Lagi, Kejari Pijay Tahan Dua Tersangka Korupsi

Kejaksaan Negeri (Kejari) Pidie Jaya (Pijay), Rabu (31/10) siang, kembali menahan dua tersangka dalam kasus korupsi

Lagi, Kejari Pijay Tahan Dua Tersangka Korupsi

MEUREUDU - Kejaksaan Negeri (Kejari) Pidie Jaya (Pijay), Rabu (31/10) siang, kembali menahan dua tersangka dalam kasus korupsi pada kegiatan pelayanan alat kesehatan rujukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kabupaten itu berupa meja dan kursi atau funiture nurse station. Kedua tersangka itu adalah Ra’jab selaku makelar proyek dan Fauzi selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

Keduanya disangka turut terlibat dalam korupsi terhadap Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2016 dengan nilai kerugian negara Rp 250 juta atau setengah dari nilai proyek yaitu Rp 573 juta yang tidak direalisasikan 100 persen.

Untuk diketahui, sebelumnya atau pada Rabu (24/10) lalu, Kejari Pijay juga turut menahan dua tersangka dalam kasus yang sama. Kedua tersangka yang merupakan rekanan proyek tersebut adalah Hasan Basri Jalil dan Jailani SP bin M Gade.

“Hasil penyidikan, kedua tersangka ini menyelewengkan DAK 2016 dalam pengadaan kursi dan meja atau funiture nurse station pada ruang rawat inap RSUD Pijay,” ungkap Kajari Pidie Jaya, Basuki Sukardjono SH MH, melalui Kasi Intelijen yang juga Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi, Sutrisna SH, kepada Serambi, Rabu (31/10).

Kedua tersangka tersebut, menurutnya, juga merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pijay. Ra’jab kini menjabat sebagai Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Sementara Fauzi tercatat sebagai staf pada RSUD Pijay.

Menurut Sutrisna, mereka akan ditahan 20 hari ke depan mulai 31 Oktober sampai 19 November 2018 di Rumah tahanan negara (Rutan) Kelas IIB Sigli, Pidie. “Mereka kita tahan karena terancam pidana penjara lebih dari lima tahun serta dikhawatirkan melarikan diri atau menghilangkan barang bukti,” jelasnya.

Dalam menjalankan praktek korupsi, sambung Sutrisna, Ra’jab yang berperan sebagai makelar proyek memenangkan tender pengadaan barang funiture nurse station untuk CV Aceh Daroy Indah. Setelah itu, Ra’jab menyerahkan kepada Jailani M Gade selaku kontraktor pelaksana untuk mengerjakan proyek tersebut. Seharusnya, tender itu diikuti Khairunnisa, istri Hasan Basri.

Faktanya, dalam pelaksanaan proyek ditemukan adanya progres yang tidak terlaksana sebesar 100 persen.

“Hasil perhitungan sementara, kerugian negara dalam kasus ini sebesar Rp 250 juta,” ujarnya.

Sementara Fauzi melakukan tindak pidana korupsi dengan cara menandatangani Surat Perintah Langsung Barang dan Jasa (SPLBJ) sekaligus mengajukan permohonan pembayaran kepada Bendahara Pengeluaran untuk progres 100 persen. Sementara pekerjaannya tak seluruhnya terlaksana alias tak dikerjakan 100 persen oleh CV Aceh Daroy Indah selaku pemenang tender. “Sehingga terjadi kerugian negara hingga Rp 250 juta,” jelasnya.

Ditambahkan, kedua tersangka dinyatakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 jo Pasal 18 UU Nomor 13 Tahun 1999 seperti diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengam ancaman kurungan penjara lebih dari lima tahun.(c43)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved