Harga Gas Melon Meroket di Galus

Harga gas elpiji bersubsidi 3 kilogram atau disebut gas melon melonjak drastis di Gayo Lues (Galus)

Harga Gas Melon Meroket di Galus
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NAZAR
Sat Reskrim Polres Pidie mengamankan 80 tabung gas di Mapolres Pidie, Senin (19/03/2018). 

* Rp 29.000 per Tabung

BLANGKEJEREN - Harga gas elpiji bersubsidi 3 kilogram atau disebut gas melon melonjak drastis di Gayo Lues (Galus) dalam beberapa hari terakhir. Di tingkat pengecer, harga gas bersubsidi itu dijual Rp 28.000-29.000 per tabung. Sedangkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah untuk Galus sebesar Rp 22.000 per tabung. Itu artinya, terjadi kemahalan Rp 6.000-7.000 per tabung.

Saat ini gas elpiji sudah menjadi kebutuhan paling mendasar bagi setiap rumah tangga dan masyarakat. Nyaris tidak ada lagi warga yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Selain kayu memang susah diperoleh, bahan bakar alami tersebut juga tidak praktis. Begitu pula dengan masyarakat Gayo Lues, sudah lama menjadikan gas sebagai bahan bakar utama setelah pemerintah menghentikan penjualan minyak tanah. Namun harga yang melambung menjadi persoalan tersendiri. Pada waktu tertentu bahkan kerap tidak ada gas sama sekali.

“Saat ini harga gas bersubsidi ukuran 3 kg itu mencapai Rp 28.000 hingga Rp 29.000 per tabung di kios pengecer. Padahal, HET yang ditetapkan pemerintah di kabupaten dan kecamatan ini Rp 22.000 per tabung,” kata seorang ibu rumah tangga, Sarlinda yang didampingi sejumlah temannya di Kutapanjang kepada Serambi, Minggu (14/10).

Para konsumen mengaku melambungnya harga gas bersubsidi tersebut sangat menyulitkan mereka. Diakui, mereka memang terpaksa membeli. Namun, kemahalan ini harus dikompensasi dengan mengurangi membelikan kebutuhan yang lain.

“Saat ini banyak warga menjadi agen pengecer gas tersebut, karena laris manis dan memperoleh keuntungan besar, sementara pelanggan dan konsumen merasa sangat dirugikan dan mengeluh,” tambah Rabibat, seorang ibu rumah tangga, yang dibenarkan oleh konsumen lainnya di Blangkejeren.

Menurut ibu rumah tangga tersebut, seharusnya pemerintah daerah bersama instansi terkait selalu mengecek ulang dan turun ke pasar maupun ke kios-kios agen pengecer. Dengan demikian dapat dipastikan berapa uang yang harus dikeluarkan oleh warga untuk mendapatkan gas bersubsidi tersebut. “Pemerintah harus turun tangan. Jangan pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu. Coba ceks berapa harga pastinya, apakah sudah sesuai dengan HET yang ditetapkan, ” tandas perempuan ini.(c40)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved