Opini

Aceh jangan pula Lupa Palu

SEBAGAI satu daerah yang sudah lebih dulu merasakan “asam-garamnya” gempa bumi dan tsunami

Aceh jangan pula Lupa Palu
ist
Pemkab Pijay antar bantuan gempa Lombok, Kamis (30/8/2018). 

Oleh Marah Halim

SEBAGAI satu daerah yang sudah lebih dulu merasakan “asam-garamnya” gempa bumi dan tsunami, Aceh dengan segenap komponen masyarakat dan pemerintahnya haruslah berdiri paling depan dan paling lantang menyuarakan dan menunjukkan kepedulian kepada Palu, Sulawesi Tengah, dan wilayah sekitarnya yang dilanda tsunami. Sikap sigap dan tanggap harus ditunjukkan Aceh, mengingat Aceh telah mendapat perlakuan yang sangat istimewa dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia dan negara-negara di dunia saat bencana serupa datang melanda pada 2004 silam. Jangan pula Aceh yang lupa Palu.

Aceh dengan segenap nilai yang membentuk kepribadiannya, harus istimewa dalam prilaku nyata; bukan hanya istimewa karena “diistimewakan” secara formal dalam agama, pendidikan, adat-istiadat, dan peran ulama dalam penyelenggaraan pemerintahan, tetapi yang lebih riil adalah keistimewaan Aceh dalam pengalaman sejarah dan peradaban kontemporernya. Bagi Pusat dan daerah lain, Aceh setidaknya istimewa dalam pengalaman panjang menghadapi tiga hal penting: formalisasi syariat Islam, konflik-damai, dan bencana alam. Untuk ketiga hal ini, Aceh adalah laboratorium global.

Banyak daerah di Indonesia yang ingin diberi kesempatan dan hak untuk mengatur kehidupan bermasyarakatnya secara Islami, namun semuanya ditolak, kecuali Aceh. Terhadap “istri” yang satu ini pusat akan berikan segalanya asal dia tidak minta “cerai”. Banyak daerah yang berstatus provinsi di Indonesia ini, tetapi hingga saat ini yang konsisten “melawan” pusat hanya Aceh di ujung Barat dan Papua di ujung Timur. Aceh pula satu-satunya daerah yang kenyang dengan aneka dan skala bencana; dari gempa bumi, tanah amblas dan longsor, hingga Tsunami. Itulah yang membuat eksistensi dan fungsinya yang lebih nyata.

Sekian banyak daerah di Indonesia tidaklah sama eksistensinya di mata pusat, terutama dalam menghadapi bencana. Gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 2004 lalu, disusul dengan gempa-gempa berskala besar lainnya, seperti yang terjadi di Aceh Tengah dan Pidie Jaya beberapa tahun lalu, adalah cukup memberi bukti kematangan dan kedewasaan Aceh dalam menghadapi bencana.

Tak diragukan lagi
Kedewasaan dan kematangan Aceh menghadapi bencana tidak perlu diragukan lagi. Dibandingkan dengan tsunami di Palu saat ini dan tsunami di negara lain seperti Jepang, misalnya, ada hal yang akan tetap menjadi faktor pembeda dan merupakan keistimewaan Aceh dalam menghadapi tsunami; Aspek pengistimewa tsunami Aceh itu ialah karena ia terjadi di tengah konflik sosial berdarah yang hebat dan berkepanjangan di Aceh. Bisa dibayangkan betapa rumitnya menjinakkan dampak amuk tsunami di tengah amuk konflik perang.

Betapa tidak, di tengah baku tembak yang tak kenal henti siang dan malam, Tsunami datang tanpa permisi. Darah bertumpahan dan mayat bergelimpangan; Aceh didera nestapa bertubi-tubi. Namun di sisi lain, kondisi ini pulalah yang mungkin sangat membekas dan memberi kesan sendiri dalam memori global yang berbuah simpati dan empati yang melimpah ruah untuk Aceh dari berbagai belahan dunia.

Yang unik dan yang sangat disyukuri, tsunami pula yang menjadi “pemicu berkah” perdamaian dengan pemerintah pusat. Bukan pula hendak mengatakan “untung ada tsunami”, namun nyatanya memang tsunami-lah yang meluluhkan hati pemimpin dan tokoh-tokoh kunci gerakan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah pusat untuk duduk di meja perundingan; mencari penyelesaian konflik secara bermartabat.

Untuk menggambarkan berapa banyak negara yang mengulurkan bantuan materil dan fisik kepada Aceh selama masa tanggap darurat dan rehab-rekon, dapat dilihat pada jumlah prasasti yang terjejer di sepanjang lingkar di lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Setiap prasasti berisi ucapan terima kasih kepada negara-negara itu dalam bahasanya masing-masing. Dapat diklaim bahwa ratusan negara dan NGO tergerak hatinya untuk membantu Aceh. Kedatangan mereka berbondong-bondong ke Aceh, bahkan sejak minggu pertama kejadian tsunami menunjukkan bahwa mereka tidak ingin Aceh menghadapi bencana ini sendirian.

Pada masa-masa darurat dan rehab-rekon Aceh selama lima tahun (2005-2010), Aceh terus-menerus didampingi; bukan hanya rehab-rekon dampak tsunami, tetapi juga penyelesaian konfliknya dengan pusat. Bahkan proses perdamaian itu bukan difasilitasi oleh negara-negara Timur Tengah atau Asia Tenggara, justru fasilitator itu datangnya nun jauh dari Finlandia, Crisis Management Initiave (CMI) yang dimotori oleh Martti Ahtisari, mantan Presiden Finlandia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved