Muara Kuala Idi Dangkal

Tiga muara di kawasan Idi, mulai dari Kuala Idi Cut, Kuala Idi Rayeuk dan Peudawa, Aceh Timur sudah mengalami

Muara Kuala Idi Dangkal
Pekerja mengeruk dengan cara menyedot di muara Krueng Cangkoi yang dangkal dan selama ini boat nelayan sering kandas dan tenggelam ketika pulang dan pergi melaut 

* Nelayan Minta Dikeruk Segera

IDI - Tiga muara di kawasan Idi, mulai dari Kuala Idi Cut, Kuala Idi Rayeuk dan Peudawa, Aceh Timur sudah mengalami kedangkalan sejak lama. Kondisi itu membuat boat para nelayan kandas saat memaksa masuk ke muara atau harus menunggu air laut naik untuk masuk dermaga atau keluar menuju laut lepas dari dermaga.

Para nelayan Idi meminta Pemerintah Provinsi (Pemrov) Aceh melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) Aceh untuk segera mengeruk muala kuala yang sudah dangkal bertahun-tahun, akibat tumpukan pasir terpaan ombak membuat mulut kuala menjadi dangkal. Mereka juga meminta pembangunan jetty (penahan ombak) dilanjutkan.

“Beberapa tahun lalu, sudah dibangun jetty beberapa ratus meter pada kanan-kiri muara, tapi belum seluruhnya rampung dikerjakan,” ujar Mauzir SH, Ketua Forim Keuchik Darul Aman, Idi Cut, Kamis (8/11). Dia menyatakan muara kuala juga harus segera dikeruk, karena sudah sangat dangkal, sehingga menyulitkan boat nelayan.

Dia mengungkapkan nelayan harus menunggu air laut pasang agar bisa memasukkan boat ke dermaga untuk proses bongkar muat ikan. “Kondisi ini telah terjadi bertahun-tahun dan sangat menghambat kelancaran aktivitas nelayan, sehingga harus segera dikeruk dan pembangunan jetty juga harus dilanjutkan,” harapnya.

Dia menyatakan dua hal itu telah menjadi kebutuhan utama nelayan yang sangat mendesak dilaksanakan saat ini. Sedangkan muara dangkal tidak hanya terjadi di kuala Idi Cut, tapi juga terdapat di muara Kuala Idi, Kecamatan Idi Rayeuk, dan Kuala Peudawa, Kecamatan Peudawa, Aceh Timur.

Persoalan lain yang dihadapi para nelayan, kesulitan memperoleh solar subsidi di SPBU Kuta Lawah yang juga melayanai masyarakat umum. Para nelayana harus memiliki surat rekomandasi dari Dinas Perikanan Aceh Timur saat membeli solar, tetapi walau sudah mengantongi surat rekom, sebagian nelayan tidak juga bisa membeli solar, karena stok di SPBU terbatas.

Sehingga, sekitar 80 boat nelayan berkapasitas di bawah 30 GT di Kuala Idi Cut, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur tidak melaut. Mauzir SH, Ketua Forum Keuchik Darul Aman, mewakili para nelayan, Selasa (30/10/2018) mengatakan para nelayan tetap saja kesulitan membeli solar subsidi, walau sudah ada rekomendasi dari Dinas Perikanan Aceh Timur.

Sebelumnya, Bupati Aceh Timur, H Hasballah Bin HM Thaib meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh agar membantu Aceh Timur, alat berat jenis excavator amfibi untuk mengatasi kuala-kuala yang dangkal di Aceh Timur.

“Excavator amfibi bisa berjalan di laut sehingga mudah melakukan pengerukan muara kuala yang dangkal seperti di Kuala Peudawa, Kuala Idi, Kuala Idi Cut, dan kuala-kuala lainnya di Aceh Timur,” ungkap Bupati Hasballah yang akrab disapa Rocky saat menjamu Pimpinan Perusahaan Serambi Indonesia Mohd Din, di kediamannya pada Selasa (31/7/2018).

Persoalan muara dangkal yang terjadi di sejumlah pelabuhan di Aceh Timur selama ini, jelas Bupati, sangat mengganggu kelancaran aktivitas nelayan.

Karena, baik pergi maupun pulang melaut para nelayan selama ini harus menunggu air laut pasang. “Karena itu, jika kita sudah memiliki excavator amfibi maka semua kuala bisa kita keruk dengan mudah, sehingga saat nelayan pergi maupun pulang melaut tidak lagi harus menunggu air laut pasang,” ungkap Rocky, seraya mengharapkan agar Pemprov Aceh dapat menyahuti usulan ini.

“Kalau ini terealisasi, insya Allah semua persoalan kuala dangkal bisa segera diatasi, sehingga kesejahteraan nelayan pun meningkat,” ungkapnya. Tetapi, sampai Kamis (8/11), belum ada tanda-tanda pembangunan jetty dilanjutkan dan muara yang dangkal dikeruk.(c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved