Polisi Periksa Tiga Orang Saksi

Penyidik Polres Lhokseumawe memeriksa tiga saksi untuk menyelidiki kasus pengancaman terhadap MS (35)

Polisi Periksa Tiga Orang Saksi
ARI LASTA IRAWAN, Kapolres Lhokseumawe

* Kasus IRT Polisikan Oknum Anggota Dewan

LHOKSUKON – Penyidik Polres Lhokseumawe memeriksa tiga saksi untuk menyelidiki kasus pengancaman terhadap MS (35), Ibu Rumah Tangga (IRT) asal Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, dengan terlapor oknum anggota DPRK Aceh Utara, SF (45).

Selain ke polisi, wanita paruh baya itu juga sudah mengadukan persoalannya Dewan Kehormatan Dewan (BKD) DPRK, dan Partai Nasdem Aceh Utara. Berikutnya, MS juga melaporkan ke Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Utara.

Seperti diberitakan Serambi edisi Selasa (6/11), oknum anggota DPRK Aceh Utara, berinisial SF dilaporkan ke Polres Lhokseumawe pada Selasa (23/10) lalu. Dia dilaporkan MS atas kasus pengancaman dengan menggunakan pisau pada 16 September 2018 di kawasan jalan KKA, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

“Kita sudah menindaklanjuti kasus yang dilaporkan tersebut. Saat ini, penyidik sudah memanggil tiga saksi untuk dimintai keterangan guna penyelidikan,” kata Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim Iptu Riski Adrian kepada Serambi, Selasa (6/11).

Ketiga saksi diperiksa tersebut adalah korban, dan dua saksi lain yang mengetahui kejadian itu. Dua saksi ini mengetahui peristiwa pengancaman dari cerita pelapor. Sedangkan untuk saksi fakta atau yang melihat kejadian ini belum ditemukan penyidik. Karena, kasus pengancaman oleh oknum anggota dewa terjadi dalam mobil. “Karena itu, kita sedang mencari saksi fakta. Kasus ini masih dalam proses penyelidikan,” jelasnya.

Sebelum pemeriksaan terhadap SF atas laporan ibu rumah tangga tersebut, ungkap Riski Adrian, penyidik lebih dahulu akan mencari saksi lain guna dimintai keterangan.

Sementara Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara, M Atar dalam siaran pers yang diterima Serambi kemarin menyatakan, pihaknya mendukung upaya hukum terhadap oknum DPRK pelaku kekerasan terhadap perempuan. Bahkan, pihaknya berjanji siap mengawal proses hukum.

“Kami akan melakukan kajian dan hasilnya akan kami sampaikan ke Badan Kehormatan Dewan (BKD) Aceh Utara. Karena, kejadian ini di wilayah hukum Polres Lhokseumawe, kami juga akan melampirkan hasil kajian tersebut ke pihak Polres Lhokseumawe. Hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap penegakan hukum,” tegasnya.

Kasus pengancaman, kata Atar, merupakan delik pidana umum. Tentu saja, tindak kekerasan terhadap perempuan tidak bisa dibiarkan. Apalagi, pelakunya diduga oknum anggota wakil rakyat DPRK Aceh Utara.

Anggota DPRK Aceh Utara, SF membantah keras adanya pengancaman dengan menggunakan pisau terhadap MS. Dia mengaku, pada hari itu kesal terhadap dirinya karena ada persoalan pribadi. Akibatnya, ia merobek baju sendiri dengan menggunakan pisau. Karena ketakutan, MS minta turun dari mobil.

“Jangankan mengancam, menyentuh saja dalam konteks persoalan tersebut tak ada pada hari itu. Ini murni salah paham,” ungkapnya kepada Serambi kemarin.

Selain itu, aku SF, saat kejadian tersebut tak ada orang yang melihat. Karena dalam mobil hanya dirinya dan pelapor. Sedangkan kios dengan mobilnya berjarak sekitar 20 meter. “Kejadiannya di kawasan Kuta Blang, sudah masuk Kabupaten Bireuen,” pungkas SF.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved