Opini

Hutan dan Banjir

SETIAP kali musim hujan tiba, penduduk di kawasan yang biasa menjadi langganan banjir selalu merasa was-was

Hutan dan Banjir
Mongabay Indonesia / Junaidi Hanafiah
Hutan yang berubah menjadi perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Tamiang. 

Selain itu, ada kalanya juga penelitian atau pengamatan tata air hanya melihat satu aspek saja, yaitu penutupan vegetasinya saja, tanpa mengkajinya secara proporsional aspek fisik yang lain. Kurangnya penjelasan atau pembahasan secara menyeluruh berbagai faktor yang mempengaruhi tata air di suatu DAS ini juga sering menyebabkan timbulnya kesalahpahaman atau kontroversi. Untuk itulah, maka generalisasi tidak boleh dilakukan secara berlebihan.

Karakteristik tata air di dalam DAS ditentukan oleh kondisi berbagai aspek biofisik pembentuknya seperti iklim, geologi, geomorfologi, pedologi (tanah), topografi, luas DAS maupun bentuk penutupan lahannya sendiri. Kombinasi berbagai aspek tersebut di setiap DAS sangat bervariasi. Inilah yang menyebabkan setiap DAS memiliki respons yang unik untuk setiap terjadinya hujan.

Faktor berpengaruh
Di daerah tropika seperti kita, dalam kondisi normal curah hujan berkisar 1.800 mm sampai 4.000 mm pertahun dan musim kering atau musim kemarau tidak lebih dari 4 bulan. Tetapi ada kondisi-kondisi tertentu musim itu mengalami pergeseran dan curah hujan menjadi ekstrem. Tingginya limpahan curah hujan ini dikarenakan posisi geografis yang menyebabkan pergerakan udara dan uap air yang disinari matahari cepat menjadi sumber curah hujan.

Tingginya curah hujan pada suatu wilayah yang berhutan disebabkan dua hal pokok: Pertama, hutan yang biasanya berada di hulu DAS yang memiliki elevasi tinggi (pegunungan). Besarnya curah hujan di sini lebih dipengaruhi oleh faktor topografi dan elevasi dibandingkan dengan keberadaan hutannya. Dan, kedua, pengaruh turbulensi angin yang banyak membawa uap ar. Itulah sebabnya hulu DAS yang umumnya masih bertutupan hutan curah hujannya lebih tinggi. Berbeda lagi dengan karakteristik hujan secara lokal, selain ditentukan oleh interaksi daratan dan lautan juga interaksi gunung dan lembah.

Selain pada hutan pegunungan, pengaruh hutan terhadap besarnya curah hujan di suatu wilayah masih belum banyak diketahui dengan pasti. Banjir di daerah hilir biasanya merupakan air kiriman dari daerah hulu. Apabila banjir itu merupakan kejadian rutin tahunan yang sudah berlangsung lama sejak dulu, maka itu berarti bukan karena adanya pengaruh perubahan tutupan hutan di daerah hulu DAS.

Secara umum deforestasi meningkatkan debit air puncak banjir, laju erosi dan sedimentasi sungai. Jumlah air secara total meningkat. Peningkatan debit yang tidak diimbangi dengan distribusinya secara seimbang inilah yang sering menimbulkan bencana banjir di musim hujan. Banjir ini bisa menjadi luar biasa ketika intensitas hujan lebih dari 200 mm perjam. Benar bahwa hutan dan deforestasi mempengaruhi tata air di DAS. Tapi banjir, boleh jadi, bukan karena masalah deforestasi saja!

* Ir. Saminuddin B. Tou, M.Si., mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh. Email: btou293@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved