Infeksi Ginjal Dominasi Pasien Cuci Darah

Setiap tahun pasien cuci darah di Rumah Sakit Umumj Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh

Infeksi Ginjal Dominasi Pasien Cuci Darah
PEMIMPIN Umum Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar didampingi Pemimpin Perusahaan, Mohd Din berbincang dengan Ketua Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), Prof Dr dr Maimun Syukri SpPD-KGH FINASIM dan Sekretaris Panitia, dr Abdullah SpPD-KGH FINASIM, saat berkunjung ke Kantor Serambi Indonesia, di Jalan Raya Lambaro Km 4,5 Gampong Meunasah Manyang Pagar Air, Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (20/9). 

* Umumnya Usia Produktif

BANDA ACEH - Setiap tahun pasien cuci darah di Rumah Sakit Umumj Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh meningkat 10 hingga 14 persen. Mereka didominasi penderita infeksi ginjal, selanjutnya diabetes dan hipertensi.

Ahli Ginjal di RSUZA yang juga Ketua Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), Prof Dr dr Maimun Syukri SpPD-KGH FINASIM, mengungkapkan hal ini saat berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Banda Aceh, Kamis (20/9). Kunjungannya itu bersama panitia Pertemuan Pernefri 2018, termasuk sekretaris panitia, dr Abdullah SpPD-KGH FINASIM. Adapun pertemuan tersebut akan mereka mereka laksanakan di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, 18-20 Oktober.

Kemarin, kedatangan mereka itu diterima Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar dan Pemimpin Perusahaan Harian Serambi Indonesia, Mohd Din. “Pada tahun 2016, jumlah pasien yang cuci darah di RSUZA sebanyak 680 orang dan tiap tahun ada penambahan 10 hingga 14 persen. Jadi terus bertambah dan ini seperti gunung es meningkat tiap tahun,” kata dr Maimun.

Menurut Maimun, umumnya pasien cuci darah itu masih berusia produktif. Namun, saat ini, pasien anak-anak yang cuci darah juga meningkat disebabkan infeksi ginjal. “Ada persepsi di masyarakat sekali cuci darah, maka akan cuci terus. Cuci darah itu ada dua sifatnya, akut dan kronik. Akut itu membantu fungsi ginjal untuk kembali ke normal, begitu normal kita stop. Sementara yang kronik itu sebagai pengganti ginjal yang sudah rusak, jadi harus kita lihat per kasusnya,” jelasnya.

Adapun pertemuan ilmiah tahunan Pernefri 2018 yang akan mereka laksanakan di Hotel Hermes Palace, kata Maimun akan diikuti ratusan dokter dan perawat dari seluruh Indonesia yang membahas tentang penyakit ginjal, mekanisme cuci darah, dan penyakit-penyakit yang menyangkut dengan ginjal. Sementara pematerinya didatangkan dari Malaysia, Singapura, dan Jepang.

Kemarin , pada kesempatan yang sama, Dr Maimun Syukri, menambahkan infeksi ginjal disebabkan oleh kuman, dan negara-negara berkembang penyakit infeksi lebih tinggi daripada penyakit yang tidak infeksi. “Kita banyak orang miskin, hygiene-nya enggak bagus dan negara-negara berkembang infeksi lebih tinggi, seperti infeksi paru dan ginjal,” katanya.

Hal lainnya disampaikan, jika pasien diabetes tidak mengonsumsi obat-obatan dan suntik insulin, maka akan memperburuk keadaannya untuk cuci darah, karena insulin dibutuhkan oleh penderita diabetes. “Maka untuk pasien diabetes harus dikontrol gula darahnya dengan diet, olahraga, dan minum obat,” imbuhnya. (una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved