap 2 September. Penetapan ini didasarkan pada peristiwa penting yang terjadi pada tanggal tersebut, 59 tahun yang lalu. Saat itu, Presiden RI Ir Soekarno meresmikan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, yang sekarang digadang-gadang sebagai jantong hate rakyat Aceh. Ini tidak lain, karena di sana berdiri megah tiga institusi pendidikan tinggi kebanggaan rakyat Aceh. Ada Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), UIN Ar-Raniry, dan Dayah Pante Kulu.

Sejak ditetapkan, Hardikda biasanya diperingati oleh Pemerintah Aceh dengan upacara. Satu bagian dari seremoni ini adalah penyerahan penghargaan pada guru, pegiat pendidikan dan peserta didik yang berprestasi. Selain upacara resmi, ada juga berbagai kegiatan lain yang diinisiasi baik oleh lembaga pemerintah terkait maupun LSM dan komunitas/masyarakat pemerhati/pegiat pendidikan.

Kemudian ada juga berbagai perlombaan edukatif dan diskusi bersama. Forum diskusi biasanya bersifat refleksi, untuk mengevaluasi sejauh mana capaian pendidikan daerah selama satu tahun. Seorang sahabat lantas berseloroh, “Inilah hari hardik-hardik daerah”. Karena biasanya, pada saat seperti ini akan banyak indikator pendidikan yang dicermati dan didiskusikan.

Untuk Aceh, sampai saat ini masih ada “angka merah” yang tertera di rapor pendidikan gampong kita, utamanya saat berbicara tentang kualitas pendidikan. Hasil uji kompetensi guru adalah satu indikator yang kerap menjadi perhatian. Pada 2016, Aceh secara nasional berada pada peringkat 32 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Artinya, kompetensi guru di Aceh saat itu adalah nomor dua terburuk se-Indonesia. Miris dan menyakitkan, untuk sebuah daerah yang menyatakan diri memiliki tiga keistimewaan, yang satunya di antaranya adalah pendidikan.

Ikhtiar bersama
Alhamdulillah berkat ikhtiar bersama para pendidik dan pemerintah, peringkat 32 itu naik menjadi peringkat 23 pada 2017 lalu. Peningkatan capaian dari hasil uji kompetensi guru kembali diraih pada 2018 ini, Aceh berada di peringkat 15 nasional. Sebuah capaian yang jelas belum menggembirakan, namun melegakan. (Fikar W Eda, Serambi Indonesia, 2018).

Semoga sebagaimana yang direncanakan Pemerintah Aceh, selanjutnya hasil uji kompetesi guru di gampong kita akan berada di urutan lima besar. Sebab, peningkatan kompetensi guru merupakan satu syarat nyata, jika kita bicara tentang usaha perbaikan kualitas pendidikan di gampong kita.

Beralih dari diskusi topik “hari hardik-hardik daerah”, menarik juga bila pada peringatan Hardikda 2018, kita kembali ke kawasan Darussalam, di mana sejarah peringatan Hardikda Aceh bermula. Sejenak, mari melihat kembali sejarah tersebut dan belajar banyak hal. Mengapa bangsa Aceh di bawah koordinasi Gubernur Ali Hasjmy, Letkol Syamaun Gaharu dan Mayor T Hamzah tulus-ikhlas meuripee (bersama-sama mengumpulkan dana) untuk mendirikan pusat pendidikan bernama Kopelma Darussalam? Mungkin satu alasannya adalah karena bangsa Aceh adalah bangsa yang visioner.

Bangsa yang mempunyai cita-cita dan mimpi yang besar, yang tak sekadar mewujudkan makmu beusaree, namun juga menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang bermartabat dan beradab. Perjuangan membela martabat merupakan hal yang krusial. Sejarah mencatat bagaimana martabat menjadi satu nilai penting yang dijunjung tinggi oleh rakyat Aceh. Tak hanya di generasi pendahulu, sebagaimana meminjam istilah Gladwell (2008), ini adalah bagian dari warisan budaya (cultural heritage) yang turun-temurun dipertahankan.

Pasca-kemerdekaan, perjuangan menegakkan martabat ini adalah melanjutkan cita-cita mulia perjuangan, udep saree matee syahid, yang seharusnya tak lagi berbentuk perjuangan fisik. Lebih pada usaha nyata mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Aceh secara adil dan merata. Untuk itu, dibutuhkan generasi yang punya keahlian berbeda dengan para pendahulunya.

Generasi pendiri bangsa adalah generasi yang hidup pada zaman peralihan, antara kondisi di dalam negeri yang masih berada pada zaman agraris, dengan perkembangan dunia yang saat itu sudah memasuki tahap zaman industri kedua. Pertanian dan hasil laut masih merupakan sumber utama penghidupan sebagian besar rakyat di negara agraris, sementara manufaktur dengan berbagai produksi massal berkembang pesat di berbagai belahan dunia. Yang dibutuhkan zaman industri kedua ini adalah “pekerja dunia industri” sebagai tenaga-tenaga pembangunan, mulai dari ahli ekonomi, insinyur, ahli pertanian, dokter-dokter terbaik, ahli tata kelola pemerintahaan dan lain sebagainya, untuk mengejar percepatan pembangunan. Demikian setidaknya pandangan para developmentalist saat itu.

Bagaimana Aceh?
Bagaimana dengan Aceh? Demi melahirkan anak-anak bangsa yang punya berbagai keahlian sesuai tuntutan zaman industri ini, kehadiran pusat pendidikan yang mumpuni adalah niscaya. Hebatnya para indatu kita, mereka “membaca” kebutuhan zaman ini. Berdirinya Kopelma Darussalam adalah wujud kepiawaan mereka tersebut. Begitulah, para pendahulu sudah selesai melaksanakan tugasnya, menyediakan kebutuhan anak-anak bangsa yang sesuai dengan zamannya. Sebagaimana anjuran Umar bin Khattab ra, mereka memfasilitasi anak-anak bangsa dengan pendidikan yang sesuai kebutuhan zamannya.

Pergantian zaman adalah sunnatullah, karena Yang Maha Kekal dan Maha Abadi tak berubah, hanya Allah Rabbul’alamin. Karenanya, peran Kopelma Darussalam juga perlu bersesuaian dengan masing-masing zaman. Saat ini, kita tak lagi berada pada zaman industri kedua. Zaman industri ketiga di mana ilmu, teknologi dan informasi serta bidang elektronika berkembang cepat, pun sudah berlalu. Kini masyarakat dunia sudah melangkah ke era industri 4.0.

Pada orasi ilmiah penerimaan mahasiswa/mahasiswi baru ITB, Dr Eng Sandro Mihradi (2018) menyampaikan bahwa industri 4.0 ini adalah masa di mana perkembangan inovasi digital dan teknologi begitu pesat. Berbagai otomatisasi seperti “bidang robotika, teknologi nano, komputasi kuantum, inteligensia buatan” akan bertubi hadir tak terbendung. Bila yang dihasilkan oleh pusat-pusat pendidikan masih saja sarjana dengan keahlian dan paradigma berpikir untuk era industri sebelumnya, maka sarjana-sarjana ini ibarat “robot ketinggalan zaman”. Model calon tenaga kerja yang tentunya tidak diminati pasar tenaga kerja masa depan.

Maka Kopelma Darussalam sebagai satu pusat pendidikan utama, tak bisa lagi sekadar menjadi “pabrik sarjana” untuk pekerja zaman manufaktur saja. Bertahan dengan model seperti ini hanya akan melahirkan “buruh berijazah” atau “pengangguran berdasi”. Kopelma Darussalam perlu segera mentransformasi diri menjadi Pusat Pendidikan 4.0, guna memersiapkan tenaga ahli yang siap bekerja untuk zaman industri 4.0.

Inilah bagian dari tanggung jawab civitas akademika, baik yang berjuang di UIN Ar-Raniry maupun Unsyiah. Semoga Allah Ta’ala terus memberi kekuatan dan kesehatan untuk para maha guru, yang berjuang mengabdikan ilmunya untuk melayani iman, lillah, fillah. Salam takzim para guree dan selamat melanjutkan perjuangan!

* Dian Rubianty, SE, Ak., MPA., Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: dian.rubianty@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved