Opini

Kanibalisme ‘Hoax’

SIAPA menabur angin akan menuai badai. Agaknya tamsilan tersebut pantas disematkan kepada Ratna Sarumpaet

Kanibalisme ‘Hoax’
Kolase Tribun Jabar (ISTIMEWA dan Kompas)
Ratna Sarumpaet 

Oleh Abd. Halim Mubary

SIAPA menabur angin akan menuai badai. Agaknya tamsilan tersebut pantas disematkan kepada Ratna Sarumpaet yang telah menciptakan blunder di jagat politik Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Ratna yang selama ini dinilai banyak kalangan sebagai seorang aktivis perempuan yang kitis, mendadak menjadi “pesakitan” setelah pengakuannya yang mengalami aksi kekerasan oleh sekelompok orang di Bandung pada 21 September 2018, akhirnya diakui oleh yang bersangkutan sendiri sebagai sebuah kebohongan (hoax).

Drama kebohongan Ratna begitu cepat terungkap oleh polisi, karena dianggap telah menciptakan sebuah kebohongan publik yang telah mengusik kontestasi politik nasional. Terlebih lagi dalam hal ini, Ratna merupakan bagian dari serum politik yang berada di kubu Parbowo-Sandi. Seandainya kebohongannya hanya bersifat pribadi dan tidak tersangkut dengan dinamika pilpres --mungkin kasus tersebut tidak akan serunyam sekarang ini. Akibat kebohongan itu pula, sejumlah nama elite politik turut terseret pada pusaran kebohongan itu, sehingga “bola liar” yang dilempar Ratna menjadi entitas politik yang perlu diluruskan. Sehingga dinamika politik mendadak memanas atas polah pendiri teater Satu Merah Panggung ini.

Berbekal cerita penganiayaan Ratna yang dilakukan oleh orang tak dikenal di Bandung, yang dibuktikan dengan foto wajah yang penuh luka dan lebam, nyaris semua orang akan percaya. Terlebih lagi karena sebelumnya Ratna terlihat segar bugar. Namun siapa nyana, jika drama Ratna ini kemudian membuahkan hipotesis yang mencurigakan. Karena pihak kepolisian menemukan fakta-fakta bahwa pada hari itu Ratna sedang tidak berada di Bandung, melainkan sedang menjalani operasi bedah plastik di sebuah klinik kecantikan di Jakarta.

Akhirnya Ratna mau tak mau harus membuka kedoknya sendiri. Ia menggelar jumpa pers di rumahnya pada 3 Oktober 2018, bahwa lebam-lebam di wajahnya bukan karena penganiayaan, melainkan akibat operasi plastik. Selain itu, Ratna juga mengakui bahwa dirinya merupakan pencipta hoax terbaik.

Menjadi pelajaran
Seharusnya kasus Ratna menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dalam memproduksi dan menyebarkan sebuah informasi. Kita jangan mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi kebenarannya, terutama yang ada di media sosial. Terlebih lagi di tahun politik menjelang 2019, tentu banyak sekali pihak yang ingin mengambil keuntungan atas sebuah narasi politik yang terkadang berada di luar nalar kita. Secara psikologis, ada dua faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk mudah percaya pada kebohongan. Orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimilikinya (Respati, 2017).

Secara alami perasaan positif akan timbul dalam diri seseorang jika opini atau keyakinannya mendapat afirmasi, sehingga cenderung tidak akan mempedulikan apakah informasi yang diterimanya benar dan bahkan salah. Padahal mudah saja bagi mereka untuk menyebarkan kembali informasi tersebut. Hal ini diperparah lagi jika si penyebar hoax memiliki pengetahuan yang kurang dalam memanfaatkan internet guna mencari informasi lebih dalam, atau sekadar untuk melakukan verifikasi faktual.

Sehingga kecenderungan seseorang dalam mempercayai berita hoax sangat tergantung dari siapa yang membuat dan mengirimkannya. Jika itu mengenai elektoral, maka pendukung dan simpatisan di kubu bersangkutan akan dengan mudah mempercayainya. Contohnya, bagaimana banyak orang termakan dengan pengakuan penganiayayaan Ratna, termasuk para elite politiknya. Jika elitenya saja sudah percaya, bagaimana lagi dengan masyarakat arus bawah (grass root).

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan angka hoax di Indonesia mencapai 800 ribu konten per tahun. Hasil riset Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Juli-September 2018), ditemukan 230 berita hoax yang beredar di tengah masyarakat. Sekitar 58,7% di antaranya berkaitan dengan pilpres. Selebihnya hoax terkait isu agama, ekonomi, hukum, dan bencana alam juga menjadi asumsi publik untuk dipercaya. Meskipun Indonesia sudah punya UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), namun hoax bukannya menurun--malah makin hari semakin meningkat diproduksi.

CNN Indonesia menyebutkan bahwa dalam data yang dipaparkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu dan ujaran kebencian (hate speech) (Pratama, 2016). Kemkominfo juga selama tahun 2016 sudah memblokir 773 ribu situs berdasar pada 10 kelompok. Kesepuluh kelompok tersebut di antaranya mengandung unsur pornografi, SARA, penipuan/dagang ilegal, narkoba, perjudian, radikalisme, kekerasan, anak, keamanan internet, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Dari jumlah itu, paling banyak yaitu unsur pornografi (Jamaludin, 2016).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved