12 DPAC Demokrat Bireuen Mundur

Sebanyak 12 ketua kecamatan atau Ketua Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Demokrat Bireuen

12 DPAC Demokrat Bireuen Mundur
IQBAL FARABI, Sekretaris Demokrat Aceh

* Imbas Dipecatnya Edi Obama

BIREUEN - Sebanyak 12 ketua kecamatan atau Ketua Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Demokrat Bireuen, Minggu (14/10), serentak menyatakan mundur dari kepengurusan partai. Ketua Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (BPOKK), sejumlah kader dan simpatisan juga ikut mengundurkan diri.

Sikap tersebut diambil menyusul keputusan Partai Demokrat yang memecat Edi Saputra alias Edi Obama dari kader dan ketua DPC Demokrat Bireuen. Edi Obama dipecat melalui Surat Keputusan DPP Partai Demokrat Nomor 449/SK/DPP.PD/X/2018, tertanggal 5 Oktober 2018.

Para Ketua DPAC yang menyatakan mundur berasal dari Kecamatan Peusangan, Peusangan Selatan, Jangka, Kutablang, Gandapura, Kota Juang, Kuala, Juli, Jeumpa, Peulimbang, Jeunieb, dan Kecamatan Pandrah.

Sedangkan lima Ketua DPAC lainnya memilih tetap bertahan, karena mencalonkan dalam pemilu legislatif 2019. Mereka yang bertahan berasal dari Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Makmur, Peudada, Simpang Mamplam, dan Samalanga.

Mantan Ketua DPAC Kecamatan Peusangan Selatan, Mukhlis, menilai, Partai Demokrat tidak sepantasnya main pecat begitu saja terhadap Edi Saputra, sebesar apapun kesalahannya. Sebab Edi Saputra telah berjasa besar dalam memperjuangkan dan membesarkan Partai Demokrat Bireuen.

Jasa besar dimaksud meliputi upaya Edi Saputra melaksanakan musyawarah anak cabang (musancab) musyawarah cabang (muscab), menyambut kedatangan Agus Harimurti Yudhoyono, serta membantu pemenangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah pada Pilkada 2017 lalu.

“Tidak seharusnya DPP Partai Demokrat main pecat-memecat, apalagi ini partai besar. Ini akan menjadi contoh tidak baik dalam sistem demokrasi kita,” kata Mukhlis.

Dirinya mengaku prihatin dan menyesalkan keputusan yang diambil oleh DPP tersebut. Sebab di sisi lain, ia dan para pengrurus lainnya sedang berjuang untuk meraih kursi sebanyak-banyaknya, baik di DPRK, DPRA, maupun DPR RI.

“Kalau begini caranya, kepercayaan masyarakat pasti akan berkurang terhadap Partai Demokrat. Ini bisa berimbas bukan saja di kecamatan, daerah, bahkan ini bisa menjadi isu nasional, apalagi kader yang tadinya solid menjadi kocar-kacir,” tambah Muhklis.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved