Atas Nama Cinta, Mawar Diduga Diperkosa

GADIS berpostur mungil dan berkulit sawo matang itu harus menelan pil pahit. Di usianya yang masih remaja

Atas Nama Cinta, Mawar Diduga Diperkosa
Shutterstock
Ilustrasi.

GADIS berpostur mungil dan berkulit sawo matang itu harus menelan pil pahit. Di usianya yang masih remaja, Mawar (bukan nama sebenarnya), 17 tahun, dipaksa mengubur mimpi indah untuk berkeluarga. Sang pujaan hatinyalah yang justru mengubur mimpi indah yang dibangun Mawar. Ia diduga diperkosa sang kekasih.

Mawar tak bisa melupakan malam kelam di pengujung September 2018 itu. Meski ia tak ingat pasti tanggalnya, tapi yang pasti ia tak akan bisa melupakan begitu saja malam terkutuk itu. Kala itu, sang pacar mengajaknya ke luar untuk bertemu dan akan diperkenalkan kepada orang tuanya. Rumah pacar berada di desa tetangga, yaitu Laweung, Kecamatan Mutiara, Pidie. Kedua sejoli itu sepakat bertemu di pinggir jalan dan kekasihnya akan menjemput Mawar di tempat yang dijanjikan.

Namun, mimpi indah Mawar seketika menjelma jadi mimpi buruk. Di salah satu perbukitan di mulut hutan, ia diduga diperkosa oleh laki-laki yang tak lain pacarnya sendiri. Di sana malah telah menunggu kawan sang pacar dengan parang di tangan. Usai si kawan menunaikan tugasnya mengikat tangan Mawar dan mengambil paksa cincin emas 2,5 mayam dan sebuah handphone Cina android milik Mawar, giliran pacarnya beraksi dengan merenggut kegadisan Mawar.

Ya, perempuan lulusan SD dan sempat nyantri 2,5 tahun di Lampisang, Aceh Besar itu, telah kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Setelah melampiaskan nafsunya, sang kekasih mengantar Mawar pulang hingga ke simpang dekat rumahnya. Tangisannya pecah mengingat petaka yang menimpa dirinya.

“Saya kira dia laki-laki yang mau meminang saya. Jadi, saya tidak lagi menjadi beban hidup bagi abang, kakak, dan nenek saya,” ujar Mawar menuturkan kisah pilunya.

Nestapa telah menjadi teman baiknya. Ibunya sudah meninggal sejak dia kecil dan ayahnya kembali menikah lagi. Saat ini, ia tinggal dengan neneknya yang buta dan juga tidak bisa berjalan karena pinggangnya patah serta kakeknya yang renta. Bersama mereka tinggal seatap dengan seorang kakak perempuan yang menyandang status janda dengan seorang balita.

Mawar mengaku, baru dua pekan mengenal laki-laki itu melalui handphone. Lalu singkatnya, karena kepolosannya itu ia pun terus berkomunikasi hingga mengaku pacaran. Berawal dari salah sambung, hingga akhirnya peristiwa kelam itu pun terjadi. Atas nama sakit hati, dua hari berikutnya Mawar bersama keluarga memolisikan pelaku yang tak lain adalah kekasih hatinya itu.

“Saya harapkan adanya keadilan. Kami harap pelaku ditangkap dan dijatuhi hukuman,” pinta Mawar saat ditemui Serambi di rumahnya, Senin (5/11).

Sedang diusut
Kapolres Pidie, AKBP Andy NS Siregar melalui Kapolsek Muara Tiga, Ipda Maksum ditanyai Serambi, Senin (5/11) mengakui adanya kasus itu. Hanya saja ia mengaku, terduga pelaku belum ditangkap. Sebab, menurut polisi, saat korban dimintai keterangan untuk menguatkan proses pengusutan, korban terkesan plin-plan.

“Keterangannya tidak tetap. Saat kami sudah memperlihatkan foto sepeda motor terduga, lalu korban mengaku tidak tahu,” katanya.

Keterangan korban berubah-ubah, termasuk saat terduga akan diciduk di suatu tempat. Korban ikut dibawa dan disembunyikan dari jarak jauh, guna memastikan terduga. Namun, lagi-lagi korban mengaku tidak mengetahui.

“Jadi, kami bingung karena keterangannya tidak tetap. Saat ini kita terus proses mengusut kasus ini, sehingga bukti kuat untuk menangkap terduga. Kita akan mintai keterangan lagi dan kumpulkan bukti dari saksi lainnya,” imbuh Kapolsek Muara Tiga, Ipda Maksum.

Langkah berikutnya pihak polisi akan berkoordinasi dengan pihak Perlindungan Perempuan Anak (PPA) sehingga si korban bisa dibantu pendampingan.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan, Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie, Ir Ainul Mardiyah yang ditanyai Serambi, Senin (5/11) di kantornya mengaku, kasus ini sedang ditangani. Dia tegaskan, akan terus mendampingi untuk membantu korban. Hanya saja tentu butuh proses dan laporan lengkap.

“Kami akan terus berupaya supaya kasus ini bisa segera selesai,” pungkas Ainul. Mawar tentu tak sendiri. Di luar sana tak sedikit perempuan muda yang menjadi korban perkosaan atas nama cinta. (nur nihayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved