Penanganan Kuala Dangkal Butuh Dana Besar

Penanganan atau pengerukan mulut kuala yang dangkal di sepanjang pesisir Bireuen mulai dari Kecamatan Gandapura

Penanganan Kuala Dangkal Butuh Dana Besar
Satu unit speadboat membawa nelayan ketika melewati muara Krueng Cangkoi di Padang Seurahet, Meulaboh, Selasa (25/8). Boat nelayan terpaksa ditambatkan di laut karena muara dangkal.SERAMBI/RIZWAN 

BIREUEN - Penanganan atau pengerukan mulut kuala yang dangkal di sepanjang pesisir Bireuen mulai dari Kecamatan Gandapura, Jangka, Peudada, sampai ke Samalanga, memerlukan anggaran yang cukup besar. Kecuali itu, komitmen bersama dinas terkait dan berbagai pihak lainnya serta peralatan memadai, juga menjadi faktor yang menentukan.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Bireuen, Irwan SP MSi kepada Serambi, Kamis (13/9), menyangkut banyaknya mulut kuala yang dangkal sehingga menyebabkan nelayan kesulitan untuk melaut maupun merapat ke mulut kuala. Dikatakannya, sejak tiga minggu lalu tim DKPP sudah turun ke beberapa mulut kuala untuk melihat secara dekat tingkat kedangkalan, dan penyebabnya, serta langkah yang mungkin dapat dilakukan untuk memudahkan nelayan melaut sebagaimana biasanya.

Namun, jelas dia, dari laporan tim, penanganan atau penggerukan mulut kuala membutuhkan anggaran besar, dan butuh kerja sama antar dinas, serta dukungan berbagai pihak. “Menggeruk dengan sumber dana APBK sangat memberatkan dan hanya bertahan beberapa bulan kemudian dangkal lagi disebabkan musim barat atau faktor lainnya, termasuk kategori bencana alam,” ujarnya.

Panjang bibir pantai di Bireuen, sebutnya, mencapai 80 kilometer dengan belasan mulut kuala menjadi urat nadi para nelayan untuk pergi dan pulang melaut. Saat ini, paparnya, sebagian besar mulut kuala mengalami kedangkalan seperti mulut Kuala Jangka, Gandapura, Jeumpa, Peudada, dan lainnya. “Mulut kuala seperti Kuala Peudada menjadi urat nadi bagi ratusan nelayan yang akan merapat ke Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Peudada, begitu juga mulut kuala lainnya,” ulasnya.

Hasil kunjungan lapangan tersebut, ungkap Irwan, akan disampaikan kepada pimpinan terhadap langkah atau kebijakan yang dapat ditempuh untuk membantu nelayan dengan menggeruk mulut kuala. “Memang memerlukan dana besar agar upaya membantu nelayan maksimal. Untuk itu, membutuhkan kepedulian Pemerintah Provinsi Aceh dan pemerintah pusat,” pungkasnya.(yus)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved