Wawancara Steffy Burase

“Aceh dan Pak Irwandi Menyadarkan Saya untuk Hijrah”  

Saya sudah meninggalkan segala hal-hal yang berbau dosa walau satu-satunya yang sulit sekali diubah adalah cara berpakaian saya.

“Aceh dan Pak Irwandi Menyadarkan Saya untuk Hijrah”   
SERAMBINEWS.COM/instagram steffy burase
Steffy Burase dalam satu kesempatan Umrah 

Apakah Anda punya cerita tentang kesan religius apa saja yang paling bermakna dalam hidup Anda sekarang?

Ya, ketika mendengar orang yang paling saya cintai mengatakan kepada saya dalam waktu singkat dia udah dua kali menamatkan baca Quran. Itu rasanya jauh lebih bahagia daripada mendapat mobil mewah.

Baca: Mantan Pramugari Steffy Burase Ungkap Doktrin Awak Kabin, Siap tidak Pulang Setelah Pesawat Take Off

 Oya, saat ini lagi heboh soal berita pesawat Lion Air jatuh. Sebagai mantan pramugari apa tanggapan Anda?

Masalah pesawat jatuh, dulu 2013 saya pertama kali bergabung ke dalam dunia airlines. Harus saya akui duduk sebagai penumpang dan duduk sebagai cabin crew rasanya sangat berbeda. Mentally maksud saya. Ketika uniform terbang terpasang di badan, mental kami sangat berani.

Kami sudah didoktrin sejak awal tentang risiko kerjaan yang kami hadapi. Keselamatan penumpang adalah tugas utama kami walau banyak penumpang yang berpikir bahwa tugas utama kami adalah sekadar melayani makan dan minum mereka dalam pesawat.

Baca: Mantan Pramugari Senior Steffy Burase: Di Airlines Kitab Suci’ Kami Adalah CARS

Ingat ketika salah satu instruktur saya (sudah alm dalam kecelakaan pesawat Shukoi) mengatakan bahwa ketika pintu pesawat sudah tertutup, setiap hari bisa kembali adalah berkat. Karena di sana kita tidak bisa lagi melakukan apa-apa kecuali atas kehendak Allah.

Selalu persiapkan diri untuk tidak pernah pulang. Saya ingat sekali kejadian itu dan sangat ketanam jelas di kepala saya sampai detik ini.

Mendengar kecelakaan pesawat sejak Adam Air jatuh, Sukhoi jatuh, Air Asia jatuh, yang mana isinya adalah semua teman-teman saya, membuat saya semakin sadar bahwa betapa Allah membukakan mata saya lebar-lebar bahwa saya harus mempersiapkan diri jauh lebih baik akan bekal apa yang akan saya bawa nanti ketika saya mati. Setiap kejadian itu sejujurnya agak menampar diri saya dan saya yakin begitu pun teman-teman seprofesi.

Apakah Anda pernah mengalami kejadian yang menghkawatirkan selama penerbangan?

Masalah teknis yang terjadi bisa bermacam-macam. Misalkan Human error, bad weather, atau kondisi pesawat itu sendiri. Di Airlines kitab suci kami adalah CASR (Civil Aviation Safety Regulation).

Baca: Lima Nelayan Aceh Tamiang Dihukum Masing-masing 6 Bulan Penjara di Malaysia

Seharusnya semua yang sudah diatur di situ tidak bisa dikompromikan, walaupun kecelakaan pesawat juga merupakan bagian dari takdir, tapi masalah safety adalah prority. Semoga ke depannya semua airlines tidak lagi menggampangkan hal-hal yang sudah menjadi aturan wajib dunia penerbangan.

Apa pengalaman yang paling Anda ingat dalam kabin pesawat saat menjadi pramugari waktu itu?

Pengalaman manis buat kami tentunya adalah selamat dari turbulance hebat. Kala itu pesawat bumping, penumpang berteriak, saya selaku chief pantry belakang harus memastikan tidak ada penumpang dan junior yang berdiri.

Saya (pernah) gedor-gedor pintu toilet mengeluarkan si bapak dari toilet yang sudah tidak mungkin balik ke kursinya karena kondisi guncangan, menarik si bapak dan memegang erat jangan sampe terlempar, memastikan junior saya aman yang sempat terpelanting kepala kejedot di lantai.

Rasanya mustahil saat itu saya bisa melakukan tiga hal dalam waktu bersamaan sambil memberikan pengumuman dengan suara sangat tenang agar penumpang tidak panik. Seperti mustahil tapi terjadi. Salah satu junior saya itu juga uda alm kecelakaan pesawat Sukhoi (Afatihah buat mereka). Sampe hari ini masih sangat memorable.(*)

Penulis: Ansari Hasyim
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved