Petani Desak BKSDA Usir Kawanan Gajah

Petani di Gle Cubo, khususnya di Gampong Blagn Suon dan Kayee Jatoe, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya

Petani Desak BKSDA Usir Kawanan Gajah
Kawanan gajah liar berkeliaran di areal Blang Meukik, Gampong Tunong Keumala Dalam, Kecamatan Keumala, Pidie 

* Di Gle Cubo, Pijay

MEUREUDU - Petani di Gle Cubo, khususnya di Gampong Blagn Suon dan Kayee Jatoe, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya, selama seminggu terakhir diresahkan kawanan gajah yang mengobrak-abrik tanaman di kebun warga setempat. Upaya warga untuk menghalau binatang berbelalai ini tidak berhasil, karena kawanan gajah masih berkeliaran di sekitar kebun, dengan jumlah kawanan antara 20-30 ekor. Karena itu mereka mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk menurunkan tim guna mengusir gajah itu kembali ke habitatnya.

Beberapa petani Gampong Blang Sukon dan Kayee Jatoe, Sabtu (6/10) menyebutkan, kawasan gajah tidak hanya muncul saat malam, tapi juga menjarah kebun warga di siang hari. Sehingga petani tidak berani lagi ke kebun yang menjadi sumber mata pencarian mereka.

“Dalam dua hari terakhir, kawanan gajah itu semakin berani mendekat ke permukiman. Sehingga membuat warga ketakutan. Selain itu, tanaman kebun warga juga habis diobrak-abrik gajah sejak seminggu lalu,” kata Sarwoidi, warga Blang Sukon, kemarin.

Tanaman kebun berupa yang menjadi sasaran kawanan gajah ini antara lain, pohon pinang, pisang, kakao, serta beberapa komoditi produktif lainnya yang selama ini menjadi sumber ekonomi warga setempat. “Banyak tanaman hancur berantakan dan kecil kemungkinan untuk tumbuh kembali,” tambahnya.

Dari pendataan sementara, kebun yang dirusak gajah yakni milik Rakjab, M Yunus, Aji, Musliadi, Hamid, Hasballah, serta sejumlah petani lainnya yang belum melapor ke pihak Gampong.

Sedangkan wilayah yang menjadi sasaran gajah tersebut, antara kawasan Alue Nge, Alue Mon, Alue Empeh, Alue Bate Brok, hingga Alue Pisang, di kecamatan Bandarbaru, Pijay.

Sekretaris Gampong Blang Sukon, Nasruddin, mengungkapkan bahwa perangkat desa sudah melaporkan persoalan ini kepada Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan lembaga Flora Fauna Internasional (FFI). “Namun hingga kini tidak ada respons berupa tindakan cepat yang dibutuhkan masyarakat, sebelum kerugian lebih besar terjadi akibat gangguan satwa liar ini,” kata Nasruddin.

Warga berharap pihak BKSDA Aceh tidak mengabaikan persoalan ini, karena dampak gangguan gajah terus meluas. “Kami minta BKSDA secepatnya mencarikan solusi terbaik, sehingga petani tak menanggung kerugian yang lebih besar lagi. Terlebih, saat ini petani sama sekali tidak berani lagi ke kebun untuk menggarap lahan, akibat kawasan itu sudah dikuasai kawanan gajah,” ujar Sarwoidi, mewakili sejumlah petani di kawasan Gle Cubo.(ag)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved