Krisis Solar belum Teratasi

Krisis bahan bakar minyak (BBM) solar subsidi (biosolar) di Meulaboh, Aceh Barat dan Kabupaten Abdya

Krisis Solar belum Teratasi
Sejumlah kendaran roda empat hingga roda sepuluh antrea membeli BBM solar di SPBU Keude Payah, Kecamatan Blangpidie, Jumat (28/9). SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA 

* Aktivitas Nelayan dan Angkutan Penumpang Terganggu

MEULABOH - Krisis bahan bakar minyak (BBM) solar subsidi (biosolar) di Meulaboh, Aceh Barat dan Kabupaten Abdya hingga kemarin belum teratasi. Antrean panjang pembelian solar subsidi dari pemerintah itu masih terjadi di empat SPBU di Aceh Barat, termasuk di sejumlah SPBU di Abdya. Kondisi ini juga berdampak pada pengisian BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Diesel Nelayan (SPDN) Padang Seurahet Meulaboh.

Amatan Serambi antrean masih terjadi di empat SPBU yakni Kuta Padang, Pasi Pinang, Manekroo dan Imam Bonjol/Suak Raya. Kendaraan tampak antre panjang hingga meluber ke jalanan di wilayah itu. Sedangkan di SPDN hingga pukul 15.00 WIB kemarin belum dipasok oleh Pertamina.

Beberapa pemilik kendaraan angkutan umum menyatakan sulit memperoleh solar subsidi. Sementara bila membeli solar nonsubsidi jenis delixe Rp 9.000/liter dan Pertamina dex Rp 10.500/liter. Kalau biosolar Rp 5.150/liter.

“Kami berharap pemerintah dan Pertamina tidak membiarkan kondisi seperti ini berlarut-larut,” kata Lukman, seorang sopir kepada Serambi kemarin. Keluhan yang sama juga disampaikan nelayan di Aceh Barat.

“Solar semakin sulit diperoleh. Sehingga aktivitas nelayan menjadi terganggu,” kata Rahmad, nelayan setempat. Panglima Laot Aceh Barat Amiruddin mengatakan kelangkaan solar subsidi harus segera diatasi pemerintah dan Pertamina sehingga tidak berdampak pada nelayan.

Selain solar subsidi, kata Amiruddin, saat ini nelayan di Suak Seumaseh Samatiga juga kesulitan memperoleh bensin/premium yang merupakan subsidi pemerintah. Selama ini nelayan kecil terpaksa membeli pertalite dengan harga Rp 7.800/liter dan pertamax Rp 9.500/liter. Kalau premium hanya Rp 6.450/liter.

Sementara itu, stok bensin atau premium di Aceh Barat juga langka. Selama ini dari empat SPBU di kabupaten itu hanya satu SPBU lagi yang masih menjual premium yakni SPBU Kuta Padang. Sedangkan tiga lainnya yakni SPBU Pasi Pinang, SPBU Suak Raya dan SPBU Manekroo tidak lagi menjual premium, tetapi menjual pertalite dan pertamax yang merupakan BBM nonsubsidi.

“Kalau bensin lebih murah. Kami tukang becak sangat keberatan menggunakan pertalite,” kata Ujang, tukang becak motor kepada Serambi kemarin.

Sementara itu dari Blangpidie Kabupaten Abdya mengatakan Dinas Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan Aceh Barat Daya (Dinas UKM dan Perindag Abdya) meminta pihak SPBU membatasi penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar kepada warga yang menggunakan jeriken.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved