Opini

Demokrasi Emak-emak

MUNCULNYA gerakan Barisan Emak-emak Militan Indonesia (BEMI) dan kelompok Emak-emak Militan Jokowi

Demokrasi Emak-emak
TribunJabar

Oleh Zulfata

MUNCULNYA gerakan Barisan Emak-emak Militan Indonesia (BEMI) dan kelompok Emak-emak Militan Jokowi Indonesia (EMJI) menarik perhatian publik. Empati politik kaum ibu yang terpendam selama ini telah dibangunkan kembali. Ruang politik perempuan terus dikumandangkan untuk meraih kekuasaan elektoral pada setiap prosesi transformasi kepemimpinan. Tidak satu orang pun yang dapat menjamin tentang apakah wacana gerakan politik perempuan hanya sebatas pelengkap kenderaan politik semata, atau benar-benar memperjuangkan hak-hak kaum perempuan secara utuh. Yang pasti, kalangan perempuan di Indonesia merupakan kalangan pemilih terbanyak dari pada kaum laki-laki.

Beragam makna dan kepentingan yang tersirat dari dua kubu gerakan emak-emak tersebut. Melalui aksi BEMI yang menyuarakan “2019 ganti presiden”, secara otomatis membentuk opini publik bahwa BEMI merupakan satu bentukan pendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga S Uno. Sebaliknya, gerakan EMJI yang mendeklarasikan Jokowi “tetap presiden 2019” merupakan bentukan dari para pendukung pasangan Joko Widodo dan Ma’aruf Amin.

Tak keliru dan bukan pula suatu keanehan jika memahami fenomena di atas, hal ini merupakan bagian dari pernak-pernik dalam persaingan politik secara demokratisasi yang menjamin kebebasan rakyat dalam berekspresi. Tulisan ini tidak ingin larut pada persepsi siapa aktor intelektual di balik gerakan politik kaum emak-emak itu. Namun kajian ini mencoba menggali nilai demokrasi yang tersirat pada tragedi kaum emak-emak menjelang Pilpres 2019.

Kesadaran emak-emak
Siapa yang tak kenal dengan kesadaran emak-emak, mereka dikenal sebagai orang pertama yang paling paham tentang situasi kebutuhan keluarganya sendiri. Mulai dari kebutuhan rohani keluarga hingga kebutuhan materil. Kaum emak cukup matang dalam mengetahui letak titik kekuranngan dan kelebihan suatu kebutuhan rumah tangganya. Jika kita mengakui bahwa rumah tangga adalah suatu unit terkecil dalam suatu negara, atau miniatur dari pelaksanaan negara, maka dapatlah kita nyatakan bahwa kebutuhan “asap dapur” dalam rumah tangga yang menyokong berdirinya negeri ini dapat menentukan status stabilitas ketahanan kebangsaan.

Yang ingin disampaikan bahwa kesadaran emak-emak dalam mengelola kebutuhan rumah tangga dijadikan sebagai corong untuk mengerucutkan makna demokrasi yang kini terkesan tanpa arah. Demokrasi emak-emak membicarakan persoalan kebutuhan dasar sebagai awal untuk mewujudkan kesejateraan rakyat yang berawal dari sudut dapur rakyat Indonesia. Demokrasi emak-emak dapat mendorong kebijakan politik kelas tinggi tanpa melupakan kebutuhan rakyat kecil.

Dalam hal ini, negara diberikan kepercayaan untuk menentukan politik impor barang, namun demokrasi emak-emak tetap membayangi bahwa kebijakan impor yang tak merugikan khalayak kecil. Sehingga kebijakan impor bangsa ini tak merusak ekonomi kelas menengah ke bawah.

Selama ini terkesan bahwa aspirasi emak-emak cenderung dibayangi oleh kaum bapak-bapak. Praktik demokrasi cenderung tak berlaku dalam tata hubungan dalam berkeluarga yang ditutupi oleh keliru dalam memahami makna suami sebagai pemimpin dalam keluarga. Melalui perwujudan demokrasi emak-emak, semangat dari rakyat untuk rakyat terus terjaga. Kebutuhan rumah tangga semestinya diposisikan sebagai kebutuhan di atas kepentingan politik koalisi apapun. Karena secara konstitusional tujuan negara bermuara pada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Rumah tangga merupakan ruang bagi penentuan citra kebangsaan. Calon pemimpin negeri tidak terlahir dari rahim rumah tangga yang rapuh secara ideologis. Rumah tangga senantiasa dapat dijadikan ujung tombak perubahan bangsa yang berkemajuan dan berkelanjutan. Publik yang masih memiliki mental patriotisme harus mampu mengelola wacana demokrasi emak-emak secara bijak, guna mewujudkan proses kedewasaan dalam berdemokrasi. Bukan saling mengadu kekuatan emak-emak yang berbeda pilihan politik.

Sungguh bertambah suram perpolitikan Indonesia ketika gerakan politik emak-emak menjadi pemicu konflik antar emak-emak di Nusantara. Potensi kelembutan dan kesabaran emak-emak tak boleh disusupi oleh sentimen politik SARA. Emak-emak harus dijauhkan dari provokasi perpecahan melalui praktik ujaran kebencian.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved