Opini

‘Hoax’; Norma dan Kearifan

BEBERAPA hari belakangan ini, seluruh perhatian kita tercurah pada isu kebohongan (hoax) yang bergerak massif

‘Hoax’; Norma dan Kearifan
KOLASE/SERAMBINEWS.COM

Oleh Saifuddin A. Rasyid

BEBERAPA hari belakangan ini, seluruh perhatian kita tercurah pada isu kebohongan (hoax) yang bergerak massif sebagai dampak dari tindakan Ratna Sarumpaet (RS). Kasus RS ini tentulah bukan yang pertama dan satu satunya, karena sebelumnya sudah ada kasus-kasus serupa yang melibatkan orang-orang terkemuka negeri ini. Tetapi kasus RS ini fenomenal, karena mampu menyedot besar sekali perhatian dan energi warga bangsa, dan diyakini mengilhami berkembang satu kesadaran dan kearifan baru terkait tema hoax ini.

Perkembangan teknologi informasi (TI) yang merupakan hasil karya manusia, di samping memberi dampak positif juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkunganya. Kesalahan dalam memanfaatkan internet dapat menjadikan TI sebagai sarana untuk melakukan kejahatan, termasuk penyebaran informasi fiktif atau hoax. Hoax merupakan akses natif kebebasan berbicara dan berpendapat di media sosial atau blog, yang bertujuan membuat dan menggiring opini publik, serta membentuk persepsi, juga untuk having fun yang menguji kecerdasan/kecermatan para pengguna internet dan media sosial.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwa No.24 Tahun 2017 menyebutkan bahwa hoax dapat dikategorikan dalam bentuk tindakan ghibah, fitnah, dan namimah. Ghibah adalah penyampaian informasi faktual tentang seseorang atau kelompok yang tidak disukainya. Fitnah (buhtan) adalah informasi bohong tentang seseorang atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Sedangkan namimah adalah adu domba antara satu dengan yang lain dengan menceritakan perbuatan orang lain yang berusaha menjelekkan yang lainnya kemudian berdampak pada saling membenci.

Islam secara gamblang telah menggariskan rambu bagaimana sikap atau perilaku yang tepat dalam mengelola informasi sebagaimana firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6).

Perlu diteliti
Dari dasar ayat di atas dapat diketahui bahwa setiap informasi yang tersebar, perlu diteliti terlebih dulu kebenaranya. Ayat tersebut seakan berbicara secara khusus mengenai perilaku penyebar informasi hoax. Kaum fasik yang Allah gambarkan dalam ayat tersebut, sebagaimana umum dipahami memiliki karakteristik negatif yang konotasinya memiliki relevansi yang kuat dengan terciptanya kerusakan dan kehancuran dalam kehidupan manusia.

Kaum fasik untuk kepentingan dan keuntungan diri dan kelompok secara bersengaja dengan berbagai pola dan strateginya menimbulkan ketidaknyamanan dan bahkan kerusakan di masyarakat. Gara-gara hoax, nama baik dan harga diri seseorang dapat tercemar di masyarakat dan walhasil akan memicu konflik kepentingan antarkelompok tertentu, dan meresahkan kehidupan masyarakat.

Di era informasi ini, masyarakat bebas dan dengan mudah dapat menyampaikan pendapat atau opininya, baik melalui lisan, media cetak, maupun media elektronik/online. Namun, hal yang perlu diingat bahwa kebebasan yang tidak berbudaya dan beretika akan membawa konsekuensi hukum. Untuk itu masyarakat harus berhati-hati. Kebebasan berpendapat, berekspresi, dan bereksperimen di depan publik, tentu tidak sepatutnya disalahgunakan dengan mengabaikan nilai benar atau salah, jujur atau bohong. Hal ini terkadang menjadi kurang diperhatikan oleh sipenyebar berita, yang penting dapat dibaca dan diketahui oleh publik secara cepat dan luas.

Guna meminimalisir dampak negatif itu perlu adanya suatu solusi dalam menyikapi wabah hoax yang sudah menjamur dengan menggunakan media sosial. Sangat mudah bagi penyebar berita hoax ini untuk mempublikasikan suatu berita melalui media sosial, tanpa memikirkan efek yang ditimbulkan dari berita bohong itu. Begitu juga halnya dengan masyarakat yang dapat mengakses secara bebas berita hoax di media sosial.

Solusi itu dapat ditemukan dalam aturan hukum dan nilai keagamaan yang dianut, serta nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang dapat dipahami sebagai bentuk indigenous ideas, yang bersifat sangat lokal dari kelompok-kelompok sosial di masyarakat Indonesia. Kearifan lokal ini sebagai nilai yang kuat yang dapat memberikan pengayaan dan keseimbangan atau bahkan perlawanan terhadap promosi “kearifan global” atau globalisasi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved