Polisi akan Periksa Petugas Imigrasi

Penyidik Satreskrim Polres Lhokseumawe pada Jumat (21/9) kemarin, bertolak ke Medan, Sumatera Utara (Sumut)

Polisi akan Periksa Petugas Imigrasi
SERAMBI/SAiFUL BAHRI
Penyidik polisi mengiring tersangka perdagangan manusia yang ditangkap tim Polres Lhokseumawe. Foto direkam Jumat (7/9).SERAMBI/SAiFUL BAHRI 

* Dokumen Pembuatan Paspor Korban Juga akan Disita 

* Pengusutan Kasus Wanita Aceh Dijadikan PSK di Malaysia

LHOKSEUMAWE – Penyidik Satreskrim Polres Lhokseumawe pada Jumat (21/9) kemarin, bertolak ke Medan, Sumatera Utara (Sumut), untuk melakukan pengembangan dugaan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan jaringan Aceh-Malaysia. Penyidik diagendakan akan melakukan pemeriksaan terhadap petugas imigrasi Medan dan menyita dokumen pembuatan paspor milik korban di kantor imigrasi tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, penyidik Polres Lhokseumawe berhasil membongkar sindikat dugaan perdagangan manusia (human trafficking) jaringan Aceh-Malaysia. Pada kasus ini, satu orang tersangka sudah berhasil ditangkap, yakni Fau (29), wanita asal Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe.

Hasil penyelidikan terungkap kalau modus operandi sindikat tersebut adalah, dengan mengajak para wanita muda untuk bekerja di Malaysia. Tapi ternyata, di ‘Negeri Jiran’ itu, mereka malah dijadikan sebagai wanita asusila alias pekerja seks komersial (PSK). Untuk sementara ini, yang sudah dimintai keterangan oleh penyidik adalah dua orang korban yang merupakan warga Lhokseumawe. Mereka adalah N (24) dan D (20).

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan, melalui Kasat Reskrim Iptu Riski Adrian kepada Serambi, kemarin, menerangkan, berdasarkan keterangan kedua korban yakni N dan D, diketahui kalau lokasi pembuatan paspor bagi keduanya berbeda. Untuk D, jelas Kasat Reskrim, proses pembuatan paspor berlangsung di Karimun, Kepulauan Riau (Kepri). Sedangkan pembuatan paspor N dilakukan di Medan, Sumatera Utara (Sumut).

“Jadi, untuk kelengkapan berkas kasus ini, maka penyidik memerlukan penyitaan dokumen pembuatan paspor kedua korban, sekaligus memintai keterangan petugas imigrasi di kedua wilayah tersebut. Untuk tahap awal, penyitaan dokumen dan pemeriksaan petugas akan berlangsung di Imigrasi Medan,” ujarnya.

Dia menargetkan, tim penyidik akan dapat merampungkan pemeriksaan dan penyitaan dokumen di Imigrasi Medan dalam tempo empat hari ke depan. “Agak lamanya waktu yang diperlukan dikarenakan sebelum melakukan penyitaan dokumen pembuatan paspor, penyidik harus terlebih dahulu mengurus surat keputusan pengadilan setempat. Setelah ada surat keputusan pengadilan, baru bisa melakukan penyitaan dokumen,” tukas Iptu Riski Adrian.

Usai Medan Berlanjut ke Karimun
LEBIH lanjut, Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, Iptu Riski Adrian mengungkapkan, setelah menuntaskan pemeriksaan petugas dan menyita dokumen pembuatan paspor milik korban N di Imigrasi Medan, tim penyidik selanjutnya akan bertolak menuju Karimun, Kepulauan Riau (Kepri). “Sama seperti di Medan, di Imigrasi Karimun, tim penyidik juga akan memintai keterangan petugas imigrasi setempat, sekaligus melakukan penyitaan dokumen pembuatan paspor milik korban D. Tentunya, penyitaan ini dilakukan setelah tim penyidik mengantongi surat keputusan dari Pengadilan Negeri Karimun,” pungkasnya.(bah)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved