Opini

Miftah adalah Kita

JARUM jam tua di dinding rumah kami telah menunjukkan pukul 02.15 WIB dini hari

Miftah adalah Kita
Twitter @PKSSejahtera
Miftahul Jannah buka suara setelah didiskualifikasi pada pertandingan judo di ajang Asian Para Games 2018. 

Oleh Usamah El-Madny

JARUM jam tua di dinding rumah kami telah menunjukkan pukul 02.15 WIB dini hari. Tidak seperti biasa, malam itu (Senin, 8/10/2018), saya tidak mampu memejamkan mata. Ada kerisauan dan kegalauan yang terus menggelayut di hati dan pikiran saya yang mengakibatkan sulit tidur. Bagi sementara orang, peristiwa itu dianggap biasa. Tapi bagi saya peristiwa itu adalah persoalan esensial yang kejadiannya terasa begitu terstruktur, sistematis, massif dan terorganisir terhadap keyakinan pemeluk sebuah agama dan pembangkangan terhadap pluralisme.

Hati dan pikiran saya semakin meradang ketika teringat sejumlah nama, baik di level nasional maupun di Aceh, yang selama ini mengklaim dirinya sebagai penjaga “pagar ayu” toleransi dan pluralisme, tetapi diam bungkam terhadap peristiwa ini. Seakan kejadian ini bukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), karena dialami seorang muslimah difabel yang sama sekali tidak memiliki jejaring perlawanan.

Kerisauan dan kegalauan saya yang semakin membuncah dan hanya sanggup saya tahan sampai pukul 10.00 WIB, keesokan harinya (Selasa, 9/10/2018). Seketika itu juga saya memberanikan diri menghubungi Plt Gubernur Aceh, Bapak Nova Iriansyah melalui WA (WhatshApp), menyampaikan saran kiranya Pemerintah Aceh sebagai representasi rakyat Aceh, perlu bersikap terhadap apa yang dialami Miftahul Jannah. Atlet blind judo Indonesia asal Aceh itu didiskualifikasi dari ajang Asian Para Games 2018 di JIexpo, Jakarta, karena menolak melepaskan jilbabnya.

Di luar dugaan, ternyata reaksi Plt Gubernur Aceh luar biasa. Beliau memiliki rasa dan kegalauan yang sama, bahkan mungkin melampaui yang saya rasakan. Ini setidaknya terlihat ketika berita diskualifikasi Miftah diupdate di media online, Senin (8/10/2018), Plt Gubernur Aceh seketika tampak risau. Kepada kami yang diundang rapat membicarakan sikap yang akan diambil Pemerintah Aceh terhadap kejadian yang menimpa Miftah, Plt Gubernur menyampaikan keharuannya. “Saya ikut terharu, Miftahul Jannah adalah cerminan generasi syariah Aceh, kita semua bangga, Pemerintah Aceh memuji dan mengapresiasi. Itu sikap kesatria sejati,” kata beliau.

Keharuan Plt Gubernur Aceh itu adalah keharuan kita semua di Aceh. Karena, di samping peristiwa tersebut mereduksi jati diri Aceh dan keislaman kita, sebagai generasi syariah Aceh --meminjam istilah Plt Gubernur Aceh-- Miftahul Jannah adalah kita. Segenap rasa Miftah yang tersakiti adalah bagian dari kita yang juga merasa ikut tersakiti.

Maka wajar saja ketika dalam rapat tersebut, Kadispora Aceh memperdengarkan rekaman pembicaraan Miftah dengan pamannya melalui handphone di Aceh Barat Daya (Abdya), terkait kondisi terakhir yang dialaminya setelah peristiwa itu terjadi, nyaris semua kami meneteskan air mata. Haru kami semakin menderu, ketika di akhir pembicaraannya itu, Miftah menegaskan kepada pamannya bahwa apa yang dialaminya itu bukan semata-mata persoalan pribadinya. Ia merasa tertekan karena banyak yang datang dan menanyainya (wawancara), sedangkan Miftah seorang diri di negeri orang.

“Saya tidak memiliki interes pribadi terhadap peristiwa ini, ini adalah soal nasip difabel yang kurang dihargai serta soal keyakinan beragama saya yang tidak mendapat tempat yang layak sebagai bagian dari pluralisme kehidupan,” kata Miftah dengan suara bergetar melalui rekaman yang dipancarkan melalui handphone Android.

Seperti Khabib
Sesungguhnya apa yang menimpa Miftahul Jannah nyaris mirip seperti apa yang menimpa Khabib Nurmagomedov pada pertandingan UFC 229 melawan Conor McGregor, Sabtu (6/10/2018, di Las Vegas, Amerika Serikat. Di turnamen tersebut, keyakinan agama dan tradisi hidup Khabib dicaci dan dihina habis-habisan oleh Conor. Meskipun konvensi internasional telah bersepakat bahwa keyakinan beragama orang lain tidak boleh dihina dengan alasan apapun, tapi ini semua tetap terjadi di Amerika Serikat, yang selama ini mengklaim diri sebagai kampium demokrasi dan pluralis di muka bumi.

The blessing in disquist, selalu ada berkah di balik sebuah bencana. Begitu juga halnya yang menimpa Khabib. Khabib yang sejak sebelum pertandingan terus diejek dan dihina ternyata bukan meruntuhkan moralitas tarungnya, tetapi justru menambah energi baru dan pada ronde keempat Khabib berhasil merontokkan keangkuhan Conor. Setelah dicekik Khabib terlihat Conor terduduk lesu dengan lidah menjulur, seperti anjing kelelahan di pojok ring oktagon.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved