E-Parking TP Nyak Makam Dikeluhkan

Para pedagang yang memiliki usaha di lokasi electronic parking (e-parking) atau sistem parkir elektronik

E-Parking TP Nyak Makam Dikeluhkan
KENDARAAN keluar dari area electronic parking yang pertama dibangun di Jalan T Nyak Makam, Banda Aceh

BANDA ACEH - Para pedagang yang memiliki usaha di lokasi electronic parking (e-parking) atau sistem parkir elektronik di Jalan T Panglima Nyak Makam, Banda Aceh, mengeluhkan anjloknya pendapatan yang kini diperoleh. Selain omzet menurun drastis, ruko-ruko sudah mulai tutup dan bangkrut akibat minimnya warga yang datang ke sana untuk sekadar ngopi.

Hal itu diungkapkan sejumlah pedagang di lokasi itu kepada Serambi, Selasa (2/10). “Kondisi sekarang jauh sekali berubah dibanding sebelum pemasangan portal elektrik ini. Kami sangat harapkan kondisi ini menjadi pertimbangan Pemko Banda Aceh, sehingga dapat dievaluasi kembali,” ujar Herman, seorang pedagang di sana.

Ia menjelaskan, pedagang bukan tidak mendukung kemajuan Kota Banda Aceh dalam penertiban dan pengelolaan parkir. Namun, semestinya terobosan tersebut dapat diberlakukan sama, sehingga tidak terjadi kesenjangan di antara pedagang di kawasan tersebut. “Sementara kami, jangankan parkir di pinggir trotoar, masuk saja orang enggan,” ujarnya, dan menyebut pada umumnya warga tidak mau dipersulit apalagi hanya untuk sekadar ngopi.

Hal senada juga dikatakan Khairil, pedagang lainnya, yang menyebut kebijakan tersebut berdampak buruk terhadap pendapatan pedagang warung kopi (warkop). “Bisa dilihat, empat warkop sudah tutup ditambah satu ruko warkop Solong juga sudah tutup. Bahkan toko souvenir juga ikut-ikutan tutup, karena memang sepi,” ungkapnya.

Bila saja e-parking dibangun rata di sepanjang Jalan TP Nyak Makam, lanjutnya, mungkin tidak jadi persoalan bagi mereka. Namun, keberadaan e-parking di depan 28 ruko itu yang dijadikan sebagai areal parkir percontohan Banda Aceh, belum dapat diterima baik bagi pedagang maupun warga. “E-parking ini cocok untuk areal perkantoran, bukan usaha jualan kopi. Pemerintah terkesan mematikan perekonomian rakyat,” keluhnya.

Menanggapi permasalahan itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banda Aceh, Drs Muzakir Tulot MSi menjelaskan alasan lokasi itu dijadikan areal e-parking percontohan. Menurutnya, area tersebut paling dominan menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan, serta ‘merampas’ garis sepadan bangunan (GSB) sepanjang 10-15 meter dari jalan.

“Tujuan kita baik, intinya kita ingin mengembalikan fungsi jalan. Lalu GSB yang selama ini disalahgunakan dapat kembali menjadi jalur pedestrian. Sehingga tujuan ke depan sepanjang Jalan TP Nyak Makam itu menjadi kawasan tertib lalu lintas,” sebut Muzakir yang dihubungi Serambi, Rabu (3/10).

Bahkan ke depan, pihaknya berencana untuk menambahkan e-parking di lima titik sepanjang Jalan TP Nyak Makam. “Tahun 2018 ini kita memang tidak ada anggaran. Tapi 2019 kita sudah programkan dengan support anggaran, apa dari dana otsus akan dibangun lima lokasi e-parking lagi di ruas jalan yang sama,” ujar Muzakir.

Dengan penambahan lima titik e-parking pada 2019 mendatang, diharapkan tidak ada lagi kendaraan yang parkir pinggir jalan. Karena, mobil akan sendirinya masuk ke areal e-parking dan lalu lintas di sana akan tertib dan lancar. “Dari sanalah kita akan lakukan evaluasi. Kita juga perlahan-lahan mencoba mengubah mindset masyarakat kita akan lebih tertib,” pungkas Kadishub Muzakir.

Secara khusus, Herman, pedagang di Jalan TP Nyak Makam mengungkapkan bahwa pendapatan pedagang di sana turun drastis semenjak pemberlakuan e-parking. Dulu sebelum portal elektrik dipasang, pedagang mampu meraih pendapatan Rp 2,5 juta sampai 3 juta per hari. Tapi kini pemasukan mereka menurun drastis, maksimal Rp 800 ribu per hari.

Bahkan kondisi pelik yang dialami pedagang itu, lanjut Herman, telah berpengaruh terhadap kemampuan mereka dalam membayar pajak. “Kalau dulu setiap bulannya kami tertib membayar Rp 1 juta, sekarang sudah lima 5 bulan kami tidak mampu lagi membayar pajak karena sangat minim pemasukan,” pungkasnya.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved