Opini

Hari Tani Nasional, Resolusi tanpa Solusi?

PADA 24 September setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Tani Nasional dan merupakan hari lahirnya

Hari Tani Nasional, Resolusi tanpa Solusi?
SERAMBINEWS.COM/SAIFUL BAHRI
Mahasiswa menggelar unjuk rasa dalam rangka hari tani nasional di Tugu Rencong Kuta Blang, Kota Lhokseumawe, Senin (24/9/2018). 

Motor penggerak kemajuan negeri dan insannya ada di pemerintah, dengan peran swasta dan akademisi sebagai katalis percepatan laju pembangunan. Bahkan, seperti provinsi Aceh yang istimewa dan memiliki peran sentral terkait budaya tani, seperti lembaga Wali Nanggroe adalah nilai tambah positif demi menanggulangi permasalahan seputar sektor pertanian.

‘Win-win solution’
Menelaah berbagai permasalahan yang begitu kompleks terkait petani dan sektor pertanian secara umum, maka isu-isu strategis di sektor ini hendaknya memiliki win-win solution. Tentu dibutuhkan keterlibatan semua pihak, tidak hanya secara legal formal, melainkan juga nonformal dan terstruktur. Organisasi-organisasi masyarakat tani khususnya dapat lebih ditingkatkan secara kelembagaan dalam proses mengambil kebijakan tepat guna, dan muara dari keberhasilan atau tidaknya kebijakan tersebut harus dalam pengawasan seksama.

Masyarakat tani masih kurang tersentuh oleh pola modern dalam kehidupannya, maka bangunlah mereka dengan kekayaan peninggalan moyang mereka, kultur budayanya yang termaktub sebagai kearifan lokal. Sentuhan sisipan teknologi dalam dunia pertanian bisa berjalan seiring dengan pola kehidupan mereka.

Cakrawala wawasan dan pengetahuan petani perlu ditingkatkan dengan intensifikasi sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan nonformil, guna meningkatkan kapabilitas petani. Namun dengan tetap didampingi oleh peran penyuluh yang memiliki konsistensi, dalam hal ini pemerintah bersama penyuluhnya serta akademisi memegang peran penting dan dapat menjaga kestabilan daya guna sistem penyuluhan bersama petaninya.

Bukan tak ada solusi dengan sekelumit permasalahan petani, momentum Hari Tani Nasional semoga bisa menggugah hati dan sanubari kita semua demi keberlangsungan petani, mewujudkan kedaulatan pangan, memiliki kekuatan ketahanan pangan, dan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan pangan dan komoditi terbaik dari sektor pertanian. Untuk menjadikan itu semua nyata dan terealisasi dengan baik, maka arus pembangunan dan pengembangan pertanian kita bukan berada pada penekanan hasil atau produksi seperti pada rezim ini, tapi ada pada proses untuk menemukan hasil yang positif, signifikan dan pertanian sejahtera.

Sedikit ilustrasi sederhana menuju resolusi nyata yang dapat diwujudkan menjadi kesuksesan, dan merupakan konklusi jawaban dari dinamika seputar petani, yaitu hal penting yang harus dimiliki termaktub dalam enam komponen strategis: Pertama, visi untuk kemampuan kita menelaah masalah dan menjadikan kesempatan sebagai peluang yang positif; Kedua, misi dalam upaya pencapaian target pembangunan pertanian; Ketiga, program kerja dari upaya perwujudan kebijakan;

Keempat, kita memiliki sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang sangat tersohor sebagai modal utama; Kelima, keterampilan profesional yang harus dimiliki dalam setiap insan khususnya petani, dan; Keenam adalah motivasi dan insentif sebagai pendorong kualitas kinerja. Dengan demikian, bukan tak bisa kita mewujudkan perubahan pengembangan dengan keberhasilan. Insya Allah kita bisa!

* Muhammad Yuzan Wardhana, SP., M.EP., staf pengajar Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: wardhanayuzan@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved