Rentetan Tembakan Bubarkan Massa dari Dua Gampong

Massa dari Gampong Sagoe dan Ujong Pie, Kecamatan Muara Tiga (Laweung), Pidie, Jumat (19/10) sekitar pukul 23.00 WIB

Rentetan Tembakan Bubarkan Massa dari Dua Gampong
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NAZAR
ANDY NUGRAHA SETIAWAN SIREGAR,Kapolres Pidie

* Nyaris Bentrok Akibat Sengketa Lahan

SIGLI - Massa dari Gampong Sagoe dan Ujong Pie, Kecamatan Muara Tiga (Laweung), Pidie, Jumat (19/10) sekitar pukul 23.00 WIB nyaris bentrok di lokasi tanah kosong yang mereka perebutkan. Warga yang membawa senjata tajam dan batu kemudian berhasil dibubarkan polisi setelah melepaskan rentetan tembakan peringatan ke udara.

Polisi bersenjata laras panjang bertahan di tanah sengketa yang kini dijadikan sarana olahraga tersebut hingga pukul 05.30 WIB. Tujuannya, untuk mencegah terjadinya bentrok susulan antarwarga dari dua gampong tersebut.

Beberapa saat setelah polisi meninggalkan lokasi atau sekitar pukul 08.30 WIB, massa dari dua gampong itu kembali mendatangi tanah yang dipersengketakan tersebut. Mengetahui hal itu, aparat bersenjata laras panjang bergerak lagi ke tempat dimaksud. Kali Ini, personel Brimob Polda Aceh dengan dibackup TNI dari Kodim 0102 Pidie ikut membubarkan massa yang sudah terselut emosi.

Petugas pun kembali memuntahkan timah panas ke udara untuk membubarkan warga. Suara tembakan untuk kedua kalinya tersebut menyebabkan massa memilih meninggalkan lokasi. Suara rentetan senjata itu mengakibatkan dua pelajar SMPN 2 Curee, Kecamatan Muara Tiga, pingsan. Sehingga mereka harus diboyong ke puskesmas terdekat. SMPN 2 Curee hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari tanah yang diperebutkan warga.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, kepada Serambi, Sabtu (20/10), mengatakan, warga Gampong Sagoe dan Ujong Pie itu nyaris bentrok karena berkembang informasi bahwa tiang gawang yang ada di tanah itu sudah dirusak.

“Saat memisahkan warga yang sedang mengamuk, dua anggota kita terkena lemparan batu. Kendati sempat diobati di Puskesmas Muara Tiga, namun kondisinya tidak fatal. Seorang warga Gampong Sagoe juga luka ringan akibat terkena lemparan batu,” jelas Kapolres didampingi Dandim 0102/Pidie, Letkol Arm Wagino, dan Wakil Bupati Pidie, Fadlullah TM Daud ST.

Disebutkan, polisi bertahan di tanah yang diperebutkan warga itu hingga pukul 05.30 WIB. “Petugas bertahan di lokasi sampai pagi, guna menghindari bentrok susulan antarwarga,” ujarnya. “Kami minta maaf kepada pihak sekolah karena ada pelajar yang pingsan. Suara tembakan itu hanya tembakan peringatan ke udara, bukan tembak menembak seperti yang beredar di video melalui media sosial (medsos),” tegas Kapolres.

Kini, tambahnya, sekitar 300 petugas dari Polres Pidie, Brimob, dan TNI serta kendaraan perintis (rantis) sudah disiagakan di tanah yang diperebutkan oleh warga dari kedua gampong tersebut. Bahkan, di tengah tanah itu dipasang tenda sebagai tempat beristirahat bagi petugas.

“Kita menyiagakan petugas di lokasi itu, agar tidak terjadi lagi bentrokan massa dari dua gampong tersebut. Untuk sementara kita belum tahu kapan pasukan itu ditarik. Kita juga sudah mengimbau kepada warga kedua gampong tersebut agar tak lagi mendekati lapangan yang mereka perebutkan itu,” pungkasnya.

Wakil Bupati Pidie, Fadlullah TM Daud ST, yang turun ke Laweung, kepada Serambi, kemarin, mengungkapkan, tanah yang diklaim milik Gampong Sagoe dan Ujong Pie sudah pernah diselesaikan Pemkab melalui tim penyelesaian tapal batas.

Bahkan, saat itu tim sudah memberikan dua opsi yaitu tanah tersebut diselesaikan secara baik-baik sesama warga atau tanah itu akan dijadikan aset Pemkab jika opsi pertama gagal. “Tapi, opsi kedua belum kita lakukan karena Pemkab masih memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk berdamai,” kata Wabup saat jumpa pers di Mapolsek Muara Tiga.

Ditambahkan, kasus tapal batas itu harus diselesaikan secara prosedur. Sesama warga dilarang bentrok karena bisa berdampak jatuh korban jiwa. Sebab, masalah tapal batas bisa diselesaikan secara baik-baik dengan mengedepankan kepala dingin.

“Jika sudah terjadi lempar-lempar batu hingga harus turun petugas, itu berarti bukan untuk menyelesaikan tapal batas, tapi sudah berujung konflik,” pungkas Fadlullah.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved