Limbah Blok A Diperiksa

Explorasi umur minyak dan gas (Migas) di Blok A, Lapangan Alur Rambong, Gampong Manee Rampak, Kecamatan Julok

Limbah Blok A Diperiksa
IST
Kondisi sumur minyak tradisional di Dusun Bhakti, Gampong Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur 

* Melimpah ke Lahan Warga dan Jalan

IDI - Explorasi umur minyak dan gas (Migas) di Blok A, Lapangan Alur Rambong, Gampong Manee Rampak, Kecamatan Julok, Aceh Timur mulai menimbulkan masalah. Limbah hasil explorasi melimpah ke perkebunan warga, bahkan sampai menutupi badan jalan, sehingga warga melaporkan langsung ke Ombudsman di Jakarta.

Atas laporan masyarakat, perwakilan Ombudsman di Jakarta turun ke Aceh Timur untuk melakukan pengamatan dan melihat langsung kondisi limbah, kata Alvin Lie, anggota Ombudsman RI di sela-sela pertemuan dengan Bupati Aceh Timur di pendopo, Idi, Kamis (1/11). Dia mengaku sudah melihat langsung limbah cair di Blok A yang dilaporkan warga.

Dia menjelaskan untuk menindaklanjuti temuan itu, pihaknya membutuhkan informasi dari Pemkab Aceh Timur, khususnya tentang dokumen perizinan dan informasi lain dari beberapa kementerian terkait. Alvin menegaskan dalam sebuah perizinan, biasanya ada persyaratan yang harus dipenuhi sebuah perusahaan.

Dia mencontohkan, seperti melindungi pelaku usaha dan pekerja, termasuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Dikatakan, berbagai informasi dari berbagai sumber akan dikumpulkan, baik dari pemerintah, perusahaan migas, BPMA, Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup maupun Kehutanan, sehingga informasi yang dikumpulkan akurat.

Berdasarkan informasi itu nantinya, maka Ombusdman akan memberikan saran ke pelaku usaha, sehingga pelayanan publik di Aceh Timur tidak terganggu. “Untuk menindaklanjuti kasus ini, kami butuh waktu dua sampai tiga bulan untuk mendapatkan kesimpulan,” ujarnya.

Prihal hasil observasi atau pengamatan di lapangan, Alvin menyatakan melihat sendiri air melimpah dari area Blok A ke lahan warga, hingga menutupi badan jalan. “Seharusnya, proyek sebesar Medco seyogiyanya memiliki instalasi pengolaan yang baik dan setelah itu, baru dialirkan melalui parit,” harapnya.

Alvin menjelaskan persoalan limbah dan dugaan pencemaran lingkungan di Blok A akan ditindaklanjuti dan dibahas hingga tuntas. Tetapi, katanya, informasi yang akurat harus didapat, khususnya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian ESDM.

Sementara itu, Bupati Aceh Timur H Hasballah HM Thaib, dalam pertemuan dengan pihak Ombusdman RI melaporkan sejumlah persoalan. Di antaranya, kondisi lingkungan warga yang tercemar akibat limbah cair dari Blok A PT Medco E&P Malaka dan juga sampah yang dibuang sembarangan.

“Kita sudah berkali-kali mengingatkan pihak perusahaan dan subconnya agar pengelolaan sampah dan limbah disesuaikan dengan ketentuan,” kata bupati yang akrap disapa Rocky itu. Orang nomor satu di Aceh Timur ini juga melaporkan ke Ombusdman terkait sengketa lahan warga dengan Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan perkebunan.

Kemudian, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) PT Medco E&P Malaka dan sengketa lahan pemerintah yang digugat. “Mudah-mudahan, persoalan ini segera selesai,” harapnya. Dia menegaskan perusahaan migas wajib mengurus IMB kontsruksi sebelum bangunan dibangun.

“Kita akui, IMB sementara sudah diurus oleh Medco E&P Malaka, tetapi IMB permanen wajib diurus, karena soal IMB sudah diatur oleh Undang-Undang,” ujar Bupati Rocky.

Dalam pertemuan itu, turut dihadiri Sekda Aceh Timur, M Ikhsan Ahyat; Asisten I Drs Zahri, Asisten II Usman A Rachman, pejabat Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) dan beberapa pejabat dari sejumlah instansi terkait.(c49/rel)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved