Terdakwa Pembunuh Asun Sekeluarga Dituntut Mati

Jaksa Mursyid SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh menuntut Ridwan alias Iwan dengan pidana mati

Terdakwa Pembunuh Asun Sekeluarga Dituntut Mati
RIDWAN Alias Iwan (22) pelaku pembunuhan terhadap Tjie Sun alias Asun sekeluarga, menjalani sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Banda Aceh, di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Senin (15/10). 

BANDA ACEH - Jaksa Mursyid SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh menuntut Ridwan alias Iwan dengan pidana mati. Tuntutan tersebut dibacakan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Banda Aceh, Senin (15/10).

Ridwan dinyatakan bersalah karena didakwa telah melakukan pembunuhan berencana yang mengakibatkan Tjie Sun alias Asun (48) bersama istrinya Minarni (40) dan putra mereka, Calliestos NG (8) tewas secara sadis di rumahnya di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Asun tak lain adalah majikan Ridwan.

Atas dasar itu jaksa menyatakan bahwa terdakwa Ridwan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana seperti diatur dalam Pasal 340 KUHPidana. “Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ridwan berupa pidana mati,” baca Jaksa Mursyid.

Dalam sidang kemarin, Ridwan, asal Desa Paya Seumantok, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya yang didampingi kuasa hukumnya, Ramli Husen SH itu tampak tertunduk di bangku pesakitan saat jaksa membacakan tuntutan terhadap dirinya.

Sementara itu, jaksa di hadapan majelis hakim yang diketuai Totok Yanuarto MH didampingi dua hakim anggota, Muzakir MH dan Roni Susanta SH hanya membacakan pokok-pokok tuntutan.

Pada intinya, dari fakta-fakta persidangan dan barang bukti yang dihadirkan ke muka persidangan dinyatakan bahwa Ridwan terbukti melakukan pembunuhan berencana dengan senjata tajam yang mengakibatkan hilangnya tiga nyawa orang lain.

Sebelum membacakan tuntutan, jaksa terlebih dahulu menyampaikan pertimbangan-pertimbangan yang memberatkan dan meringakan terdakwa Ridwan. Namun, dari dua pertimbangan itu, jaksa hanya memuat pertimbangan yang memberatkan saja.

Menurut jaksa, perbuatan terdakwa Ridwan telah menyebabkan orang lain meninggal, tindakannya tergolong sadis, dan meresahkan masyarakat, serta tidak adanya timbul penyesalan dari terdakwa.

Dalam persidangan sebelumnya terungkap bahwa terdakwa Ridwan membunuh majikannya karena merasa sakit hati terhadap ucapan Asun yang mengeluarkan kata-kata yang tak bisa diterima Ridwan.

Gara-gara itu terdakwa Ridwan menghabisi nyawa Asun, termasuk istri dan anak korban secara sadis, yaitu dengan menggorok leher korban. Kejadian itu terjadi di dalam rumah toko (ruko) yang sekaligus dijadikan sebagai gudang barang grosir milik korban di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Jumat, 5 Januari 2018 sekira pukul 14.30 WIB.

Terhadap tuntutan itu, terdakwa Ridwan melalui kuasa hukumnya, Ramli Husen menyatakan akan mengajukan pembelaan (pleidoi) tertulis pada sidang lanjutan, Senin (22/10) depan. “Untuk menanggapi tuntutan ini kami akan mengajukan pembelaan,” kata Ramli.

Ramli yang diwawancarai usai sidang mengungkapkan alasan pihaknya mengajukan pembelaan tertulis, karena sanksi pidana yang dituntut jaksa kepada kliennya itu terlalu berat. “Kita melihat hukuman yang diberikan jaksa terlampau berat. Dia melakukan itu spontanitas tidak ada perencanaan. Begitu datang emosi langsung melakukan,” ujar Ramli.

Untuk membela kliennya, Ramli menyatakan akan mencari celah hukum yang dapat digunakan. “Tentunya kita mencari hukuman yang seringan-ringannya. Walaupun kita tahu kejadian itu ada,” pungkasnya. (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved